Melati Memerah | Pisi Tipis



Apakah aku harus patah hati untuk menulis sebuah puisi?
Apakah aku harus menunggu hujan datang agar semua kata bisa terangkai?
Apakah aku harus melewatkan senja untuk bisa bercerita penyesalan?

Sang bijak bilang, guru terbaik adalah pengalaman
Tapi aku tak pernah ingin kehilangan
Biar hujan tak datang, biar senja terlewat
Asal kau tak terjerat dalam hati penuh siasat
Khawatirku tak akan tumbuh pesat

Iringan kalimat penghantar tidur selalu aku haturkan pada Tuhan
Dalam setiap akhir sebelum mata terpejam, dirimu selalu datang
Aku tak paham hukum alam, aku hanya mengerti tentang kerinduan
Jika pikiran terus menerka tentang penjelasan
Hatiku bisa apa?

Paruh waktu, malam berlalu, pagi datang lagi
Sayangnya, bayangmu terus menghantui
Andai hujan datang, pun semua tak cukup untuk membuatku tenang

Jika saja telepatiku terkirim dengan benar
Harusnya pahit kopi malam ini tidak kurasakan
Saat ini, satu satunya ketakutan yang paling aku rasakan adalah kepergian
Bahkan aku tak sempat berfikir barang satu kali untuk cari pengganti
Karena aku tak pernah percaya jika bersanding dengan cinta yang lain merupakan solusi

Persetan dengan romantisme kekinian
Senandung pujangga mungkin tak akan pernah kau dengar
Lantas, kenapa kau hadir lagi
Lalu, kenapa kau tak lekas menghampiri
Jika wujudmu hanya nyata dalam mimpi
Izinkan aku tak bangun lagi setelah tidur malam ini

Untukmu, melati yang tak lagi putih

~Sonowl




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »