IPK Rendah, Bisa Apa?

Seperti yang sudah kita ketahui, IPK merupakan indeks nilai capaian yang menjadi indikator keberhasilan seorang mahasiswa selama masa perkuliahan. IPK tinggi berarti pintar, jika rendah maka sebaliknya. Tersinggung? Sabar!

Mayoritas masyarakat memang masih sering menyudutkan para anak muda yang memiliki IPK rendah, tapi jangan berkecil hati, karena selama sistem penilaian masih berupa angka, maka pintar hanyalah kesepakatan yang lahir dari sudut pandang. 


Salah satu kekhawatiran orang tua terhadap IPK anaknya adalah "besok lulus mau kerja apa?"
BUMN bahkan swasta menerapkan standar IPK minimal 2,75 kurang dari itu berharap saja yang terbaik pada yang kuasa. Sementara, IPK-mu tidak lebih tinggi dari harga bawang. Sekali lagi, jangan berkecil hati. Bumi tidak akan berhenti merotasi walau perjuanganmu sudah setengah mati.

Pun banyak tokoh besar yang memiliki IPK rendah, bahkan banyak juga orang-orang yang bisa kaya tanpa sekolah. Lalu, IPK rendah bisa apa?

1. Berdagang


Berdagang adalah pilihan, buka toko klontong atau soto keliling merupakan opsi yang bisa dipilih. Jangan salah, penghasilan dari berjualan kebutuhan rumah tangga, perkakas, beras dan soto jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai negeri. Asal yang beli ramai, hati pasti senang. Paling tidak ada pemasukan, cukup untuk makan, bangun rumah, bahkan mematahkan omongan mantan yang dulu pergi karena IPK mu tak cukup untuk jadi pekerja yang berbakti.

2. Pengusaha


Pengusaha adalah idaman mertua. Saran kedua bisa langsung kamu terapkan setelah lulus, juga bisa dimulai saat masih menyenyam bangku perkuliahan. Karena belajar tak pernah bisa disalahkan. Kamu bisa membangun bisinis berdasarkan jurusan saat kuliah, atau merintis usaha lain dengan keahlian yang berhasil kamu curi dari teman, dosen, tetangga kosan. Terserah. Masyarakat tidak lagi melihat berapa IPK mu setelah sukses, melainkan seberapa berhasil kamu melewati proses. Kemajuan zaman makin memudahkan langkahmu, masalah referensi apa yang akan dibangun, google menyediakan jutaan peluang yang bisa menghasilkan uang. Usaha maksimal, uang pasti datang.

3. Bertani


Bertani harga mati. Paradigma belum berubah, bertani masih dianggap kuno, miskin, kotor dan hina. Kesimpulan tersebut saya ambil sepihak karena lingkungan ditempat saya berasal rerata berkerja sebagai petani, dan mereka yang bertani selalu memberi nasehat kepada anaknya "nak, kalau besar nanti jangan seperti bapak, jadi pegawai saja".

Padahal, dunia pertanian merupakan peluang yang begitu menakjubkan. Salah satu syarat negara jika ingin dibilang sejahtera adalah memiliki ketahanan pangan dan keamanan yang kuat. Tanpa perlu jadi sipil bersenjata, atau ikut bergabung dalam barisan militer, bertani juga bisa menjaga keutuhan bangsa, mencegah kelaparan dan yang paling jelas, menghasilkan banyak uang.

IPK bukan segalanya, jika perolehan nilaimu tak cukup untuk membuat orangtuamu bangga, maka cari jalan lain. Jadilah manusia mandiri yang mampu berdiri sendiri. Tidak memiliki gaji, tapi laba atas usaha sendiri.

Pedagang, pengusaha, petani, nelayan, pegawai negeri, polisi atau TNI. Semua sama saja. Pada dasarnya semua pekerjaan bisa menghasilkan uang. Dan yang paling penting, tetap merasa senang.

Semoga tiga saran tersebut mampu meringankan beban pikirmu wahai mahasiswa dengan nilai dibawah pujian. Jangan patah semangat, dan selalu bermartabat. 

Sila komentar jika ada masukan atau ada yang ingin kamu tambahkan.

HIDUP!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »