Long Distance Relationship, Berkisah dengan Kenyataan


Harus diakui bahwa memiliki pasangan bukan hanya sekedar untuk memotivasi diri, membagi cerita atau sekedar bercandaan receh yang kita sampaikan, menjadi alasan untuk bahagia. Pada kenyataannya berpasang-pasangan sudah disampaikan oleh sang pencipta dalam berbagai kitab, terserah deh mau pakai kitab yang mana, paling tidak, memiliki keturunan adalah tujuan setiap anak Adam.

Di era sekarang, pacaran bukan hal yang tabu untuk diceritakan. Menurut saya, selain untuk memantaskan bahwa pasangan kita adalah benar jodoh kita, ribet gak sih? Oke, lebih baik kalimat tersebut saya jelaskan, daripada nanti kita bertengkar akibat salah pemahaman.
Dari beberapa orangtua yang sudah lama menjalani hubungan pernikahan, memiliki keturunan dan sempat saya tanyai. Rata-rata semua dari mereka menjalin hubungan lebih dulu sebelum memutuskan untuk menjadi pasangan yang sah dengan cara menikah. Biarpun beberapa ada juga yang ekstrim, tiga hari kenalan langsung ngajak ke pelaminan, setidaknya ada tahapan untuk mereka saling kenal, meyakinkan diri bahwa "dia" adalah pasangan yang dikirimkan oleh Tuhan.

Jadi, pacaran penting? Yaudah pikir aja sendiri.

Mungkin ada baiknya jika saya menceritakan kisah saya sendiri, selain based on true story kebenarannya juga tidak perlu diragukan karena saya yang menjadi tokoh di dalamnya.

Sekarang adalah tahun ke-6 kami menjalani hubungan, dan empat tahun diantara waktu yang sudah berjalan, kami berjauhan. Saat saya memamerkan usia hubungan saya dan doi, beragam tanggapan saya dapatkan, dari mulai "eh, lu pacaran apa kredit rumah," sampai ada juga yang bilang, "pacaran jangan lama-lama, nanti lupainnya susah. Kebanyakan kenangan".

Cerita tentang perasaan memang hal yang sensitif, terlebih dengan para tuna pasangan. Selain ngasih tanggepan yang di luar nalar, mereka juga sering mengecam bahwa pacaran bukan alasan untuk menikah.

"Eh kampret, pacaran mah pacaran aja, nikah, kalo jodoh ya tetep nikah, sama kambing atau unta, yang penting nikah"

Sampai sekarang, saya juga bingung, apakah dengan berpacaran relatif lama akan meningkatkan kualitas hubungan dikemudian hari? 
Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Paling tidak saya sudah hafal dengan sikap dan kebiasaan calon pasangan saya, begitu juga sebaliknya. Tapi, buruknya adalah ketika nanti kami tidak bisa sampai ke jenjang pernikahan, kerena melupakan bukan perkara gampang seperti menggunjing atau membalik telapak tangan.

Sepertinya ini sudah out of the box, mari berbincang dengan kenyataan.
Tantangan terberat dalam hubungan berjarak adalah kepercayaan, hal ini terjadi karena saya tidak selalu tau tentang berbagai hal yang dilakukan oleh doi, juga doi tidak banyak tau tentang berbagai aktivitas yang saya lakukan. Cara mengantisipasi kecurigaan yaitu dengan saling memberi kabar, biarpun dalam kenyataanya, hal ini sering luput dalam keseharian. Misal gini; hari ini saya ada kerjaan motret, tapi dapet kabarnya dadakan, selain sibuk packing alat dan packing kebutuhan pribadi, HP sampe gak kesentuh, dan lupa kasih kabar. Salah sih, tapi untung doi sabar.

Kebiasaan dan membiasakan diri juga jangan sampai ketinggalan, masa transisi merupakan masa tersulit, apalagi yang awalnya tiap hari ketemu, sampai akhirnya gak pernah ketemu. Jadwal ketemu paling banyak cuma setahun dua kali, dari sebelumnya setahun 365 kali. Terhitung sejak 4 tahun saya menjalani rutinitas sebagai mahasiswa rantau, pertemuan saya dan doi bisa dihitung dengan jari, satu, dua atau tiga pertemuan setiap tahunnya, itu juga kalau beruntung bisa berkunjung, kalau gak beruntung, ya, cuma bisa berhitung, ngebahas hal yang gak perlu dibahas via HP. Di tahun-tahun awal saya dan doi berjauhan, selalu aja ada hal yang diributkan, dari mulai telat balas chat, sampai curiga hari ini saya pergi dengan siapa.

"Hemm.. Akutu cuma pergi ke hotel melati main sama lotse.."  (dark joke)

Sampai akhirnya, belakangan ini saya sadar bahwa melibatkan doi dalam hal kecil dikeseharian merupakan hal yang penting. Setidaknya dia merasa dibutuhkan dalam setiap keputusan. Ternyata butuh waktu yang lama untuk saya sadar, dan untungnya doi masih bertahan dengan rasa sabarnya.

Pernah gak kepikiran buat cari seseorang yang bisa tiap hari ketemu dan berbagi cerita dengan intim?

Ada baiknya nanti pertanyaan itu saya bahas di lain kesempatan.

Mungkin cukup untuk cerita hari ini, ya, su, sengsu.
Terimakasih sudah membaca.
Silahkan tinggalkan coretan di kolom komentar jika kalian punya kisah yang sama tentang jarak atau tentang apapun, kerena memahami manusia lebih sulit dari belajar matematika.

Sampai jumpa...

~SonOwl

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »