Bali

Oktober, 2017

Saya rasa setiap orang berhak memutuskan dia ingin melakukan apa, dia ingin pergi kemana, mau makan apa atau segala hal yang dia suka. Bagaimana jika bermain dengan anak-anak?
Sepertinya tanpa diperintah pun banyak yang menginginka hal ini.

Tidak selamanya pulau yang indah akan selalu indah dan bahagia, Bali yang terkenal dengan pantai, tarian, kearifan lokal dan segala macam keindahan lainnya ada disana. Tapi, siapa sangka jika ada duka yang terselip di sana.

Photo by SonOwl
Untungnya Bali, sebagaimana Bali yang seharusnya, punya semangat tinggi dengan gotong royong dan rasa saling tolong. Tapi, (lagi) kenyataanya gak gitu banget sih, meleset dikit lah ya. Tidak semua yang kita harapkan akan berlangsung seperti yang ada di pikiran. Sederhananya seperti itu.

Di Bali saya punya beberapa teman kecil, ada Nengah Sunadi, Komang Jaye, Komang agus, wah, banyak nama yang sama di sana. Saya punya sedikit masalah prihal mengingat nama, mereka semua masih kecil, nakal juga mbeling. Susah dibilangin, nakalnya luar biasa.
Photo by SonOwl
Yang namanya bantuan di Pos 3 Puri Boga dateng terus gak berenti, sampai pada waktunya bingung karena manajemen tidak diterapkan disana. Yang mau, ambil. besok pikir besok, sedikit kacau. Untuk perkara sampah, wah ini sebenarnya PR utama, berserakan dimana-mana, untungnya ada anak kecil yang bisa diandalkan untuk mengingatkan orang tuanya agar tidak membuang sampah sembarangan.
Hal unik lainnya adalah

***

Selain masih terdaftar sebagai mahasiswa aktif, saya juga punya beberapa tanggungan karena sedang mengikuti rangkaian diksar di mapala Univ. Berhubung saya sudah mapala, saya masih mahasiswa akhirnya saya putuskan untuk berangkat. Keputusan sudah bulat, saya berangkat menuju ke bali dengan mengandarai sepeda motor dengan dua rekan lainnya. Saya mengendarai Honda Win keluaran tahun 1989. Sebelum saya lahir, motor ini sudah bisa jalan. Anggaplah saya menunggani Si Mbah.

Selama perjalanan, saya berdoa agar tidak terjadi apa-apa, bahkan saya tidak sempat izin ke orang tua. Setelah sampai di probolinggo, baru saya memberi kabar bahwa anaknya yang mbeling ini berangkat ke Bali untuk tujuan kemanusiaan.
Untuk sampai di Bali, saya harus melewati pelabuhan gilimanuk, dan penjagaan disana ketat, seperti tali kutang yang tetap menjaga agar terus terhubung pada dadanya. Motor yang saya kendarai tak bersurat, SIM yang saya punya sudah mati sejak 2 tahun yang lalu. Beruntung saat itu ada rombongan King yang juga menuju Bali dan satu kapal dengan saya. Sebelumnya saya dan senior sudah membuat banyak sekenario agar bisa lolos dari penjagaan keamanan di gilimanuk.
Seperti anugerah, saya mengikuti rombongan King, tanpa di periksa, tanpa di cek surat-suratnya, semua mengalir begitu saja.

Photo by SonOwl

Kurang lebih 30 jam total waktu saya mengendarai motor dari Jogja untuk sampai di Bali. Disana sudah ada tim yang lebih dulu datang, mereka menggunakan transportasi umum.
Rendang, Karang Asem, Bali. Waktu itu pengungsi belum sebanyak sekarang, karna kondisi gunung agung belum mencapai puncaknya. Saya membantu apa yang bisa dibantu, dari mulai bersih-bersih sampah, mencatat logistik yang keluar dan masuk, menghantar anak-anak sekolah, belajar dan bermain dengan balita, sampai membersihkan kamar mandi. Semua dilakukan atas dasar kemanusiaan. Hari-hari berlalu, anak-anak kecil disana senang dengan hadirnya teman-teman dari Jogja. Sampai akhirnya kami mendapat informasi dari posko pusat yang berada di Jogja untuk menarik semua tim yang berada di Bali. Saya mencoba menjelaskan pada anak-anak, "besok kakak pulang, nanti kita ketemu lagi dikesempatan yang lain, semoga dengan keadaan yang berbeda."
Salah satu dari mereka ada yang menangis, entah sebabnya apa. saya tetap mencoba menjelaskan pada mereka. Diantara banyaknya anak yang berkumpul disitu, ada satu anak yang bilang "kalo kakak pulang, nanti kita main sama siapa? yang nganter kita sekolah siapa?" Seketika itu saya diam, saya menangis tanpa memperlihatkannya pada mereka.

Sampai sekarang saya tetap berkabar dengan mereka, anak-anak dari desa Pesaban. Mereka masih mengungsi karena gunung agung belum pulih seperti sedia kala.
Janjiku suatu hari nanti akan kutepati, kembali kesana untuk melihat tumbuh kembang mereka. Mungkin nanti salah satu dari meraka ada yang menjadi pilot, dokter tentara atau guru. Sama seperti yang mereka sampaikan pada ku saat sedang bercerita di sore hari menjelang malam tiba.

Photo by SonOwl

Cerita ini sepenuhnya saya dedikasikan kepada seluruh rekan mapala jogja (SEKBER PPA DIY). 
Kalian luar biasa, semoga selalu sehat dan bermanfaat.
Sampai jumpa.



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »