Karena Menikah Bukan Sekedar Aku Sayang Kamu

Sumber Gambar: Google

Buat kebanyakan orang, menikah adalah puncak dari segala kebanggaan. Apalagi buat orang-orang di Indonesia yang notabene kalo mau berhubungan badan harus nikah lebih dulu. Kadang perkara ini juga sih yang jadi biang masalah, jadi nikah bukan perkara mudah.

Untuk melepas hasrat, kita harus terikat dan saling mengikat. Gak buat perbandingan dan gak lagi ngebandingin sama negara lain. Eropa misalnya. Karena keyakinan bukan buat becandaan. Iya, kepercayaan muslim sebagai mayoritas dan kebudayaan leluhur kita secara turun menurun mengajarkan untuk setia, gak berhubungan badan sembarangan. Cukup sekali seumur hidup.

Kalo nikah sebatas aku sayang kamu, aku udah ngajak nikah pasanganku dari dua hari yang lalu. Tapi gak semudah itu. Beberapa faktor penunjang harus terpenuhi diawal sebelum kita berucap ikrar. Memang gak melulu tentang rumah megah atau mobil mewah. Paling tidak, kedekatan dengan tuhan jadi salah satu bahan pertimbangan. Begitu juga dengan financial. 

Gak diamini sama semua orang, lagi-lagi ini hanya kesepakatan kolot yang sudah mengakar di kepala orang Indonesia. Pria harus bertanggung jawab dengan pilihanya. Siap menafkahi, mencukupi secara batin, dan membahagiakan pasangan sesuai porsi. Seolah semua poros beban berada di pundak laki-laki. Padahal gak sesederhana itu. Ketika sudah bertekat bulat untuk saling mengikat, tanggung jawab harusnya dibagi dua sesuai bagian dan kesepakatan. Perempuan juga berhak untuk berkarir, membentangkan relasi serta saling pikul untuk makmur.

Dalam hal yang lebih rumit. Menikah bukan tentang dua kepala yang saling cinta. Tapi dibelakangnya ada empat orangtua yang harus dimintai persetujuannya. Restu mereka layaknya  golden ticket untuk bisa sampai ke tahap selanjutnya.

Banyak pernikahan yang berakhir karena restu tak mendukung. Ada juga yang kandas atas irinya salah satu pihak dari orangtua. Gak nutup kemunginan lain yang bisa bikin pernikahan bercerai berai.
Banyak sudah contoh kasus biar kita bisa sama-sama belajar.

Makin hari mas kawin makin mahal, tambah waktu restu mempelai jadi gonjang ganjing akibat modernisasi ikut berperan.

Pada intinya, orangtua mana yang ingin melihat anaknya sengsara. Wajar jika batas minimal ditentukan, orangtua ingin lihat anaknya tumbuh mandiri dalam bahagia yang tak kenal henti. Kecukupan lahir dan batin. Persaingan antar tetangga tak semudah yang anak kira.

Semoga makin berjaya.
Teruntuk kalian yang sudah berani ambil keputusan sakral diusia muda. Kalian keren.
Salam hormat pake tangan kanan. 

~Sonowl





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »