Pergi ke Bali dengan Waktu Indonesia Bagian Barat, Bahaya!


Dulu, waktu kecil saya pernah punya cita-cita untuk menjadi pilot, alasannya sederhana, biar bisa pergi ke mana-mana dan punya gaji yang cukup, cukup buat beli rumah, mobil, sama kawin. Seiring berjalannya usia, apa yang saya cita-citakan memudar, hal ini terjadi karena saya yang tidak menjaga konsistensi dengan diri saya sendiri, dan faktor lainnya adalah referensi cita-cita yang saya tau cuma sedikit, gak kaya sekarang, sangat banyak, sampe bingung mau jadi apa. Kuliah gak kelar-kelar, gak punya kerjaan, miskin lagi. Hell.
Tenang, miskin itu gaya hidup. *Defense.
Mungkin lebih baik kalo gak bahas tentang cita-cita, saya belum siap, berat. Biar Dilan aja.

Bicara tentang waktu, dari bayi kita udah diajarin kalo Indonesia dibagi menjadi tiga bagian, Indonesia Bagian Barat, Bagian Tengah dan Timur. Tapi apa jadinya kalo semisal Sengsu pergi ke daerah tengah atau timur, tapi masih pake patokan waktu bagian barat? Hmmm, bodoh!

Bagusnya hal ini terjadi dengan saya, semoga hal bodoh ini gak kamu tiru.
Kurang lebih satu tahun yang lalu saat saya masih berkerja disalah satu agensi tour dan travel yang berkantor di Jogja, kebetulan agenda survey kala itu tujuannya ke Bali, tugas kali ini memiliki misi yang cukup penting, yaitu cari stok foto dan cari destinasi baru, selebihnya cuma cek apa yang sudah di upgrade dari destinasi lawas.

Photo by Son Owl

Dari Jogja saya mengendarai seekor mobil yang saya kontrol sendiri, ditemani seorang tante yang gak pernah sadar kalo sudah duduk didalam mobil, dia sukanya tidur. Gak masalah sih, toh dia jauh lebih tua dari saya dan dia seorang manager, kan kampret. Rute yang saya tempuh sedikit berantakan dan beberapa kali salah ambil jalan. Jogja-Surabaya-Malang-Bali. Kesalahan pertama saat keluar dari Solo, harusnya saya ambil arah ke Ngawi, ini malah lurus ke arah Magetan lewat Karanganyar, saya tersadar setelah puluhan kilometer dan gak tau harus kemana. Akhirnya putar arah lagi dan mengikuti petunjuk jalan yang disediakan pemerintah.

Keadaan jalan yang sepi dan gelap adalah alibi saya buat nambah anggaran bensin, saat itu saya berangkat tengah malam, dan sampai di Surabaya kurang lebih pukul 10 pagi, setelah merampungkan segala urusan di Surabaya, mobil langsung saya pacu menuju Malang, gak begitu lama sih, ya kurang lebih sebelum magrib saya sudah di Malang untuk cek tempat makan bakso paling rekomended se-antero kota apel itu. Lumayan, makan bakso malang di Malang.

Beberapa mangkok dari berbagai tempat sudah cukup membuat perut saya penuh berisi remukan daging dan siraman kuah yang melebur menjadi satu didalam lambung sebelum diproses menjadi tai. Santai sejenak membuat saya berfikir, "nikmat mana lagi yang saya dustakan?" Oh, ada satu yang kurang, tidur. Belum sempat saya membayangkan untuk tidur, dering hp menyapa saya, dan suara yang terdengar setelah saya angkat telpon tersebut adalah "Langsung ke Bali Son, cek hotel dan resto." Saya cuma jawab "oke, siap."
Padahal dalam hati berkata lain "bangsat nih orang, buru-buru banget" (cuma dalam hati kok Pak)

Niatnya mau istirahat dan bobo maco di kota Batu, tapi gagal, karena ada perintah tambahan dari bos besar. Partner saya yang ikut dan kerjaannya tidur ini cuma bisa manggut-manggut.

Sepanjang perjalanan saya gak ambil gambar, selain gak sempet, stoknya juga sudah ada di kantor, jadi gak perlu ngabisin energi. Tapi sekarang baru nyesel karena gak punya aset gambar pribadi untuk kota-kota yang pernah saya singgahi.

Perjalanan saya lanjutkan melewati Pantura menuju ke Banyuwangi, sepanjang jalan saya terkagum-kagum, saya sempat melongo panjang saat melewati PLTU Probolinggo, cahaya bertebaran diantara lembah yang terlihat dari bukit, saya sempat berimajinasi kalau rumah saya nanti punya daya listrik sebesar yang PLTU Probolinggo hasilkan, jadi tetangga gausah repot nyambung listrik ke PLN, karena sudah saya kasih cuma-cuma, eh ngaco.
Saya sampai di Pelabuhan Ketapang sudah dini hari, jam 1 atau jam 2 saya lupa. Sudah gelap dan sepi.

Photo by Son Owl

Gak butuh nunggu lama untuk bisa naik ke atas kapal, paling antri cuma 15 menit, saya sudah dipersilahkan masuk ke kapal, dan perjalanan laut yang saya kira butuh waktu yang panjang ternyata hanya ditempuh 45 menit saja. Maklum, kebiasaan mudik ke Lampung, jadi pas turun kapal biasanya agak goyang-goyang, lah waktu nyebrang ke Bali malah kurang.

Kesialan saya tentang waktu dimulai dari sini, perbedaan sudah mulai kerasa tapi saya masih belum sadar kalo di Bali ternyata lebih cepat 1 jam, dan jam tangan yang saya gunakan gak saya setting ulang.
Semua berlalu begitu saja, dan saya masih terlena dengan kebiasaan Waktu Indonesia Barat.
Perjalanan saya lanjutkan menuju Kuta, mandi dan bersih-bersih di apartement Si Bos. Lumayan fasilitas geratis.
Sebelumnya, Si Bos sudah ngasih beberapa list tempat yang harus saya kunjungi dan ambil gambarnya, seperti GWK, Pantai Pandawa, Pantai Dreamland, dan beberapa tempat lain yang gak sempat saya kunjungi.

Saya harus ekstra cepat karena sorenya saya harus langsung pulang ke Jogja, karena besoknya ada ujian. Maklum waktu itu saya masih jadi mahasiswa tingkat akhir, dan sampai sekarang juga masih. Saat itu saya dipesankan tiket Air Asia tujuan Jogja keberangkatan pukul 17.45 WITA.

Setelah selesai mandi saya langsung menuju ke Krisna Bali, nganterin Tante Manager sekalian makan, ternyata macet lumayan parah, ritual kali itu ditutup dengan tas belanja yang segambreng, dan Tante minta diantar ke apartemen Si Bos, katanya mau istirahat.
Sayangnya tugas saya belum selesai, saya masih harus pergi untuk ambil gambar, tujuan pertama adalah GWK, saya tidak menggunakan mobil, tapi milih pake Go-Jek. Selain macet, saya juga gak tau jalan.

Buat saya, kepadatan aktivitas manusia di Bali gak ada bedanya sama semangkuk indomie goreng, kusut tapi menyenangkan. Apalagi di Bali banyak bule yang pada mau berjemur di pantai, seolah panas matahari hanya menyerang kulit, tapi yang dirasa mata adem dan semriwing. Di Jogja kan jarang ada orang sempakan doang.

Photo by Son Owl
Beberapa foto yang saya ambil di GWK (Garuda Wisnu Kencana), konon disini ada patung yang gede banget, sayangnya belum jadi, bagian-bagiannya masih terpisah, seperti tangan, kepala dan aksesoris tubuh lainnya. Dan kaya si babang Go-Jek, seandainya patung ini nanti jadi, dia bakalan lebi tinggi dari patung Liberty, tapi sedikit lebih pendek dari Monas. Rencananya 120 meter (kalo udah jadi). Tunggu aja, pasti bakalan jadi Landmark baru, baik di Bali atau Indonesia.

Photo by Son Owl

Ternyata, GWK ini punya luas 240 Ha, dan berada di bukit tandus yang sudah dikeruk-keruk di banyak bagian, kalo Sengsu gak tau apa isinya GWK ini, Sengsu bisa cari sendiri atau dateng langsung kesini, masalahnya saya juga gak sempet masuk, yakali 240 Ha mau di puterin setengah jam doang. Karena waktu yang terbatas, dan GWK sangatlah luas, akhirnya saya mencoba untuk mencari sisi lain dari objek wisata yang terkenal di Bali ini.

Dibalik proyek yang gak selesai ini, ada sisi lain yang menampilkan keindahannya tersendiri, biarpun rumornya di 2018 akan rampung, tapi proyek yang dimulai dari tahun 1997 sempat mandek karena alasan dana, katanya sih krisis. Ide maco ini digagas oleh seniman asal bali, Bli Nyoman Nuarta.

Photo by Son Owl
Kata babang Go-Jek yang anter saya, gedung yang terkesan kaya bangunan horor ini direncanakan untuk jadi lokasi pertokoan, tapi sayang malah terbangkalai, komplek gedung ini masih satu lokasi dengan tebing yang di keruk-keruk, jaraknya sekitar 100 meter saja. Oh iya, waktu saya ambil gambar ini, ada beberapa muda mudi yang lagi bersembunyi diantara sekat antar bangunan loh, paham aja deh. Salah satu tempat rekomendasi dari saya untuk Sengsu yang suka genre pacaran was-was.

Photo by Son Owl
Tempatnya asik sih kalo sekedar buat lari-larian sampe keabisan oksigen, atau main petak umpet untuk kurun waktu yang lama, kayanya kalo cuma 1 atau 2 tahun bisa lah gak sampe ketahuan.

Hal keren lainnya yang tidak saya temui disini adalah pedagang asongan, bersih gak ada sama sekali, kecuali di kantin yang udah ditentuin sama pengelola, rapih sih, tapi nyari wc nya agak ribet, perlu ngeluarin keringet dulu kalo mau kencing, jalannya jauh.

Nah, dari sini nih saya mulai lupa diri, lupa sama waktu dan tiket yang sudah dipesan dari sebelum saya sampai di Bali. Setelah dengkul mulai kerasa lemes, saya minta pendapat sama babang Go-Jek yang saya carter, saya kasih tau semua destinasi dan semua waktu yang saya punya. Dia melongo dan akhirnya bilang "ini mah gak mungkin cukup bli." Seperti dugaanku.
"Yaudah, kita kelokasi yang paling deket aja dari sini" jawabku sedikit panik.

Saya dan babang Go-jek melanjutkan perjalanan ke arah pantai, dimana Dreamland berada disana. Arah masuk pantai Dreamland sangat mengagumkan, lokasinya sedikit tersembunyi, terletak di Ungasan Pecatu, tepatnya di Kompleks Bali Pecatu Graha. Jalanannya agak menurun, dan banyak pemandangan hijau, pantai ini "seperti" milik pribadi, keren!
Ada lapangan golf, banyak patung, gedung yang artistik, wah nyeni banget dah.

Photo by Son Owl
Saat memasuki pantai, matahari sudah berada sedikit jatuh ke barat, gak kebayang kalo bisa menyaksikan sunset disini, biarpun matahari tenggelam adalah fenomena yang terjadi setiap hari, tapi tetep aja juara, indah dan mengagumkan.Sembari berinstirahat dan meyaksikan berbagai tingkah laku bule, saya sempatkan untuk nge-beer sambil ngobrol santai sama babang Go-jek.

Photo by Son Owl



Gemas rasanya liat bule yang hilir mudik, pengen ngajak ngobrol tapi gak bisa, bisa juga cuma yes, no dan beberapa kata penjelas lainnya yang saya yakin gak akan memberikan penjelasan apapun ke bule yang saya ajak ngobrol.
Photo by Son Owl
Panjang lebar saya mendengar dia bercerita, dari mulai pekerjaan, pacar, sampai permabukan. Dia juga sempat antar saya untuk beli Arak loh, luar biasa baik memang. Sekitar pukul 3 di jam tangan yang saya gunakan, saya meminta untuk pindah lokasi, mendekat sedikit ke arah bandara, katanya si babang disana masih ada pantai yang gak kalah bagus untuk lihat sunset.

Photo by Son Owl
Kalo yang ini pantai Segara, matahari yang tenggelam dibarat selalu ditemani perahu yang terombang ambing oleh ombak, di pantai ini kamu juga bisa lihat pesawat hilir mudik.

Karena saking asiknya ambil gambar, saya cuma sesekali liat jam, dan berprasangka "Masih jam segini, bentar lagi."
Masih punya sisa waktu 1 jam, biasanya check in 30 menit sebelum keberangkatan masih cukup, beberapa gambar berhasil saya ambil sebelum menuju bandara.
Matahari makin tenggelam, sore beranjak jadi petang, akhirnya saya putuskan untuk langsung pergi ke bandara, mobil yang saya bawa sengaja di tinggal di apartement Bos, rencananya dia mau ke Bali dan ingin menggunakan mobilnya sendiri.

Setelah sampai di bandara, saya langsung check in, menuju ke konter untuk mendapatkan boarding pass, namun alangkah kagetnya saya ketika si mbak penjaga konter bilang; "mohon maaf bapak, pesawat yang bapak pesan sudah berangkat 30 menit yang lalu."
Saya sempat ngeyel karena jam belum menunjukan waktu keberangkatan, saya sampai menunjukan jam di tangan saya kepada mbak penjaga konter tersebut.
"Kok udah berangkat? kok gak ada pemberitahuan kalo berangkat lebih awal?" tanyaku.

Si mbak konter senyum manis, dia mencoba menjelaskan, "maaf bapak, jam yang bapak lihat lebih lambat 60 menit dari waktu yang ada di Bali."
Duar... Bangke saya lupa kalo di Bali bukan WIB tapi WITA. Seketika saya lemas dan pasrah, saya juga nyoba tanya-tanya ke mbak konter untuk keberangkatan tujuan Jogja selanjutnya.
Mbak penjaga konter memberi tahu kalau masih ada satu keberangkatan lagi pukul 9 malam WITA, sayangnya sudah penuh, gak ada kursi yang tersisa.

Dengan penuh penyesalan saya menuju pintu keluar, jalan tergotai-gotai karena bingung mikirin gimana caranya sampe Jogja, padahal besok pagi jam 10 ada ujian.

Pada akhirnya saya beli tiket lagi, keberangkatan pukul 7 pagi menggunakan maskapai Lion Air. Dan memutuskan untuk numpang tidur di apartement si bos.
Paginya, saya juga hampit ketinggalan, tapi untung ada taksi setelah saya berjalan sekitar 2 km untuk cari angkutan. Jarak dari apartement si bos menuju bandara cukup jauh, butuh waktu 45menit.

Untungnya masih ada sisa waktu beberapa menit sebelum berangkat, pukul 7 dari Bali, pukul 7 juga saya sampai di Jogja.
Sial yang sedikit mahal, tapi setidaknya ada yang bisa saya ambil dan renungkan.
Terkadang, kita tidak bisa menyamaratakan semua hal, menganggap enteng dan menyepelekan begitu saja. Semua pasti ada resiko dan butuh pengorbanan.
Buat saya, kesenangan hanya ada di bibir jika tidak ada resiko di dalamnya, dan sebuah cerita tidak akan bertahan lama ketika tidak ada pengorbanan yang membuatnya selalu terkenang.

Oke deh, mungkin cukup sekian untuk cerita sial ini Su, Sengsu!
Terimakasih sudah membaca, kalo kamu punya pengalaman tentang perbedan waktu atau apapun, kasih tau aku di kolom komentar ya.
BALI BAGUS!

Sampai jumpa
~Son Owl


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »