Filterasi Doa-doa

 


Mencoba menerawang bagaimana skema harapan dibangun dengan konsep ketuhanan. Mencerna doa-doa yang dipanjatkan disetiap hembusan nafas. Merangkai hal-hal baik dari memikirkannya, kemudian memintanya kepada Tuhan agar dikabulkan, terwujud menjadi nyata seperti yang sudah dipikirkan sebelumnya.

Kembali mengingat beberapa kejadian yang lalu. Semacam mencari titik terang tentang hari ini dan kaitannya dengan masa yang sudah terlewat.

Dulu, saya pernah bertanya pada ibu, saya lupa persisnya saat usia berapa. Mungkin belum genap sepuluh, masih terlalu kecil untuk mengtahui banyak persoalan. Saya tidak tumbuh di keluarga dengan latar belakang akademisi. Biasa-biasa saja. Saya tidak tau pasti ibu tamatan apa, tapi saya yakin, dengan penuh kesederhanaan dan segala pengetahuan yang beliau ajarkan, ibu adalah orang yang cerdas.

"Bu, kenapa ya doaku gak dikabulin? Kalo belum, kok lama banget ya."

Ibu yang sedang melakukan atraksi mengendalikan api Quantum memalingkan wajahnya sebentar ke saya. Mukanya sedikit kaget, saya rasa ia kebingungan mencari jawaban, atau malah pusing bagaimana harus menjelaskan sesuatu yang rumit ke anak kecil yang bisa dipastikan tidak dapat mencerna cara kerja 'doa' dengan sempurna. Sebentar waktu kemudian, dengan diiringi senyum, ia memanggil saya, meminta saya mendekat ke area kerjanya.

"Tadi ibu udah doa kalau masakan yang lagi ibu masak, rasanya enak. Coba sekarang dicicip. Menurutmu udah enak belum?" Sambil menyodorkan kuah bening yang sudah ia ambil dengan sendok.

"Gak ada rasanya, tawar." Jawab saya dengan polos.

"Ya pasti gak ada rasanya, belum mateng, belum ibu tambahin garam, belum ada bumbu lain selain bawang dan daun salam. Apa doa ibu gak terkabul?" Ia malah balik bertanya ke saya.

Sekarang, bola bingung yang saya lempar ke ibu, diumpan lagi ke anaknya. Saya yang tidak tau mau jawab apa, langsung melengos, kembali lagi ke tempat semula, mencoba duduk tenang menghadap TV, berharap ada kalimat pamungkas dari ibu.

"Jadi gini.." Tetiba mimik wajahnya jadi serius. "Ya gimana masakan ibu bisa enak kalo gak ditambahin apa-apa. Gak cuma doa aja, harus ada usahanya, ada garemnya, ada ladanya, ada kecapnya." Lanjut ibu. Saya ngangguk, mencoba memahami sambil mengguman dalam hati, doa ini sebetulnya memiliki peranan atau tidak sama sekali. Harusnya usaha saja yang keras, pun berdoa tanpa usaha akan tetap sia-sia.

Berlalunya waktu, bertambahnya usia dan berkembangnya pandangan terhadap berbagai aspek kehidupan, kuah bening yang ibu sodorkan ke saya merupakan analogi paling masuk akal. Sekejap penjelasan paling sederhana yang bisa dicerna.

"Emang kamu doa apa?" Ibu bertanya lagi ke saya, pertanyaan ini lagi-lagi membikin saya kaget. Bimbang, bagaimana menjelaskan imajinasi yang ngawur ini ke pemikiran orang dewasa yang tidak lagi sempat berhayal? Buat saya, ke-rasionalan orang dewasa adalah bencana. Kenapa? Ya, tentu karena sukar menerima takhayul. Tapi tetap saja, mereka meyakini dan menggantungkan harapannya pada doa-doa. 

"Rocky, bu, aku doain punya sayap biar bisa terbang kayak entok."

Rocky adalah kambing jantan yang saya pelihara sejak bayi. Induknya mati, tak lama setelah mereka lahir. Saya mulai berdoa Rocky punya sayap ketika usianya masuk dua minggu, saat ia lebih memilih teh manis hangat ketimbang susu bayi. Rocky tak lagi mendapatkan susu dari sesamanya. Waktu itu kemasan susu kambing masih langka, dan tidak ada induk kambing lain di sekitaran tempat saya tinggal. Jadi, tumbuhlah ia bersama Rockly, saudara kambing betina serahim dengan tubuh kuntet dan perkembangan berat badan yang lambat. Sampai usia lebih dari satu bulan, Rocky dan Rockly hanya konsumsi teh manis dan bubur Sun saja.

"Nda, gak semua do'a mesti terkabul. Ada syaratnya, liat-liat juga. Mungkin bisa, mungkin gak sekarang, dan jangan lupa juga usahanya juga." Kali ini mimik muka ibu makin serius. Tatapannya bak hujan mata pisau, menghujam kencang tanpa ampun.

"Tapi, ya, yang masuk akal jugaa! Kalau kambingmu punya sayap, terus terbang, wah, ibu gak kebayang." Sambungnya. Wajah serius tadi pecah, perlahan mencair dihiasi senyumnya yang amat berkilauan. "Do'a disaring, Nda. Dilihat juga usahanya. Ada do'a, ada usaha, ada kemungkinan, ada keberuntungan." Ia masih melanjutkan ucapannya.

Makin saya memaknai yang ibu bilang, mungkin saat ini saya masuk golongan yang beruntung dengan segala keinginan yang terwujud tanpa melibatkan doa. Atau, berbagai keberuntungan saat ini merupakan do'a orang lain, do'a ibu, do'a ayah, tanaman dan do'a-do'a yang lain.

Pun ada benarnya kata ibu, jika semua do'a terkabul, akan jadi apa dunia ini.

Sepasang gelandangan duduk bersandar di pertokoan. Ratapannya menuju bank di sebrang jalan, mereka berdo'a mengharapkan uang seisi bank tersebut menjadi milik mereka, mengisi penuh gerobak yang menjadi tempat tidurnya.

Jika terkabul?

Ya, do'a memang disaring.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »