Argopuro, Perjalanan Tak Kunjung Usai


Pagi hari matahari tertata rapi beserta awan-awan putih yang membuatnya semakin megah. Panas, membakar tapi tenang. Hal ini sulit untuk di deskripsikan dengan singkat. Buatku ini berat.

Semilir angin sedikit demi sedikit menghapus keringat, tidak semuanya, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Tidak terhitung berapa banyak yang melintas, kebetulan aku tidak bisa melihat angin yang lewat, pun jika terlihat, waktuku akan habis untuk menghitungnya. Beberapa jam yang lalu, dengan sengaja aku melangkahkan kaki dari titik start, ku sebut ini permulaan. Berjalan dengan langkah kecil melewati perkebunan. Semua nampak kopi, aromanya segar dengan semerbak warna-warni. Awalnya landai, dengan sedikit tenaga, ku pikir aku akan sampai dengan sehat sentosa. Kaki ku tidak sendiri, banyak pasang sepatu yang menemani. 

Berbatu dan berat. Ah.. Jalanan mulai menanjak, di tiga jam pertama semua masih baik-baik saja. Masih terlihat gelak tawa, candaan masih mengiring selama perjalanan. Langit mulai murung, mendung mulai menerjang, mungkin awan sudah tak mampu menopangnya, akhirnya hujan turun. Daun-daun basah, kami mencoba menghindarinya. Tapi mustahil, hujan tak pernah turun sendiri. Baiklah, kali ini aku mengaku kalah. Hujan, kau begitu perkasa.
Sedikit demi sedikit kaki mulai terbiasa dengan kontur yang sudah tidak bersahabat. Orang bilang Argopuro via Baderan landai. Sial, aku tertipu. Sepengetahuanku, gunung ya gunung, harus menanjak, dan harus mendongak untuk melihat. Sementara, kebun kopi tak terlihat lagi, berganti dengan pepohonan rindang, rumput-rumput liar. Jalanan yang sedari awal berbatu, juga berganti dengan tanah liat. Sepanjang jalan merupakan cerukan. Hasil dari sepeda motor yang melintas, di sini masih banyak ojek gunung. 


Cacing-cacing menggeliat di atas tanah, ramai dan besar. Mungkin mereka jengah di dalam tanah, pikirku. Kaki mulai tak kokoh lagi, keram. Seharian penuh berjalan, belum ada puncak yang kelihatan. Ternyata eluhanku tidak di dengar. Ku rasa sia-sia. Lagi, aku mengaku kalah dengan diriku sendiri.  
Hari mulai gelap, langkah dipercepat, keram berulang kali dirasakan. Jika aku bisa berjalan tanpa kaki, ingin rasanya ku taruh kaki ini ke dalam tas saja, atau aku tinggal biar nanti ku ambil lagi kalau ingin. Sayangnya tidak sesederhana itu.
Akhirnya semua kaki sampai di pos 1, kurang lebih pukul 7 malam hari. Sudah tidak ada matari lagi, semuanya gelap kecuali lampu-lampu diatas kepala yang menyala. Sinarnya tidak lebih dari setitik kecil jika di lihat dati bulan, atau bahkan tidak akan terlihat sama sekali. nanti akan kutanyakan pada Neil Amstrong, apakah dia melihat senterku saat itu.

Malam berjalan seperti seharusnya, ada bulan ditemani dengan aksesoris bintang yang berada di sekelilingnya, hari beranjak pagi, pertanda perjalanan harus di mulai lagi. Tak banyak yang bisa dilepaskan, kecuali lelah yang tak kunjung hilang. Sepagi itu semua sudah berbenah, tak ada yang tersisa kecuali bekas api yang sudah mati. Kaki mulai melangkah seperti hari sebelumnya, perlahan menapaki jejak-jejak yang entah milik siapa.

Tuhan, panjang banget. Aku bersyukur sambil menyelipkan eluhan, kukirim lewat doa, mungkin doanya tidak sampai. Tersangkut pada ranting-ranting yang kering. Terserah, tapi aku lelah. Di gunung ini, tak banyak pendaki lain yang di temui. Hanya berjumpa dengan beberapa rombongan. Rasanya itu menyenangkan, sepi, sendu, kelabu. Ku pikir hanya kami, ternyata masih ada orang lain. Di hari kedua, pemandangan lebih bervariasi, lembah, padang ilalang, dan hujan. Langit datang tak kunjung usai, seolah kami di haruskan untuk basah. Terasa dingin, badan menggigil tapi nikmat.

Untuk kesekian kalinya, ini pertama kali aku melihat merak di alam liar. Sangat cantik, jika aku burung, aku ingin melamarnya, kujadikan merak kekasihku untuk kuajak tidur malam ini. Aku berhayal tak karuan, luar biasa indah. Hujan mereda, petir sudah selesai, kapan kami sampai. Bukan hanya kaki ku yang mulai bergetar, kaki yang lain pun sama. Tidak ada yang tidak lelah, hanya gengsi yang membuatnya tetap melangkah. 

Sore hari, Cikasur begitu indah, luar biasa luas. katanya, disini pernah menjadi saksi sejarah. Kami menghabiskan 2 hari untuk menikmati tanah lapang itu, sangat syahdu. Kami mendirikan camp tak jauh dari sungai. Banyak selada liar, rasanya pahit getir, tapi masih sangat pantas untuk di makan. Dari sini (cikasur), masih belum terlihat keberadaan sang puncak. Oh tuhan, apakah lusa aku masih di izinkan untuk mengeluh lagi, 
Malam hari, waktu yang tepat untuk berimajinasi. 
"Gimana kalo nanti aku di jemput alien?" tanyaku pada salah seorang teman.
"Karepmu Son" jawabnya ketus.
Aku tertawa geli, seandainya alien benar datang, maka dia akan kujadikan umpan. 
"Nih alien, bawa aja temenku, dia gak percaya sama kamu." 
***

#disambung



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »