Mengetahui Sifat Asli Manusia, Ajak Mabuk!


Sengsu pernah gak sih ketemu orang yang bilang gini "lagi gue tes aja, nanti juga nongol sifat aslinya", gimana? pernah denger yang kaya gitu gak?
Kalo omongan itu keluar dari mulut temanmu, tampol aja kepalanya, tonjok, atau siram dengan bensin dan bakar, buat dia sadar. 
Menurut saya sebagai pengamat soksial yang bertanggung jawab di ranah kekacauan, hal tersebut bukanlah sikap yang patut untuk ditunjukan ke orang lain, sedekat apapun kamu dengan temanmu, usahakan untuk tidak menunjukan sikap bahwa kamu sedang menguji orang lain, atau temanmu sendiri.

Dulu, dulluuuu banget, sahabat lama saya pernah tiba-tiba ngechat, bilang kalo dia mau ke Jogja dalam waktu dekat, dengan tegas saya langsung bilang, "yaudah bro, langsung aja. Mudah-mudahan gw bisa nemenin, nanti kalo tidur di kos gw aja, motor tinggal pake".
Selanjutnya dia gak ngasi kabar, hari berganti hari dan masih gak ada kabar kapan tepatnya dia mau ke Jogja.

Tiba-tiba dia pasang status, saya komen dan langsung tanya "gak jadi ke Jogja?". Kamu tau dia jawab apa?
"Gw cuma iseng ngetes lu, masih kaya dulu atau engga". 
Seketika tubuh saya seperti remuk, hancur berserakan, kalo di dalam sinetron, mungkin udah ada voice over yang menerangkan kekecewaan saya; "oh jadi gini cara lu berteman, sekian lama kita gak berkabar, dan ternyata pesan lu waktu itu cuma nge-tes gw, tunggu aja pembalasan gw". Tapi nafsu berkata lain, sepontan aja saya balas "kalo mau main mah main aja, pake ngetes segala, lu kira gua glukosa yang harus lewat tahap pengujian biar gak kena gula darah, dasar tai".

Biarpun terkesan sederhana, tapi kita gak pernah tau apa yang dirasain orang lain, intinya; simpan itu dalam-dalam. Jangan tunjukan pada siapapun, apalagi khalayak ramai.
Dalam berteman kita diharuskan memilah dan memilih, karena pergaulan akan membawa pengaruh yang besar dalam hidup kita, ada pepatah yang bilang;
"bertemanlah dengan tukang minyak wangi kita akan ikut wangi, berteman dengan dengan tukang minyak kita akan bau minyak"
Harusnya, kita sebagai manusia yang cerdas tidak mendeskripsikan secara sempit mengenai pertemanan, kita tidak boleh memandang hanya dari sisi yang sama, jika kamu punya teman yang menjengkelkan dari lahir, mungkin ada sisi lainnya, entah itu pintar, rajin menabung, atau giat beribadah. Pasti ada yang bisa kita ambil dan pelajari. Semua makhluk adalah guru, semua manusia adalah murid. Cerna baik-baik yaa, kalo kata Mbah Tejo; IQ melati gak bakal nyampe.

Sebenarnya banyak cara untuk mengetahui sifat asli temanmu, semakin lama kamu berteman dengannya, maka akan semakin banyak hal yang kamu ketahui tentang dia, kedekatan yang akan membangun kualitas kejujuran antara kamu dan temanmu. Tapi, jika kamu terburu-buru ingin mengetahui sifatnya ajak dia mabuk, sejatinya seseorang yang sudah melampaui batas sadarnya akan jujur sejujur jujurnya, dia akan menunjukan segala sesuatu tentangnya.

Contoh lagi nih, anggaplah saya punya tiga teman, saat mereka sehat; teman pertama, pendiam. Teman kedua, emosional. Teman ketiga, punya PD yang berlebih. Disuatu malam kami berkesempatan untuk berbincang dan bercerita bersama, dengan sentuhan sedikit alkohol tapi rutin, alhasil mereka berubah secara perlahan, teman pertama yang awalnya pendiam dan pemalu perlahan mulai bernyanyi, memainkan gitar dengan semangat, dan heboh. Padahal dalam keadaan sehat teman pertama tidak pernah seberani itu menunjukan dirinya, lalu kenapa dia berani saat mabuk? karena disisi lain dari dirinya adalah orang yang riang, namun ada sesuatu yang dia sembunyikan, mungkin kekurangan dari dirinya.

Teman kedua; emosional. Apakah dia tambah menjadi dalam keadaan mabuk? woo, belum tentu, jadi teman yang satu ini memang gampang banget tersulut emosinya, tapi saat kesadarannya di bawah standar, dia malah menjadi manusia yang mellow, sensitif dan terkesan cengeng. Usut punya usut, dia termasuk anak yang gagal tumbuh, artian gagal tumbuh yang saya maksud adalah; dia besar di lingkungan yang tidak sehat, menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar, merasa kurang di perhatikan akhirnya timbulah rasa bahwa emosi dapat menuntaskan segalanya, di dalam mabuknya dia bercerita banyak, dari mulai kehidupannya, kisah cintanya dan hal lain yang membuat dia terisak-isak seperti bayi.

Teman ketiga; ah gausah dibahas, dia udah terlalu jujur dengan dirinya sendiri.

Intinya; jangan menilai buku dari covernya, baca isinya, lihat referensinya, perdalam maknanya.
Hidup terlalu sengsara jika kita hanya memandang orang lain dari kesalahannya saja, menghujat sisi buruk tapi tak pernah mencari hal baik, terus mencaci tanpa pernah ada solusi.

Jadi begitu Su, sengsu. Ini hanya pengalaman dan opini pribadi sih, saya tidak pernah belajar ilmu tentang perasaan manusia, apalagi pisikologi, boro-boro sarjana, diploma ekonomi aja belum lulus, tapi kalo ada kesempatan mau juga sih. Saya sangat suka mengamati, mencari sisi lain dan memetik pelajaran yang menurut saya baik.

Berprasangka baik akan selalu berbuah baik.
Sekian untuk pembahasan tidak mutu ini, semoga Sengsu dapat mencerna dalam keadaan yang sehat tanpa terserempet alkohol, atau zat adiktif lainnya.

Terimakasih sudah membaca.
Sampai jumpa

~Son Owl

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

comments