Sebidang Harapan Di Halaman Belakang

 


Setengah semester ini, sosial media diramaikan dengan tingkah konyol pemerintah, silakan lihat saja resume-nya di internet. Saya mulai jengah meliat kabar yang isinya amarah. Pun isu tentang korona saja hampir membikin separuh manusia bumi menyerah. Sekarang, lebih dari setengah penduduk indonesia khawatir dengan masa depan hidupnya. Kehancuran lingkungan dan hak-hak pribadi yang kian dirampas. Makan saja sudah susah, ditambah lagi aturan ini itu yang kian mempersempit gerakan. Tidak diberi asupan, nafas masih disengal.

Saya kira, dengan melakukan banyak perenugan, masalah akan terurai satu demi satu. Nyatanya tidak juga, yang ada perenungan tadi malah menambah masalah karena menyediakan ruang untuk imajinasi berlari lari.

Jadi begini, sedari kecil saya tidak suka keramaian, hadir dan ikut berkerumun malah membikin saya seperti dihujam badai pisau tumpul. Wajar saja jika saya kerap menghindari berpergian ke tempat padat. Suasana kampung, atau pinggiran kota dengan teman diskusi yang sesuai, saya rasa jadi formula paling pas. Tidak merasa dikejar dan terburu-buru, punya banyak pilihan, adem, ayem, tentrem.

Pejamkan mata sejenak, ambil nafas dalam-dalam, hembuskan.

Hal yang paling saya idamkan di hari-hari selanjutnya adalah punya tempat untuk istirahat tanpa gangguan bising kendaraan. Bangun pagi dengan pemandangan kabut dan hijau pepohonan, diiringi suara serangga hutan seperti tonggeret, jangkrik, juga kicau burung.

Ada satu pulau kecil di pinggiran Sumatera yang saya incar sebetulnya, harapannya saya mampu membeli lahan di sana, membangun peternakan dan mengolah pertanian. Makan dari hasil kebun sendiri, mengolah apa yang ada dan bisa dimanfaatkan.

Biar di tempat terpencil, bukan berarti menolak kemajuan, saya akan membawa serta teknologi ke pinggir peradaban. Tidak bisa dipungkiri jika akses untuk mengetahui seluruh isi bumi bisa dipegang dalam genggaman, deras dan tidak bisa dibendung.

Harapannya, kelak anak-anakku akan tumbuh dengan kemajuan yang terintegritas dengan alam. Kakinya kuat memijak, menumpu beban dan membantu masyarakat. Wawasannya tak terbatas sekat. Tujuannya sederhana, selain untuk kesenangan diri sendiri, saya juga ingin kelak anak saya punya banyak pilihan. Semisal dia bilang, “Bapak, aku mau belajar di Venus. Boleh?” Dan dengan gampang saya menjawab, “Boleh, urus paspor lintas planetmu, berkemas, lusa bapak antar. Siapkan bingkisan untuk makhluk yang kamu jumpai di sana.”

Tidak berhenti disitu, bayangan saya, kejutan akan selalu datang setiap hari. Bisa jadi durian yang saya tanam di halaman belakang akan terus berbuah sepanjang musim. Tidak perlu repot merencanakan melancong ke Medan, mampir ke Durian Ucok, dan menghabiskan banyak uang untuk sekedar menikmati hasil bumi yang bisa ditanam sendiri.

Sekeliling halaman belakang dipenuhi dengan pohon gamal, selain jadi pagar, pohon ini berfungsi sebagai tabungan pakan buat kambing-kambingku yang akan diumbar. Tidak ada pembatas besi, tidak ada konstruksi beton, pun pagarnya akan dibuaat jarang-jarang. Biar kambing membikin perbandingan antara rumput di halaman tempat tinggalnya, dan rumput milik tetangga. Saya dengan senang hati mendengarkan aspirasi para kambing tentang hak pakan dan kebebasan berlarian. Apabila masih masuk akal buat dituruti, kenapa tidak. Ayam, sapi dan dinosaurus juga boleh melakukan hal yang sama, protes jika ada yang tidak sesuai.

Letak rumahnya persis di pinggir pantai, hanya ada beberapa ruangan tertutup, kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, tempat ibadah, dapur, dan tempat kerja, semua terbuka. Arah hadapnya langsung ke laut. Material bangunannya berasal dari sampah kayu yang berserak di pantai. Ada sungai kecil, gemerciknya jadi lantunan penghantar tidur, juga ada kolam berendam yang dibikin semirip mungkin dengan kondisi mata air terdekat, berbatu dan bertingkat. Letaknya diantara dapur dan tempat kerja.

"Kamu mau makan apa hari ini? Biar aku cari dulu di kebun." Pertanyaan itu akan menjadi kalimat penghantar di obrolan kasur ketika aku dan istriku baru bangun tidur. Bergegas menilik bahan yang masih tertancap ditanah. Menyibak belalang yang lebih dulu datang untuk cari makan. Biar saja sawinya bolong. Tak apa labunya bopeng sebagian. Di sepetak lahan tadi, kita saling berbagi kehidupan.

Panel surya dan pico hydro jadi ujung tombak penerangan, gas di dapur berasal dari tabung metana yang berada di sisi kandang. Apa lagi yang kurang, Yang?

Sial, hari makin sore, agas sudah datang. Sudah waktunya pulang dan mandi, hayalan ini kita lanjut lagi besok, atau di kemudian hari.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »