Kayaking, Cara Deg-degan Paling Sehat | Cerita Pengalaman



Kayaking dan Rafting bukan lagi menjadi hal yang baru di Indonesia, biarpun belum begitu populer dan semua orang tau layaknya sepak bola, namun olahraga ini sudah punya banyak peminat. 
Menurut sejarah, perkembangan kayak merujuk pada suku Ainu, Aleut dan Eskimo. Pada awalnya kayak dibuat menggunakan kerangka kayu dan dilapisi kulit anjing laut, digunakan sebagai alat transportasi dan berburu.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kegunaan yang beragam, kayak dibuat dengan berbagai macam bahan, dan bentuk menyesuaikan dengan kebutuhannya. Ada yang terbuat dari bahan fiber, plastik solid (superlinear polyethylene), dan carbon. Jenisnya pun beragam, ada sea kayak (kayak yang digunakan dilaut), ada white water kayak (Kayak arus deras) dan macam-macam lainnya.

Saya pribadi belum pernah ngerasain semua sih, baru beberapa saja, seperti Sit on top Fishing kayak, Kayak Play Boat, Crack dan Inflatabe air kayak. Bedanya apa?
Menurut saya gak ada bedanya, semua menyenangkan dan menggunakan dayung, bukan mesin.
Kapan-kapan deh dibahas kalau skill dan ilmu sudah mumpuni.

Cerita dikit.
Awal mula saya bisa jatuh cinta dengan kayak saat pertama kali melihat bentuknya, "gila, imut banget, mainan apa lagi ini", dengan tingkat penasaran yang tinggi, saya berhasil minjem dan mencobanya. Kebetulan saat itu ada instruktur handal yang rela meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu.

Hal dasar yang diajarkan adalah cara exit, untuk pemula seperti saya, hal ini sangat penting, karena saya gak yakin bisa tetap seimbang saat melintasi jeram, ketika kayak terbalik dan saya tidak bisa membalikannya ke posisi semula, saya bisa kabur melepaskan diri dari kayak tersebut.


Nah, foto ini menjelaskan betapa indahnya kegagalan. Saya terbalik di jeram-jeram awal, gara-gara sombong. Kala itu kayak yang saya gunakan adalah Play Boat, kayak jenis ini terkenal dengan keliarannya, dengan kemampuan saya yang ala-ala, dan liarnya kayak jenis ini di jeram, ditambah rasa sombong saya, terjadilah sedikit kecelakaan yang hampir membuat saya kapok. Menjelang akhir jeram, saya kehilangan fokus karena suara jeritan dari perahu yang ada dibelakang saya, sedikit noleh kebelakang, dan slupp.. Seketika seluruh badan saya sudah berada di air dengan keadaan terbalik. Sungai elo saat itu tidak begitu deras, namun sukup untuk membuat perut kembung karena terlalu banyak meminum air. Beberapa kali saya mencoba nge-roll, istilah ini dugunakan ketika kita dalam posisi terbalik dan ingin mengembalikannya ke posisi semula. Air yang dangkal, membuat saya sedikit kehilangan akal, juga sudah coba beberapa kali nge-roll tapi gagal. Karena sudah kehabisan nafas dan panik mulai menyerang, akhirnya saya putuskan untuk keluar dan berenang.


Kewajiban lain yang harus dipelajari selain exit adalah ngerol, kalo kata Bapak Tim; "Latihan memory otot". Bener aja, ngandelin napsu doang malah cuma gagal.
Kalo yang saya rasain, saat kita dalam posisi terbalik, waktu nyoba nge-roll, mesti kepala dulu yang minta keluar, buru-buru untuk ambil napa, ternya yang kaya gitu gak dianjurun, karena kemungkinan untuk failed lebih besar.

Selama latihan yang baru beberapa kali itu, saya nyoba di arus tenang. Terus gimana rasanya pertama kali turun sungai.
Nah ini yang menarik, biasanya saya pake perahu oval, dan ketika menggunakan kayak untuk pertama kalinya, saya ngerasa banyak yang beda.
Bedanya gini; semisal kamu ngarungin sungai pake perahu, yang ngegerakin dan mengarahkan perahu gak kamu sendiri, melainkan kamu punya tim yang harus satu jalan dengan kamu dan punya tujuan yang sama. Ketika dalam satu perahu gak ada keselarasan, maka ambyarlah pengarungan. Ini tentang adventure loh ya, bukan guiding, buat saya adventure lebih menyenangkan karena pasti ada konflik disetiap pengarungan.
Lah malah melenceng bahasnya. Oke balik lagi. Kebebasan bakalan kita dapetin kalo diatas kayak, asal yakin, hantam! Tapi jangan egois juga. Harus taat dengan SOP.
Setiap masuk jeram rasanya cemas, mungkin karena saya yang cupu dan belum handal aja, tapi beneran dah, kalo Sengsu pernah naik roller coaster rasanya hampir sama kaya gitu. Jantungnya berasa ketinggalan.

Dengan posisi duduk yang lebih rendah, dan gak bisa berdiri kaya diperahu, menjadikan kayak satu level diatas perahu oval, terdengar sedikit egois sih, namanya juga pendapat pribadi.
Jarak pandang yang terbatas memaksa otak harus bekerja dengan cepat, manufer kilat kalo gradient lagi sadis, air deras dan ahh gak bisa main-main.

Sampai hari ini, saya masih terus pengen belajar, buat saya yang paling susah dari belajar mainan kayak di sungai adalah melawan rasa takut. Entah kenapa, dari dulu saya paling takut sama yang namanya air, padahal pinggir rumah sungai, kebelakang dikit udah laut, tapi tetep aja mentalnya ciut kalo sudah liat air yang mulak-mulak.

Katanya; "orang yang paling berani, adalah mereka yang berhasil melawan rasa takut dalam diri mereka sendiri." Itu sih kata orang. Kata saya mah, Sikat!

Sekian dulu ya Su, Sengsu. Jangan percaya cerita saya 100% sebelum kamu nyoba, kalo kamu sudah nyoba, kasih tau saya ya deg-degan yang kamu rasa kaya apa.
Saya sih hebat (deg-degannya), kan cupu.

Baiklah. Sampai Jumpa.

~Son Owl





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »