Tujuan Mendaki Bukan Tentang Puncak, Tapi Kembali Dengan Selamat


Beberapa waktu belakangan ini saya sempat merasa heran dengan animo kaum muda yang suka pergi ke gunung. Ada yang pingin merayakan kelulusan, mengisi waktu luang, sekedar jalan-jalan dan berbagai alasan lainnya. Sebenarnya bukan urusan saya juga, mau mereka ke gunung untuk cari wangsit biar cepat punya pasangan atau menjadi kaya raya, bodo amat!

Tapi..

Sudah punya persiapan belum?

Photo by Son Owl
Disclaimer
Apa yang saya tulis merupakan buah keresahan dari sudut pandang saya pribadi, tidak untuk menyudutkan pihak manapun, apabila ada hal yang bisa diambil hikmahnya, silahkan dipetik menggunakan pikiran yang sehat. 


Sejak ribuan tahun lalu manusia sudah melakukan pendakian gunung, bahkan menurut kisah Mahabarata, Pandawa Lima yang terdiri dari Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima dan Yudhistira beserta Draupadi atau istrinya, menebas lebat hutan dan mendaki gunung Mahameru untuk dapat mencapai moksa. 

Berat ya? Yaudah dibuat ringan.

Menuju era modern aktivitas pendakian mulai berkembang dengan seabrek tujuan, bukan lagi untuk melakukan perjalanan spiritual, namun sudah berkembang ke arah penelitian, penjelajahan dan petualangan. Biarpun tidak bisa dipungkiri bahwa di jaman yang sudah serba instan ini masih ada kegiatan pendakian untuk tujuan spiritual. Namanya juga kepercayaan dan budaya leluhur.

Di tahun 1492 sekelompok orang yang dipimpin oleh Anthonie De Ville melakukan pendakian gunung di Mount Aguille, Prancis. Tidak diketahui apa tujuan pasti mereka melakukan pemanjatan pada masa itu, namun diperkirakan mereka melakukan hal tersebut untuk berburu kambing gunung yang diambil bagian daging dan kulitnya.
Sejarah pendakian terus berkembang, nama-nama baru terus bermunculan seperti Alfred Wills, Yan Carstensz, WW Graham dan puluhan manusia hebat lainnya yang mencatatkan sejarah dan prestasi dalam dunia pendakian. Indonesia juga punya sejarahnya sendiri tentang pendakian. Kapan-kapan deh dibahas.

Terlepas dari sejarah, pendakian saat ini lebih ke arah rekreasi, tak heran jika gunung sudah menjadi tempat yang komersil, dimana semua orang bisa naik gunung dengan mudah tanpa memperhatikan keselamatannya sendiri.
Biarpun saya bukanlah tipe manusia yang suka naik turun gunung dan punya wawasan luas tentang pendakian, tapi setidaknya saya memperhatikan kenyamanan dan keselamatan saya dalam melakukan pendakian.

Photo by Son Owl
Di banyak kesempatan saya pernah menemui "pendaki" dengan tingkat ke-ngacoan yang tinggi. Misal gini, naik gunung cuma modal niat, pake tas ransel kecil yang isinya beberapa bungkus indomie, alat tidur seadanya, tenda ditenteng ditangan sebelah kanan, dan tangan kiri bawa peralatan yang "katanya" kompor, terus pake sandal jepit dengan iketan tali rafia yang ngelibet ke segala penjuru kaki.
Apakah itu salah? salah atau benar bukan hak saya, tapi menurut saya kurang tepat aja, dan yang paling jelas, gak nyaman!

Gunung selalu punya pesonanya sendiri, dan yang gak bisa dipungkiri adalah resiko dibalik perjuangan untuk melihat keindahan tersebut. Setiap gunung pasti punya jurang, udara yang dingin, hutan yang lebat, hewan buas dan bahaya lainnya. Kita gak pernah tau apa yang akan kita alami disana. Hypotermia, Altitude Sickness, terperosok ke jurang, atau tersesat.

Saya pribadi punya ritual khusus sebelum melakukan kegiatan, seperti latihan fisik, persiapan peralatan, dan mempelajari medan. Buat saya, wajib hukumnya untuk mengetahui karakteristik lokasi yang akan saya kunjungi, hal tersebut akan menunjang persiapan dan perbekalan yang akan menjadi modal saya untuk melakukan sebuah perjalanan, dan ini diajarkan secara serius di Mapala tempat saya berproses.

Jadi apa yang harus dipersiapkan? yang jelas sesuai kebutuhan kamu dan kelompokmu Su, Sengsu. Dimulai dari peralatan pribadi, peralatan kelompok, peralatan makan, dan peralatan tidur. Jangan lupa fisik dan mental. 

Photo by Son Owl

Ada juga nih tipikal pendaki egois, yang ninggalin temannya untuk sampai puncak lebih dulu, jangan dicoba apa lagi ditiru ya Su. Bahaya!
Karena kesempatan untuk hilang dan tersesat lebih besar ketika Sengsu berada di gunung atau di hutan dalam keadaan sendiri. Kalo di kota sih masih banyak tempat untuk tanya, lah kalo di hutan? mau tanya sama pohon? atau rumput yang bergoyang?
Ada yang bilang, "jika kamu ingin tau siapa temanmu, ajak dia naik gunung", biar tau aslinya.

Saya gak begitu terobsesi dengan puncak, buat saya puncak hanyalah bonus ketika melakukan pendakian, yang paling penting adalah kembali dengan utuh, sehat dan selamat. 
Indah itu bukan yang dilihat, tapi tentang apa yang bisa dirasakan, kebersamaan dan saling menjaga satu sama lain.
Alam mungkin tempat bermain yang paling menyenangkan, tapi bermain-main dengan alam bukanlah hal yang baik.
Tetap safety dan selalu menjaga kebersihan.

Sekian untuk resah kali ini.
Terimakasih sudah membaca.
Sampai jumpa Su, Sengsu!

~Son Owl

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »