Menjadi Orangtua dan Pendidikan untuk Anak


Saya rasa memiliki keturunan adalah rencana semua manusia, melihat mereka tumbuh besar, bermain, menjadi remaja, dewasa dan melanjutkan keturunan selanjutnya. Tetap membawa nama kejayaan keluarga atau akan membuat kisah jayanya sendiri dan diturunkan ke nama anaknya kelak. Setidaknya sejarah kesuksesan tetap di teruskan.
Setiap orang tua memiliki caranya masing-masing dalam merawat, mendidik dan membesarkan anaknya.
Apakah semua orang tua benar?
Apakah semua orang tua baik?
Apakah semua orang tua boleh ditiru?

Photo by Son Owl

Tidak semua orang tua benar, baik dan boleh ditiru.
Saya belum ada rencana kapan akan mulai memproduksi, mungkin nanti setelah saya benar-benar siap, atau setelah ribuan desakan. Terutama dari Ayah dan Ibu yang sudah tidak sabar meminta keturunan, selanjutnya karena keponakan saya sudah mulai besar dan sering berpergian.
"Jadi kapan punya momongan?" Sabar, saya belum selesai.
Jika sudah siap atau sudah di desak.
Kebebasan sepenuhnya ada di tangan anak saya nanti, bukan kebebasan memilih untuk dirawat oleh siapa, karena saya tidak pernah berfikir untuk melepas sebuah ikatan, apalagi ketika ikatan tersebut sudah disucikan. Namun kebebasan dalam hal ini adalah untuk memilih.
Dia bebas ingin menjadi apapun, tetap dengan arahan dan dukungan. Saya berencana menjadi orang besar dan berencana meninggalkan banyak warisan, tapi jika anak saya tidak berkenan, saya akan wakafkan atau saya alihkan ke hal yang lebih bermanfaat. Semoga.
Tentang pendidikan.
Saya rasa ini poin penting dalam naskah yang kurang penting dan tidak dibaca secara keseluruhan oleh banyak orang.
Pendidikan.
Apakah itu penting?
Hemm, bagi sebagian golongan mungkin sangat penting, mereka benar-benar mamastikan anaknya berprestasi. Itu baik, sangat baik. Namun tidak akan saya lakukan.
Saya tidak mewajibkan anak saya memiliki nilai yang bagus dalam setiap pelajaran. Ranking? Ah lupakan saja.
Toh itu hanya membuang waktu bermainmu, nak.
Lucunya di negeri ini, semua pelajaran diberikan, matematika, fisika, sosial, biologi dll. Anehnya mereka diwajibkan untuk benar-benar paham dan masih diberikan pekerjaan rumah, menyedihkan.
Ketika anak dipaksa untuk memahami semua dan diwajibkan untuk berprestasi, itu sama saja dengan memasukan air warna-warni dalam satu gelas yang sama.
Coba kita putar cerita, apa iya semua guru fisika ahli dalam bidang sosial? Apa iya semua guru matematika bisa akutansi? Apa iya guru kimia pandai dalam pelajaran seni rupa? Namun semua guru mengharuskan semua muridnya paham pelajaran yang mereka berikan.
Bahasa lain yang paling bisa dijelaskan secara mudah adalah, kelompok hewan seperti Gajah, Semut, Cacing, Burung, Macan dan monyet diberi materi memanjat yang baik dan benar. Saya yakin anda memiliki jawaban sendiri, Silakan beropini.
Ini hanya opini pribadi, jangan perna percaya seratus persen.
anda bisa cari referensi lain, pendidikan yang diajarkan saat ini adalah sistem kuno, yang sudah dilakukan sejak perang dunia pertama belum dimulai

~Tai woy
hahaha

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »