Passion yang dibangun dari lahir

Photo by SonOwl
Setiap manusia pasti pernah dilahirkan, ini adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa diubah. Setiap kelahiran merupakan proses awal untuk menjadi besar, tumbuh dan berkembang merupakan skema yang ada didalamnya.
Saat kecil, saya memiliki cita-cita menjadi astronot dan sekarang, dengan bangga saya bingung mau jadi apa. Dari saya TK sampai sekarang jadi mahasiswa yang kerjaannya ngerjain apa yang bisa dikerjain, saya tidak mendapatkan sedikitpun materi tentang "bagaimana menjadi astonot". yang saya ingat hanyalah "manusia pertama yang mendarat di bulan" itu pun jika benar, karna sejauh ini masih banyak yang mempertanyakan bukti kebenarannya, atau pernyataan tersebut hanya konspirasi NASA? Entahlah, biar Tuhan dan Neil Amstrong yang tau.
Saya sempat menanyakan ke beberapa teman, semuanya berbeda jurusan, anggaplah ini survei kecil-kecilan, pertanyaannya sederhana "mbien cilikan mu meh dadi opo?" artinya "dulu waktu kecil kamu mau jadi apa?", jawabannya beragam, ada yang mau jadi dokter, ada yang mau jadi polisi, pilot, tentara dll.
Tapi sekarang? Teman yang mau jadi pilot malah ambil jurusan peternakan, yang mau jadi dokter malah ambil jurusan ekonomi. Saya hanya bisa berfikir positif, mungkin teman saya mau menjadikan kambingnya sebagai pramugari atau co-pilot dan dia sebagai pilotnya.
Siapa yang salah? Jika mencari siapa yang salah mungkin terlalu mudah, bagaimana jika kita balik? bagai mana yang benar? Ini hanya opini pribadi saya tentang sistem pendidikan yang ada di negeri kita tercinta.
Sedari kecil kita sudah dihidangkan dengan semua pelajaran, dari sosial, sains, matematika, ekonomi, sejarah, budaya dan ilmu-ilmu dasar lainnya. Namun kenapa materi itu masih ada sampai SMA? Apa iya ketika kita memasuki dunia kerja semua itu digunakan? Terus apa gunanya dipelajari sedari kecil sampai semua rambut tumbuh di badan? Kenapa kita tidak mempelajari sesuai peminatan?
Jika ingin jadi atlit ya dididik jadi atlit, yang mau jadi film meker ya dididik secara perfilman dan sebagainya. saya yakin ketika peminatan dilaksanakan tidak akan menghabiskan banyak uang dan waktu agar bisa diterima di dunia kerja. Berapa lama waktu yang kita habiskan demi selembar ijazah yang notabene hanya menghantarkan kita sampai depan gerbang perusahaan? Sementara 12 tahun waktu yang kita habiskan untuk mengenyam pendidikan sampai tingkat SMA pun hanya bisa menjadi OB, bisa lebih tinggi karna skill lainnya, bukan karna ijazah yang dimiliki. Untuk itukah waktu 12 tahunmu dibuang? Yakin gak sayang?
Sebenarnya ini adalah kritik yang saya lontarkan untuk saya sendiri, kenapa saya? Karna saya juga menjalani. Sekarang saya ingin memutar haluan untuk "cita-cita" menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan bakat tanpa membuang waktu yang banyak. Semua dilakukan atas dasar kesukaan, atas nama kecintaan. Harapannya adalah menciptakan totalitas yang berguna bagi masa depan dan sebagai proses yang menunjang untuk menggapai cita-cita.Bahagia adalah membahagiakan orang banyak.
Cerita ini adalah opini pribadi saya yang tidak selalu benar, semoga ada yang meluangkan waktu untuk berdiskusi dan ngopi bareng untuk bahasan ini. Sukur-sukur ada solusi.
Trima kasih!

SONOWL

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »