Hidup Seperti Alan, Menjadi Tua dan Penuh Kelakar



THE 100-YEAR-OLD MAN WHO CLIMBED OUT OF THE WINDOW AND DISAPPEARED

Allan Karlson, lansia yang tak ingin merayakan ulang tahun ke-100 karena gubernur menjadi tamu undangan yang siap memberi sambutan khusus untuknya. Melompati jendela, dan bertualang, berteman dengan gajah, sampai membunuh beberapa preman. 

Sebelum menjadi tua dan membunuh beberapa orang jahat, masa muda Allan Karlson begitu penuh warna, andai benar semua cerita dalam buku yang sudah dicetak berulang ulang ini adalah kejadian nyata. Ah, sejarah untukmu Allan.

Allan kecil selalu berpikiran masabodoh, rasa ingin tahu yang besar, dan melakukan praktik langsung walaupun membahayakan. Pemikiran gila Allan merupakan hasil turunan dari ayahnya yang sudah berangkat ke surga hayalan saat Allan belum sepenuhnya paham tentang kematian.

Tumbuh remaja, Allan makin gila dengan daya upayanya menghasilkan peledak intensitas besar. Sekali waktu, Allan pernah membuat sapi di peternakan tetangganya keguguran karena suara dan getaran peledak yang dia coba di lahan bekas tambang belakang rumahnya.

Protes tetangga Allan tak pernah digubris, malah membuatnya semakin menggila. Dikesempatan lain, salah seorang tetangga Allan pernah menjadi korban ledakan saat melewati lokasi uji coba di lahan tambang. Mobil yang baru dibelinya terperosok terjun ke area tambang. Sialnya, secara bersamaan Allan menekan pemantik peledak yang sedang diuji olehnya. Boom, kepala tetangganya sampai di depan tempat Allan berlindung.

Pokonya Allan gila. Meluncur bertumbuh dewasa, Allan selalu beruntung, dia mengelilingi separuh dunia dengan semua kegilaan dan kepandaiannya. Sayangnya, sampai umurnya yang ke-100, Allan tidak diberkahi anak. Dia lebih dulu dikebiri dengan alasan; jangan lagi ada manusia seperti alan.

Ngeri ya Allan, cerita serunya gak bisa diulas dalam 1 X 24 jam. Intinya Allan selalu beruntung dan masuk golongan manusia keren dalam kisah fiksi.

Saya tidak ingin mengulas secara detail cerita dalam buku bersampul hijau nan jenaka ini, tapi ada beberapa point yang ingin saya sampaikan setelah dua minggu penuh merampungkan buku yang ditulis oleh Jonah Jonasson. Rampung membaca buku ini sudah saya lakukan berbulan bulan lalu, hampir lupa dan baru terpikir untuk saya ulas sekarang.

Terlebih, saya bukan pengingat yang baik apalagi sampai menceritakan ulang. Lebih baik kamu beli bukunya, baca sampai habis, lalu ambil hikmahnya.

Hidup seperti Allan.




Allan bukan pendengar yang baik, keluhan tetangganya hanya seperti angin lalu untuk Allan, dalam dunia nyata, terkadang aku dan kamu perlu melakukan hal ini. Masabodoh dengan takaran yang pas.

Allan selalu berhasil menempatkan diri dimanapun dia memijakkan kaki. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Cara bertahan dari kematian yang begitu menyenangkan.

Allan tak mudah menyerah, dia pernah membakar satu blok pangkalan militer saat menjadi tawanan perang, bukan disengaja, melainkan bentuk lain dari gerilya Allan agar mendapat kebebasan.

Kelakar yang dilakukan Allan bukan menjadi biang picu saya agar melakukan hal yang sama, saya cukup gila untuk diri sendiri, tapi belum siap dibilang gila oleh orang lain. Penghakiman masyarakat terlalu menyakitkan.

Kesimpulannya, cerita dengan alur maju mundur membuat otak seperti diacak acak. Jonah Jonasson sukses membuat saya betah berlama lama mengeja semua huruf yang dirangkai menjadi sebuah buku, keren. 10 jempol dari saya.

Bacaan yang menarik, semoga kamu tertarik.

Terima kasih sudah menyela waktu untuk membaca info tak penting.
Good Bless Kalian.

Salam Hormat pake tangan kanan.
~SonOwl

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »