Pungut, Roti dan Kopi - Andalas

 



Kali pertama ke sekian, Andalas merupakan tujuan yang belum pernah dijamah. Bukan tentang pesawat, bukan juga tentang berlayarnya kapal menuju barat, kali ini seperti petualangan segar yang baru saja dilakukan.

Terbang dimangsa pandemi membawa kegaduhan sendiri buat saya, orang-orang yang tak lepas dari masker dan handsanitizer saling duduk bersama, bersebelahan. Doanya: pulang pergi selamat. Padahal, ya, gak tau juga. Terlebih korona besarnya tak kasat mata.

Di pesawat, seorang ibu-ibu duduk disebelah saya, terjeda satu kursi, tidak semua kursi boleh diisi. Kepalanya selalu menengok jendela, pandangannya ke arah luar. Mungkin ia sedang menerka hebat, golongan apa yang akan selamat, orang baik macam apa yang akan bertahan dan terus sehat? Kami tidak saling tegur sapa, dihadapan wajahnya sudah terpasang face shield, bermasker dan berkacamata. Di waktu seperti ini, tampilan dengan protokol lengkap sudah menjadi isyarat, hentikan komunikasi, kita bisa sendiri-sendiri.

Biasanya, saya paling suka basa-basi, sekedar tanya, ibu mau ke mana? Atau hal lain yang jadi pangkal pembicaraan. Namun kemarin saya memilih diam, dan berharap ketiduran datang lebih cepat. Karena sadar, tidak pernah menyenangkan. 

Di Medan saya sudah ditunggu oleh Pak Pungut. Rekanan yang akan menghantarkan saya sampai lokasi pembangunan pusat rehab baru di Sumatra  Utara. Pak Pungut memberi saya clue untuk bisa menemukannya. Foto selfie menggunakan  baju polisi, hanya sebatas sandang saja. Secara pekerjaan, ia bukan abdi negara. Pak Pungut adalah aktivis satwa yang sudah cukup lama mendesikasikan hidupnya untuk berjuang dan memperjuangkan kemerdekaan makhluk lain.

Kualanamu menuju Desa Bukitmas, Besitang. Desa ini berbatasan dengan Aceh, sekira 20 menit lagi perjalanan, gerbang serambi mekah sudah kelihatan. Ada beberapa lintasan alternatif, namun Pak Pungut mengajak saya untuk melihat sekitar sebentar, seputar Medan dari sudut pandang perjuangan. Makam pahlawan, istana maimun, dan pecinan.

"Ini pusat ALS, pak." Pak Pungut memberi informasi detail, beliau layik sebagai pemandu tour internasional. Tentang ALS, bus ini sudah menjadi identitas Medan. Dulu, saat ada mobil melaju kencang dan ugal-ugalan, pengendaranya pasti dijuki supir Medan. Semelekat itu dunia jalan dan kearifan Medan.

Rute kami cukup panjang, kami beberapa kali singgah untuk cari peralatan, di Tanjungpura, saya sempat diajak mampir di salah satu toko roti yang konon sudah turun temurun. Bukan cuma jual roti saja, ada kopi, soto, sate, dan beberapa makanan berat lain. Toko Roti Restu, dijajaran kuliner Sumatra Utara, tempat ini sudah melegenda dan menjadi rekomendasi tempat wajib yang dikunjungi di Tanjungpura. Pun nuansa pertokoan di sini nampak lawas, bangunan kuno bekas peninggalan Belanda.

Untuk citarasa, menurut saya biasa saja. Olesan selai di punggung roti bakar terasa manis gurih, kopi yang disajikan kental. Cukup baik, saya belum menemukan sisi spesial berdasarkan citarasa. Mungkin kelegendaan tempat ini dibangun oleh nuansa magis Belanda dan konsistensi resep yang dilanjutkan turun temurun.

Tidak ada yang lebih nikmat dari masakan ibu, standar enak yang sudah dibangun sejak kecil. Barangkali, suatu hari nanti standar enak tersebut akan bergeser, dari masakan ibu, ke masakan kamu. Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »