Maafkan Anakmu Yang Tidak Wisuda Tepat Waktu


Sebagai seorang anak yang memiliki tugas untuk membanggakan orangtua, telat diwisuda rasanya jadi beban tersendiri bagi para mahasiswa akhir yang tak lekas diambil baju toganya. Beban di pundak, IPK kecil mengikat.

Dilema hidup dimulai dari sini.

Warna warni indahnya masa awal kuliah seperti mulai pudar. Satu persatu teman pergi, beranjak melangkahkan kaki duduk dibelakang meja korporasi. Tidak semua, beberapa ada yang berdikari. Memilih berdagang, atau mensejahterakan diri dengan cara bertani.

Kampus terasa sepi, bukan tidak ada lagi orang, tapi tak ada teman yang bisa diajak berkenalan. Obrolan dengan adik tingkat sudah tidak berada dalam frekuensi yang sama. Janji gak ada semester tambahan, tapi skripsi tak kunjung usai, alasan ada nilai yang kurang, nyatanya diulang tetap tak lulus jua. D dan E jadi dominasi, nilai semesteran kaya pelangi, dipenuhi warna warni.

Hah, berhenti bersajak. Mari kita bahas sesuai kenyataan. Dimulai dari, "salah siapa?"
Tidak ada yang patut disalahkan, sejatinya terlambat wisuda merupakan sebuah keputusan. Banyak main, jarang datang kuliah, ujian datang terlambat. Merupakan runtutan kejadian sebelum pada akhirnya menjadi sebuah penyesalan. Dari berbagai sudut pandang, menyalahkan sesuatu bagi saya hukumnya haram. Terlebih, hal yang disalahkan merupakan kesenangan. 

Sebagai seorang mahasiswa akhir yang sudah melihat beberapa generasi dibawahnya wisuda, rasanya memang tak mudah untuk tetap tumbuh serta menguatkan hati agar selalu tabah. Berat, sulit yang sukar untuk diceritakan pada khalayak ramai, namun tetap tak bisa dipendam.

Kenyataan lain diluar perihnya tak punya teman untuk duduk bersandingan saat dosen menerangkan mata kuliah di kelas adalah tuntutan orangtua. Semandiri apapun sang anak sekarang, biarpun sudah terbebas dari dukungan financial. Tetap saja, orangtua dirumah sangat ingin datang ke wisuda anaknya. 

Pak, Bu. Maaf. 
Setiap menjelang akhir semester, kalimat itu selalu terucap. Tak ada prakata lain yang mampu menjelaskan jika "wisudaku mundur lagi". Sayangnya, tidak semua orangtua mampu menyikapi proses sang anak dengan bijak.

"Kamu harus lulus, segera! Jangan buat malu keluarga". Ya, faktanya memang seperti itu, terutama untuk para mahasiswa yang rumah asalnya berada di komplek. Dimana intensitas nyinyiran lintas telinga bukan lagi dibicarakan lewat bibir, tapi sudah sampai grup chat perkumpulan arisan. Sedih rasanya.
Padahal, sang anak sudah berjuang mati matian. Lembur laporan, revisi skripsian, dan mabuk-mabukan. Kali ini bukan alasan (lagi).

Dimata saya, kebanyakan sudut pandang orangtua selalu seperti itu. Mungkin tidak semua, hanya beberapa. Karena merasakan kuliah dengan cara lulus yang telat merupakan sebuah kebanggaan. Seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Mungkin orang lain melihat saya sedang terjebak dalam kerumitan menuju sidang yang entah kapan. Nyatanya, saya tetap santai. Menunda semua yang bisa ditunda. Kalau bisa besok kenapa harus sekarang?

Dalam penjelasan yang lebih rumit, sesungguhnya saya hanya tak ingin berada di balik megahnya kinerja rakyat korporasi. Saya memilih untuk tetap masabodoh dengan orang-orang yang bilang "nanti juga idealisme lu luntur".

Wisuda itu tanggung jawab. Entah kapan waktunya, tunggu aja.
Anak punya cita-cita, orangtua punya harapan atas anaknya. Selisih paham antara rencana anak dan keinginan orangtua selalu jadi perdebatan panjang. Jika salah satu pihak tak mampu kontrol diri, maka jadilah Malin Kundang selanjutnya. Durhaka.

Mari menitik beratkan pada proses ke tujuan, setelahnya baru hasil. Karena untuk pergi dari Jogja menuju Jakarta, jalan yang dilalui tidak hanya lewat Pantura. Kita bisa sedikit memutar lewat jalur selatan, atau berkunjung sebentar ke Surabaya. Selagi tujuannya adalah Jakarta, lalu dimana letak bedanya?
Proses!

Pak, Bu. Maaf.
Tolong sampaikan pesanku untuk para tetangga lewat grup chat whatsapp perkumpulan komplek itu. Aku akan lulus, sekali lagi aku mohon maaf jika tidak tepat waktu. Namun aku sedang mencari siapa aku, lalu aku akan meluluskan diri diwaktu yang tepat. Janjiku takan pernah buat kecewa kalian.

Sebagaimana aku menyayangimu, Pak, Buk.

~Sonowl

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »