Kebutuhan Pokok: Sandang, Pangan, Papan, Sambat


Hari ini saya memutuskan untuk bangun siang, menyambung mimpi agar tayang lebih lama. Sembilan hari kurang tidur karena harus lembur. Bangun sebelum bulan pergi, dan pulang saat purnama tepat berada diatas kepala. Saya menghabiskan banyak waktu di luar, ditemani terik matahari, dingin malam dan bintang-bintang yang berterbaran bersama debu, asap kenalpot, juga bising generator set. Sembilan hari yang panjang. Sayang dilewatkan tanpa sambat.
"Duh, abot." 
Demi memenuhi kebutuhan, saya, anda, mungkin lebih dari separuh penghuni bumi rela menghabiskan waktunya untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka suka. Dengan dalih "demi", semua dijalankan meski hati dan kepala tak pernah sepakat. Agar istri bahagia, biar orangtua lega, supaya anak tidak susah kelak, atau alasan lain yang saya yakin setiap kepala punya pembelaannya masing-masing. Sekedar membuat hati sendiri senang, tetangga diam. itu sudah cukup.

Berangkat dari keterpaksaan tersebut, sambat mencuat. Menyublim mempengaruhi udara sekitar, memperkeruh keadaan, dan membuat segalanya menjadi rumit. Berlebihan gak sih? Biar. Toh saya belum menemukan kenikmatan lain yang bisa menggantikan ngulet diantara dua tidur, dan sambat. 
"Duh, urip ki mung mampir ngombe, tur rekoso."  
"Di gawe penak, ngombe karo sambat."  
**
Sedari kecil, kita sudah diajarkan tentang kebutuhan pokok, tentang pemenuhan untuk hidup seperti orang kebanyakan. Berpakaian, makan yang cukup, dan punya tempat berlindung. Kehidupan modern membentuk kita untuk memiliki segalanya. Di Indonesia, kebutuhan dasar diistilahkan sebagai sandang, pangan, papan. Tapi seiring berjalannya waktu, kebutuhan pokok bertambah. Untuk saya pribadi kebutuhan dasar bukan lagi tiga hal yang itu-itu saja, tapi ada satu tambahan, yaitu: sambat.

Sehari tanpa sambat adalah kesunyian. Dan ketiadaan sambat merupakan kemustahilan. Ora ketang mung, huh. Pokokmen kudu sambat. Biarpun cuma, huh (menghela nafas panjang). Pokonya harus sambat

Sambat apaan dah?
Sambat (Bahasa Jawa) artinya mengeluh; keluhan; keluh-kesah. Istilah "sambat" belakangan ini juga lagi naik daun, efek Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, tapi diplestin sedikit jadi Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini. Media curhat berbasis misuh dengan beragam kedongkolan. Kamu bisa pantau sendiri di Instagram.

Balik lagi dengan sambat versi saya. Sebetulnya sambat gak negatif, biarpun kalo di Indonesia-in artinya ngeluh, tapi maknanya gak ngeluh. Tapi ngeluh. Saya sih gitu, bingung. Gak tau yang lain. Saya mengkonversi sambat menjadi motivasi, membangun mood, sekaligus membentengi diri dari rasa ingin menyerah. 
"Maka sambat lah ketika dirimu mulai lelah"
Sambat jadi kebutuhan pokok yang harus di nasionalkan, alasannya sederhana. Berbagi adalah cara paling sederhana untuk bahagia, jika sambat merupakan media berbagi cerita, maka berbahagialah.

Oh, satu lagi. Kamu boleh sambat, tapi jangan kebanyakan. Bikin kesel.
Sekian untuk sambat kali ini. Sampai jumpa.

Hidup!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »