Yang Terucap dari Sudut Pandang Orang


Beberapa minggu terakhir saya cukup rutin untuk membersihkan sebidang lahan yang berada tepat di samping rumah yang saya sewa dengan beberapa teman lain. Lahannya bongkor, dan lebat. Sayangnya bukan lebat dedaunan hijau, tapi sampah. Orang-orang bilang dia (plastik, kaleng, dan barang pecah belah) sebagai sampah.

Lahan ini sangat tidak ramah, baik bagi manusia maupun ekosistem yang seharusnya ada. Pekarangan kotor ini malah dimanfaatkan oleh tikus, kecoa dan nyamuk sebagai rumah. Tidak ada keseimbangan disana. Sebagaimana harusnya ada laba-laba, kalajengking atau anthropoda lain yang hidup. Ada jangkrik yang menderik, ada burung yang singgah, dan makhluk lain sebagai penyeimbang.

Rutinitas pengembalian keseimbangan ini saya awali dengan melakukan pembersihan. Pada awalnya saya kira lahan yang bongkor tersebut hanya berupa tumpukan ranting dan daun kering sisa pembantaian pohon-pohon di sekitar. Ternyata, sial. Semua di luar dugaan.

Tumpukan yang menggunung itu adalah kumpulan dari seluruh perabotan rumah tangga, keperluan rumah tangga dan, hidup. Ya, hidup memang berat. Seberat langkah kaki orang-orang yang lebih memilih membuang barang bekas pakai miliknya ke sembarang tempat. Orang-orang yang memutus rangkaian ekosistem dengan menghancurkan rumahnya, dan membuatkan rumah baru bagi para hama tanpa mengontrol populasinya. 

Terhitung sampai hari ini, saya sudah menemukan beberapa potong pakaian, empat celana dalam, meja, kursi, tas, alat makeup, alat tulis, buku, piring, gelas, lampu, dan barang barang lain. Sayangnya tidak ada uang disana, hanya tumpukan yang dianggap sampah. Tumpukan dari barang-barang sisa nafsu prilaku konsumtif yang tidak disikapi dengan bijak. Bahkan ada juga beberapa makanan yang masih utuh, masih dalam keadaan tersegel, namun sudah dibuang. 

Apakah sejauh ini rancauan yang saya utarakan sudah  membuat saya terlihat gila?

Semoga tidak.

Sedari kecil saya sudah diajari dan banyak melihat tentang menanam, tentang sesuatu yang tumbuh, tentang meraka yang bergerak namun tak sempat terlihat. Yang menghasilkan oksigen tanpa dibayar, yang membuat udara sejuk tanpa meminta disanjung. Tanam dan tumbuh, atau yang tumbuh tapi tak ditanam. Plantae. Apa yang diajarkan dan dilakukan Ibu berhasil membuat saya untuk menirunya, berhasil memicu otak dan merubah sinyal visual yang biasa dilakukan Ibu menjadi kebiasaan. Menjadi hal yang menyenangkan, serta berhasil membuatnya sebuah kesimpulan berupa cita-cita.

"Memori Rindu Ibu", begitu saya menyebutnya. nanti akan saya lanjutkan jika ingin.

Lahan ini rencananya akan saya ubah menjadi, ... Saya juga belum tau pasti, kelak jadi apa, paling tidak lahan tersebut jadi lebih bersih, kepuasan saya sementara tertambat di situ. Jadi apa nantinya, que sera sera. Semoga bisa untuk berkebun.

Tanah yang saya bersihkan ini kebetulan bukan milik saya, milik Mas Nino, yang juga pemilik rumah yang saya sewa. Satu hal yang masih terngiang sampai saat ini, saya dibilang gila karena membersihkan tempat pembuangan sampah dan berusaha mengubahnya menjadi lahan produktif. Pun saya tak pernah tau alasan kenapa mereka bisa begitu mudahnya menuduh saya memiliki kelainan pisikis karena ingin melihat lahan yang bersih. Apakah kotor adalah kenyamanan? 

Secara pasti saya tidak mengetahui kenapa bisa dibilang gila, mungkin yang saya bersihkan bukan lahan milik saya sendiri. Lalu orang-orang berfikir saya dimanfaatkan untuk membersihkan lahan, setelah lahan bersih maka sang pemilik akan mengambil alih, setelahnya akan dibangun gedung baru dengan konstruksi beton. 

Hebat, mereka berfikir sangat jauh dan kompleks. Jadi, dimanfaatkan atau tidak, menurut saya hanya perkara sudut pandang. Saya melakukan semuanya tanpa dibayar dan tanpa disuruh, yang saya inginkan hanya melihat lahan tersebut berfungsi sebagaimana mestinya dan bukan sebagai tempat pembuangan sampah. Ketika sang pemilik akan mengambil alih, silakan. Toh saya tidak pernah berharap lebih. Namun akan saya pastikan terlebih dahulu jika sesuatu yang akan berdiri di lahan itu tidak membuat kerugian bagi kehidupan lain.

Saya dan pemilik lahan sudah sepakat, paling tidak, saya masih bisa melihat lahan tersebut tetap hijau, bersih dan asri dalam beberapa tahun kedepan.

Hal lain yang paling saya harapkan pada lahan ini adalah, kebermanfaatan. Selain saya mencoba bermanfaat, hasil dari lahan tersebut nantinya juga akan membawa manfaat bagi orang lain.

Perkara dibilang gila sudah biasa, saya cukup memasukan suara-suara gaduh tersebut ke telinga kanan dan langsung mengusirnya lewat kuping kiri. Menjadi masa bodoh.

Pokokmen Que Sera Sera. Edan yo ben.

~sonowl

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »