DISTILASI ALKENA

Denganmu, Jatuh Cinta Adalah Patah Hati Paling Sengaja
WIRA NAGARA
Cerita pribadi setelah saya membaca buku ini, ahh rasanya semua es yang ada di kutub utara pindah ke pelupuk mata, mencair dengan cepat seperti matahari berada dua jengkal dekatnya. Sajak yang sadis, mengoyak hati dan membuatnya semakin teriris. Kisah cinta lama yang dibungkus dalam alkisah kimia dan fisika. Makna tentang kepiluan yang tak berujung.

Hormatku pada sang idola, yang sudah menciptakan mahakarya paling menyayat yang pernah saya baca, dikemas ringan namun sangat dalam dan mendasar.

Bahagia kita pernah merekah indah tanpa sedikit pun gelisah, saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan. Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat pada ketiadaan. Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tiada sedetik pun kesempatan bagiku membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu.
Waktu pun mengurai tetes hujan menjadi bulir-bulir kenangan. Ia menelusup tanpa permisi membasahi nurani. Merangkak naik menyusun kata yang dibicarakan oleh pelupuk, memaksa mata berkerja mengeluarkan kalimat penuh derita.
Degub jantung menyatu detik, menyuarakan penyesalan yang runtuh merintik.
Bukan perih yang aku ratapi, tetapi pengertian yang tidak pernah kau beri. Sudahlah! Aku telah mencintaimu dengan terengah-engah, mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang aku izinkan mengisi setiap rongga, menghempas darah dengan nemamu yang mengalir membuat jantungku tetap berirama. Padamu aku jatuh hati, bukan karna sebelum Adam dan Hawa diturunkan ke bumi.
Kesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu.
Tingkat sepi paling mengerikan, adalah sepi dalam keramaian. Mengulik rasa primitif dan tak mengenali dunia telah jauh mengalami perubahan. Bagaimana mungkin aku menjauh jika hanya padamu keakuanku luluh? Bagaimana mungkin aku pergi jika bayangmu masih saja menghiasi mimpi? Bagaimana aku berpindah bila hanya padamu hatiku bisa singgah?
Bagaimana mungkin?
Bagaimana...
mungkin...
kau lebih memilih orang lain?
Detik yang berbaris hanya membuat pengharapan semakin miris. Kau bergeming, kau tak pernah menjawab dengan alasan caraku mendambamu ter-lampau bising. Otakku terus meneriakan penyesalan sembari bertanya tentang kenapa, pada sikapmu yang terlalu membuat semesta menerka-nerka. Tangkupan tanganku masih saja menggenggam harap untukmu, tetapi keegoisanmu membuatnya kosong laksana harapan semu.
Kesalahanku, isi doaku tak pernah selain namamu.
Cinta tak semalamanya tentang kepemilikan, tetapi cinta adalah tentang keiklasan, Segala rela aku coba tumpahkan, pada rajutan tinta yang menulis namaku dalam undangan pernikahan. Paling tidak, aku pernah merasakan perihnya ditolak tanpa penjelasan. Paling tidak, aku pernah menyadari sakitnya mendamba tanpa balas budi. Paling tidak, aku hanya bisa melihat sosok terbaik yang akan mendampingimu, memakaikan cincin di jemarimu, mencium keningmu, dan bersanding bahagia berbagi senyuman dengan mu.
Terima kasih atas segala rasa, pada hari itu aku pun turut mengucap bahagia.
Mencoba iklas.
Walau air mata pasti mengucur deras.
Kesalahanku; adalah tidak pernah merasa, bahwa untukku kau tak pernah punya cinta.
-W- 

Salam..
-SON OWL-



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »