Aku, Aliran, Tai dan Kenangan



Sekali waktu, kami pernah berkunjung ke sebuah teluk di ujung Sumatra, pergi menggunakan mobil hijet 1000, masa itu usia hijet 1000 belum terlalu tua. Berlampu bulat dengan posisi mesin tepat di bawah penumpang. Apa lagi yang perlu diragukan dengan kehandalan mobil ini? Sering mogok, iya. Rewel, iya. Nyusahin juga, iya. Satu-satunya keunggulan mobil ini hanya karena bobotnya yang ringan, jadi kami tidak kerepotan meski hanya didorong dua orang.

Usia saya belum genap dua belas tahun, tapi sebuah ransel berisi dua botol air mineral 1,5 liter, senar, kail, bandul dan bekal berisi nasi, sambal, beserta lauk seadanya hinggap di punggung. Perbekalan kami mumpuni, didukung dengan semangat 'di mancing kali ini, ada banyak ikan yang bisa kami tangkap'. Optimis itu merajai pikiran, panas matahari saja tak cukup untuk menggeser tegapnya badan memegang joran, sepenuhnya arah hadap kami menyongsong laut.

Pikir saya waktu itu, "benar kata ayah, orang mancing gak bisa maju". Jelas saja, dua meter melangkah ke depan, nafas kita pasti tersendat karena gulungan ombak. Resiko yang tidak menjanjikan. Kesabaran tak berujung, harapan kami tinggi, kenyataan kami terkatung pada ikan yang entah kapan mau makan.

Hijet 1000 diisi empat orang, Mayes, Ayah, Om Usup, dan saya. Matahari sudah menunjukan gelagat pamit, sinarnya mulai sayu tenggelam di barat. Di batas ujung mata bisa melihat. Seruan 'ayo pulang' tidak terdengar, tapi kembalinya kami satu persatu ke mobil adalah panggilan senyap. Sebuah pertanda jika hari harus ditutup dengan menyudahi perburuan ikan tanpa hasil. Om Usup, adalah satu-satunya penumpang hijet 1000 yang memilih lokasi memancing paling jauh, butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki untuk sampai ke mobil. Dengan jarak tempuh seperempat jam, tubuh tegap dan tinggi tadi, hanya terlihat sebesar ibu jari. Lumayan jauh.

Di teluk yang kami kunjungi terdapat satu aliran sungai dengan air yang jernih. Saya sempat berendam di sana. Anak kecil mana yang mampu menahan panas seharian tanpa tarikan joran yang dimakan ikan? Bosan adalah naluri alamiah dari seorang bocah.

Sinar matahari mulai berganti lampu senter, jok hijet 1000 sebelah penumpang diangkat, ada radiator yang harus diisi sebelum mesin dipaksa start. Cadangan air kami tidak banyak, dua botol yang menjadi bekal sudah habis sejak siang. Cuma ada satu pilihan, air sungai, atau tidak pulang.

Kadang menjadi anak kecil ada sisi tidak enaknya, seperti senior dan junior, meski ayah dan anak, tugas-tugas seperti mengambil air harus dilakukan. Perintah langsung yang pantang ditolak. Saya tetap berangkat. Sebotol air bukan perkara sulit. Namun air sungai diluar jangkauan cahaya, saya terlalu malas untuk pergi ke sana. Toh, tidak jauh dari tempat mobil terparkir, ada aliran kecil yang bisa saya gunakan.

Saat saya mengambil air, saya menyadari ada yang tidak beres, bau tidak sedap menyerempet hidung, terhisap masuk sampai di pangkal paru-paru. Ini bukan sembarang bau, tapi botol yang saya isi sudah tiga perempat menjelang penuh, dan tetap saya lanjutkan. Botol saya tutup kencang, senter dari arah mobil menuntun jalan saya pulang. Kamu tau apa yang saya lihat? Setapruk kotoran manusia berada dua meter di atas saya. Sejalur dengan aliran di mana saya mengambil air.

"Mayes, tadi waktu aku ngambil air, ternyata diatasnya ada tai. Aku baru tau setelah botol penuh". Saya tau, pengakuan tersebut terlambat karena air sudah dituang setengah, jok sudah ditutup dan mobil sudah hidup. Kami siap berangkat, sisa Om Usup saja, dia masih berjalan, jaraknya sudah tidak jauh lagi.

"Woo, dasar, kebiasaan. Mana tadi airnya?" Mayes sedikit kesal, ini bukan pertama kalinya saya melakukan hal sejenis. Sudah terlalu banyak perkara yang saya buat. Akhirnya, sisa air tadi saya ambil dari bawah jok bagian tengah. Tapi tidak lekas saya berikan. Sementara itu Mayes keluar dari mobil, memanggil Om Usup agar berjalan lebih cepat. Botol tadi saya letakan di dashboard depan, sebetulnya saya agak jijik dengan botol tersebut. Bayangan tai masih mengedar di kepala saya.

Suara Om Usup sudah terdengar, heboh dan renyah. "Kie iwak gedi kie", becandanya. Padahal ia hanya dapat satu ikan, tidak besar, dan bukan ikan dari golongan prioritas. Kami menyebutnya ikan kemarus, ikan yang hidup di antara bebatuan dan arus kencang. Baunya amis kurang sedap, menurut saya rasanya kurang enak. Mungkin kucing doyan ikan juga akan sependapat dengan saya. Pintu dibuka, semua peralatannya diletakan di mobil bagian belakang, kemudian Om Usup langsung masuk dan duduk. 

Tidak ada perbincangan, semua seolah lupa dengan air radiator, jalanan yang rusak membuat pandangan sang supir tidak lepas dari jalan. Mayes memilah lubang demi lubang. Tetiba ayah menyenggol saya saat Om Usup meraih botol yang saya letakan di dashboard. Sebuah pertanda "lihat itu ulahmu". Di bagian tengah, saya dan ayah mencoba menyembunyikan tawa, cekikikan yang nyatanya sulit dibendung. Tidak lama kemudian Mayes sadar dan ikut cekikikan. "Sial, masalah." Pikir saya waktu itu. Saya tidak mencoba menghentikan, ayah juga begitu. Berlangsung seperti tontonan serial komedi, menarik, sebisa mungkin jangan dihentikan. 

Air sudah ditenggak berkali-kali. Mungkin panas matahari membuat Om Usup lupa bertanya, itu air apa. Ia baru angkat bicara setelah botolnya ditutup rapat kembali. "Airnya kok rasanya aneh sih, Nda?"

Tidak ada yang menjawab, tawa malah makin pecah. Saya sudah tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi cacing di dalam perut Om Usup saat mengetahui air yang lewat selang tenggorokan merupakan cairan limbah. Barangkali beberapa cacing di garda terdepan sudah pingsan.

Setengah perjalanan ditempuh, saat kejadian sudah lagi bukan penyesalan, saya menceritakan bagaimana tai tersebut mengkontaminasi air yang sekarang sudah berada di lambung Om Usup. Saya meminta maaf, dengan sisa-sisa tawa yang terlepas. "Emang lu, ya, kurangajar. Air gak bener ditaro sembarangan." Kata Om Usup dengan nada kesal separuh mual.

Dia menggerutu, tapi tidak terdengar jelas. Komponen mobil hijet 1000 sudah banyak yang kendur, suara grudak-gruduk menjadi selingan dari gumaman panjang di jalan berlubang. Setelah jalan gragal habis "... ra mati. Tapi asu, aku ngombe taiku dewe." Bagian terakhir yang terdengar sangat jelas. Epilog dari jengkel yang bukan main. Tawa kami malah menjadi lagi, ternyata kotoran di aliran yang airnya saya ambil dan diminum Om Usup adalah tainya sendiri.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, tapi rasa bersalah itu masih melekat pada diri saya. Harusnya saya bisa lebih. Kenapa cuma airnya?!




Sebidang Harapan Di Halaman Belakang

 


Setengah semester ini, sosial media diramaikan dengan tingkah konyol pemerintah, silakan lihat saja resume-nya di internet. Saya mulai jengah meliat kabar yang isinya amarah. Pun isu tentang korona saja hampir membikin separuh manusia bumi menyerah. Sekarang, lebih dari setengah penduduk indonesia khawatir dengan masa depan hidupnya. Kehancuran lingkungan dan hak-hak pribadi yang kian dirampas. Makan saja sudah susah, ditambah lagi aturan ini itu yang kian mempersempit gerakan. Tidak diberi asupan, nafas masih disengal.

Saya kira, dengan melakukan banyak perenugan, masalah akan terurai satu demi satu. Nyatanya tidak juga, yang ada perenungan tadi malah menambah masalah karena menyediakan ruang untuk imajinasi berlari lari.

Jadi begini, sedari kecil saya tidak suka keramaian, hadir dan ikut berkerumun malah membikin saya seperti dihujam badai pisau tumpul. Wajar saja jika saya kerap menghindari berpergian ke tempat padat. Suasana kampung, atau pinggiran kota dengan teman diskusi yang sesuai, saya rasa jadi formula paling pas. Tidak merasa dikejar dan terburu-buru, punya banyak pilihan, adem, ayem, tentrem.

Pejamkan mata sejenak, ambil nafas dalam-dalam, hembuskan.

Hal yang paling saya idamkan di hari-hari selanjutnya adalah punya tempat untuk istirahat tanpa gangguan bising kendaraan. Bangun pagi dengan pemandangan kabut dan hijau pepohonan, diiringi suara serangga hutan seperti tonggeret, jangkrik, juga kicau burung.

Ada satu pulau kecil di pinggiran Sumatera yang saya incar sebetulnya, harapannya saya mampu membeli lahan di sana, membangun peternakan dan mengolah pertanian. Makan dari hasil kebun sendiri, mengolah apa yang ada dan bisa dimanfaatkan.

Biar di tempat terpencil, bukan berarti menolak kemajuan, saya akan membawa serta teknologi ke pinggir peradaban. Tidak bisa dipungkiri jika akses untuk mengetahui seluruh isi bumi bisa dipegang dalam genggaman, deras dan tidak bisa dibendung.

Harapannya, kelak anak-anakku akan tumbuh dengan kemajuan yang terintegritas dengan alam. Kakinya kuat memijak, menumpu beban dan membantu masyarakat. Wawasannya tak terbatas sekat. Tujuannya sederhana, selain untuk kesenangan diri sendiri, saya juga ingin kelak anak saya punya banyak pilihan. Semisal dia bilang, “Bapak, aku mau belajar di Venus. Boleh?” Dan dengan gampang saya menjawab, “Boleh, urus paspor lintas planetmu, berkemas, lusa bapak antar. Siapkan bingkisan untuk makhluk yang kamu jumpai di sana.”

Tidak berhenti disitu, bayangan saya, kejutan akan selalu datang setiap hari. Bisa jadi durian yang saya tanam di halaman belakang akan terus berbuah sepanjang musim. Tidak perlu repot merencanakan melancong ke Medan, mampir ke Durian Ucok, dan menghabiskan banyak uang untuk sekedar menikmati hasil bumi yang bisa ditanam sendiri.

Sekeliling halaman belakang dipenuhi dengan pohon gamal, selain jadi pagar, pohon ini berfungsi sebagai tabungan pakan buat kambing-kambingku yang akan diumbar. Tidak ada pembatas besi, tidak ada konstruksi beton, pun pagarnya akan dibuaat jarang-jarang. Biar kambing membikin perbandingan antara rumput di halaman tempat tinggalnya, dan rumput milik tetangga. Saya dengan senang hati mendengarkan aspirasi para kambing tentang hak pakan dan kebebasan berlarian. Apabila masih masuk akal buat dituruti, kenapa tidak. Ayam, sapi dan dinosaurus juga boleh melakukan hal yang sama, protes jika ada yang tidak sesuai.

Letak rumahnya persis di pinggir pantai, hanya ada beberapa ruangan tertutup, kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, tempat ibadah, dapur, dan tempat kerja, semua terbuka. Arah hadapnya langsung ke laut. Material bangunannya berasal dari sampah kayu yang berserak di pantai. Ada sungai kecil, gemerciknya jadi lantunan penghantar tidur, juga ada kolam berendam yang dibikin semirip mungkin dengan kondisi mata air terdekat, berbatu dan bertingkat. Letaknya diantara dapur dan tempat kerja.

"Kamu mau makan apa hari ini? Biar aku cari dulu di kebun." Pertanyaan itu akan menjadi kalimat penghantar di obrolan kasur ketika aku dan istriku baru bangun tidur. Bergegas menilik bahan yang masih tertancap ditanah. Menyibak belalang yang lebih dulu datang untuk cari makan. Biar saja sawinya bolong. Tak apa labunya bopeng sebagian. Di sepetak lahan tadi, kita saling berbagi kehidupan.

Panel surya dan pico hydro jadi ujung tombak penerangan, gas di dapur berasal dari tabung metana yang berada di sisi kandang. Apa lagi yang kurang, Yang?

Sial, hari makin sore, agas sudah datang. Sudah waktunya pulang dan mandi, hayalan ini kita lanjut lagi besok, atau di kemudian hari.

Embun Kesiangan



Jadi, kaki-kaki itu mulai cengeng saat diajak memijak, gejolak air mata kerap kali merundung agar dapat perhatian, tapi ditolak.

Mengkudu separuh matang jatuh lagi ke air, mengalir ikut deras riam mendekati hilir, namun lupa mudik. Perginya tidak pernah kembali.

Buku-buku dibuka lagi tanpa dibaca, sampulnya disobek, halaman pertama disobek, halaman terakhir disobek. Pembuka dan penutup dibikin hilang agar tak pernah dimulai, juga tak pernah selesai untuk dihentikan.

Angin semilir mengetuk pintu dari luar, meminta izin untuk masuk menyaksikan pergumulan. Dari sore kemarin, mendung tak beranjak. Namun tetesan hujan pertama baru datang pagi ini. Mewakili embun di atas pucuk padi.

Tubuh lemas itu luka-luka, serantai bekas gigi memutar dari pangkal paha sampai punggung belakang. Di dada, di lengan, di ketiak, di leher, di banyak tempat di badan yang tetap tersenyum. Perih.

Pukul dua dinihari, jangkrik jantan kembali menyalak, keluar masuk lubang menanti jawaban dari deriknya yang panjang. Ia kemana? Dan ribuan pertanyaan melintas seperti parade festival penghujung tahun.

Sudah kertas ketiga, kumpulan kata-kata tetap pada tempatnya, membisu dingin seperti embun beku di kulkas yang tidak pernah terisi, kosong, tetap kosong dan selalu kosong.

Bilangnya, silakan masuk, pagar depan tidak dikunci, di taman ada satu kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat sebentar. Jangan sungkan jika ingin masuk, ketuk saja, rebahan di dalam. Pintu utama juga tidak terkunci rumah ini bisa jadi tempat singgah, tapi jangan ubah tata letak yang ada di dalamnya.

Selamat datang.

Pungut, Roti dan Kopi - Andalas

 



Kali pertama ke sekian, Andalas merupakan tujuan yang belum pernah dijamah. Bukan tentang pesawat, bukan juga tentang berlayarnya kapal menuju barat, kali ini seperti petualangan segar yang baru saja dilakukan.

Terbang dimangsa pandemi membawa kegaduhan sendiri buat saya, orang-orang yang tak lepas dari masker dan handsanitizer saling duduk bersama, bersebelahan. Doanya: pulang pergi selamat. Padahal, ya, gak tau juga. Terlebih korona besarnya tak kasat mata.

Di pesawat, seorang ibu-ibu duduk disebelah saya, terjeda satu kursi, tidak semua kursi boleh diisi. Kepalanya selalu menengok jendela, pandangannya ke arah luar. Mungkin ia sedang menerka hebat, golongan apa yang akan selamat, orang baik macam apa yang akan bertahan dan terus sehat? Kami tidak saling tegur sapa, dihadapan wajahnya sudah terpasang face shield, bermasker dan berkacamata. Di waktu seperti ini, tampilan dengan protokol lengkap sudah menjadi isyarat, hentikan komunikasi, kita bisa sendiri-sendiri.

Biasanya, saya paling suka basa-basi, sekedar tanya, ibu mau ke mana? Atau hal lain yang jadi pangkal pembicaraan. Namun kemarin saya memilih diam, dan berharap ketiduran datang lebih cepat. Karena sadar, tidak pernah menyenangkan. 

Di Medan saya sudah ditunggu oleh Pak Pungut. Rekanan yang akan menghantarkan saya sampai lokasi pembangunan pusat rehab baru di Sumatra  Utara. Pak Pungut memberi saya clue untuk bisa menemukannya. Foto selfie menggunakan  baju polisi, hanya sebatas sandang saja. Secara pekerjaan, ia bukan abdi negara. Pak Pungut adalah aktivis satwa yang sudah cukup lama mendesikasikan hidupnya untuk berjuang dan memperjuangkan kemerdekaan makhluk lain.

Kualanamu menuju Desa Bukitmas, Besitang. Desa ini berbatasan dengan Aceh, sekira 20 menit lagi perjalanan, gerbang serambi mekah sudah kelihatan. Ada beberapa lintasan alternatif, namun Pak Pungut mengajak saya untuk melihat sekitar sebentar, seputar Medan dari sudut pandang perjuangan. Makam pahlawan, istana maimun, dan pecinan.

"Ini pusat ALS, pak." Pak Pungut memberi informasi detail, beliau layik sebagai pemandu tour internasional. Tentang ALS, bus ini sudah menjadi identitas Medan. Dulu, saat ada mobil melaju kencang dan ugal-ugalan, pengendaranya pasti dijuki supir Medan. Semelekat itu dunia jalan dan kearifan Medan.

Rute kami cukup panjang, kami beberapa kali singgah untuk cari peralatan, di Tanjungpura, saya sempat diajak mampir di salah satu toko roti yang konon sudah turun temurun. Bukan cuma jual roti saja, ada kopi, soto, sate, dan beberapa makanan berat lain. Toko Roti Restu, dijajaran kuliner Sumatra Utara, tempat ini sudah melegenda dan menjadi rekomendasi tempat wajib yang dikunjungi di Tanjungpura. Pun nuansa pertokoan di sini nampak lawas, bangunan kuno bekas peninggalan Belanda.

Untuk citarasa, menurut saya biasa saja. Olesan selai di punggung roti bakar terasa manis gurih, kopi yang disajikan kental. Cukup baik, saya belum menemukan sisi spesial berdasarkan citarasa. Mungkin kelegendaan tempat ini dibangun oleh nuansa magis Belanda dan konsistensi resep yang dilanjutkan turun temurun.

Tidak ada yang lebih nikmat dari masakan ibu, standar enak yang sudah dibangun sejak kecil. Barangkali, suatu hari nanti standar enak tersebut akan bergeser, dari masakan ibu, ke masakan kamu. Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya.

Terima Kasih, Jakarta


Keberpihakan antara pergi dan memilih tetap tinggal, siapa sangka, Jakarta menaruh sisi baiknya di singgasana sederhana ini. Tidak lahir di ibu kota, menjadikan Jakarta asing buat saya. Ya, saya tidak suka Jakarta, kecintaan saya pada kota ini hanya karena beberapa manusia yang ada di dalamnya. Tidak Jakarta secara keseluruhan.

Agenda kerja mengharuskan saya mampir, singgah sebentar untuk menlanjutkan perjalanan. Besok, saya akan berucap sampai jumpa lagi pada Jakarta. Berpisah dari kebisingan dan segala kegaduhan yang ada di sana. Terima kasih, ya.


Teruntuk bantal yang membahagiakan tengkuk, teruntuk selimut yang membantu menghangatkan, kalian luar biasa. Kesenangan tinggal semalam, cerita, dan segala keangkuhan tentang Jakarta sirna, tunai. Semua sudah selesai. Dendam, dengki pada junjungan pusat pemerintahan dan ekonomi negara sudah mereda.


Jika suatu hari ada Jakarta berikutnya, mungkin akan biasa saja. Tanpamu, dan semua kenangan yang ada di antara gelap dari Jakarta yang benderang.


Andalas, selamat datang. 

Kameo di Kisah Lain




Ketika mata terpejam sebentar, beberapa banyangan datang
Salah satunya bertanya
Apakah aku punya peran penting?
Atau hanya muncul sebagai penokohan saja?
Jangan-jangan, kamu memang tidak mencari aku
tapi, aku menemukanmu, dan kamu tidak merasa ditemukan.

Ternyata, kamu bukan siapa-siapa, pun, aku tak pernah jadi apa-apa


~


Beni, Bara Api di Timur Pertiwi


Selamat datang

Buat saya, Papua adalah kasih dan sayang. Tempat di mana saya menemukan makna 'kaya' sesungguhnya. Sebuah pulau paling timur Indonesia yang akan saya kunjungi lagi di kemudian hari.

Juli 2018, kali pertama saya melakukan perjalanan udara paling jauh, perjalanan darat paling panjang, dan perjalanan air paling melelahkan. Paket lengkap untuk merasakan remuk di waktu yang berurutan. Sebelumnya saya pernah bercerita tentang Papua di sini: Di Surga, Gelap Masih Ada. Sedikit tentang Beni ada di tulisan tersebut. Tapi saya berniat untuk menuliskannya lagi, beliau terlalu berkesan untuk tidak diceritakan secara khusus.

Saya belum begitu lama mengenal beliau, pun itu hanya hitungan hari, tapi dengan cara sederhananya, ia mampu  menempatkan diri untuk diingat. Usianya baru masuk kepala tiga, masih terbilang muda untuk rerata orang Indonesia. Kira-kira ia hampir menempuh separuh dari seluruh usianya. Beni masih bujang, sampai cerita ini dituliskan, Beni menjabat sebagai sekertaris distrik Syahcame yang membawahi beberapa kampung: Asset, Osso, Bosma, Ogorito, Homilikia, dan Kobeta.

Beni menyebut dirinya sebagai anak negeri. Sebuah keputusan rumit untuk melebeli diri sendiri dengan sebutan sensitif tersebut. Namun, menyebut diri sebagai anak negeri merupakan bentuk nasionalisme dan kecintaan Beni sebagai warga negara, begitu menurutnya. Hal ini yang sangat amat patut untuk diapresiasi. Meski negeri dambaannya tetap datar di mata banyak orang, ia tetap lantang menyuarakan jika kemajuan bukan milik Jawa saja.

Ketika kami sampai di gerbang pelabuhan Asset, Beni adalah salah satu orang yang pertama kali melambaikan tangan. Ayunan kiri dan kanan seperti memberi isyarat 'selamat datang', senyum lebar nampak diwajahnya. Semua orang turun dari perahu, uluran tangan langsung menyambut penuh hangat. Genggamannya kencang seperti memegang parang. "Mari silakan, selamat datang di kampung Asset."

Dari pelabuhan menuju kantor desa jaraknya cukup jauh, sekira 1 km melewati jalan conblok dengan lebar tak sampai dua meter. Pinggiran jalan sudah bersih, sangat bersih. Barang satu daun pun tidak ada yang berani jatuh. "Kemarin kami kerja bakti, sa minta dorang rapikan semua untuk sambut teman-teman dari Jakarta."

Selama perjalanan kurang lebih seperempat jam itu, Beni banyak bicara tentang kampungnya, apa yang dia kerjakan, dan harapan-harapan yang ingin ia lakukan. Di Asset, di kampung di mana Beni tinggal sekarang, sudah tidak ada lagi hutan primer.

Sekira awal 2000 pemerintah gencar memperluas lahan perkebunan karet, ini bukan hal baru di Papua. Karet merupakan program tanam peninggalan kolonial di tanah cendrawasih. Selama lima tahun dari 2006 sampai 2010, tercatat luasan perkebunan karet di Papua mencapai 4.752 Ha. Lahan ini tersebar di tiga kabupaten, Boven Digoel, Merauke, dan Mappi.

Wilayah di sekitaran Asset, dan kampung lain yang berada di Kabupaten Mappi rata-rata sudah dijejaki tanaman komoditi ekspor ini. "Beberapa kali ada pengusaha minta jatah tanah untuk dibangun pabrik pengolahan karet di Syachme, tapi belum ada yang serius dan memenuhi kemauan masyarakat. Dorang minta dekat dengan mata air, sa dan warga kampung jelas menolak." Sorot mata Beni memberi isyarat bahwa yang dibicarakannya serius.

Tidak terasa seribu meter sudah dilewati. Kami sudah sampai di kantor desa, pusat dimana administrasi Distrik Syachme berlangsung. Hanya ada beberapa gedung saja, kantor distrik, rumah dinas penjaga, dan rumah guru. Satu bangunan lain yang lebih besar berada sedikit menjauh, tempat rapat dan pertemuan warga. Di depan rumah guru sudah ada beberapa kursi, belum dibuka, masih terlipat dan bersandar di dinding. Di sana sudah ada beberapa orang, para tetua yang ingin tau kabar angin apa yang kami bawa.

"Sa pernah alokasikan dana kampung untuk bikin pengolahan karet, warga dorang yang bangun, swadaya, biar nanti kalo panen toh, dorang pu karet dapat harga tinggi." Beni masih melanjutkan cerita karetnya sampai matahari benar-benar padam. Bangunan yang digunakan untuk mengeringkan karet ini sebenarnya sudah berdiri tegak, Beni bilang sudah beberapa kali difungsikan, namun tidak lagi digunakan karena perusahaan yang biasa membeli hasil panen karet sekarang sudah pergi. Dengan dalih biaya oprasional yang terlalu tinggi, mereka angkat kaki dan tidak lagi mengambil hasil bumi dari kebun orang-orang kampung.

Sekarang, sebagian besar tanaman karet yang berada di Syahcame dibiarkan begitu saja. Tidak lagi jadi tumpuan ekonomi masyarakat sekitar.

Kulkas dan Kalkulasi

Menjelang malam, setelah memperkenalkan kami dengan warga kampung, Beni berinisiatif mencarikan kami lauk. Bilangnya, hal ini semacam tradisi untuk menyambut tamu jauh. ia akan pergi berburu di hutan belakang kampung, mencarikan kami seekor rusa sebagai hidangan pembuka. Saya yang tidak ingin ketinggalan momen langka tersebut lantas meminta izin, "boleh ikut kah tidak?"

Beni melirik saya dengan tatapan tajam, seperti sorot ragu dengan kemampuan saya, matanya bertanya-tanya, apakah dia kuat dengan dingin malam, apakah dia punya nyali cukup melihat pantulan mata merah di permukaan sungai? Di rawa yang syarat dengan buaya, badan saya yang berselimut kulit saja akan jadi makanan empuk untuk empunya sungai.

Saya melapisi diri dengan busana tahan hujan, bersepatu dan membawa beberapa peralatan yang cukup mumpuni untuk pergi ke hutan. Ternyata, apa yang saya kenakan hanya jadi bahan ledekan saja. Mereka, para bapak-bapak yang pergi berburu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek saja. Di pinggangnya melingkar parang, tangannya menggenggam lampu sorot. Sudah itu saja. Jika dibandingkan dengan apa yang melekat ditubuh mereka, safety versi saya terlalu berlebihan.

Kapal menyusuri sungai, melaju perlahan menuju hilir, dua senter kuning menyala menerangi bantaran. "Gimana kita tau kalo di sana nanti ada rusa?" Hal-hal yang tidak saya ketehui terkadang jadi celetukan yang keluar begitu saja. Tidak ada yang menjawab, cara kerjanya adalah hening, senyap tanpa suara. Tak lama kemudian kapal menepi. Beni yang sudah berada di ujung kapal langsung lari tanpa instruksi. ia meluncur tanpa alas kaki, parangnya sudah digenggaman, sejajar dengan pinggang. Beni yang sudah berada di ujung kapal langsung lari tanpa instruksi. ia meluncur tanpa alas kaki, parangnya sudah digenggaman, sejajar dengan pinggang. Selang beberapa menit, rintik yang menemani kami semenjak keluar kampung berubah menjadi deras. Hujan turun tanpa basa basi, sementara Beni masih berada di tempat yang jauh. Senternya terlihat menembak ke langit, ia goyangkan cahanya, sebuah pertanda jika rusa incarannya sudah lari lebih jauh.

Rusa memiliki penciuman yang tajam, mereka peka dengan bau asing. Rusa tidak bisa didekati dari arah angin bertiup. Misal begini: Jika angin bertiup dari sebelah barat, maka pantang mendekati rusa dari arah yang sama, harus dari arah sebaliknya, arah timur. Angin membawa aroma manusia lebih cepat dari kecepatan berlari manusia itu sendiri. Beni yang beri tahu saya.

Selain cara berburu dan berlari tanpa alas kaki, ada beberapa hal yang membikin saya kagum, yaitu tradisi kakek moyang yang mereka anut masih tetap terjaga sampai hari ini, sampai tulisan ini saya buat. Dalam berburu, mereka memiliki pakem yang harus dijalani, rusa yang diburu sudah cukup dewasa, tidak sedang hamil, atau menyusui. Biasanya yang diincar adalah rusa jantan, mereka biasa sebut dengan istilah cabang. Jika malam ini ada rusa yang didapat, maka satu kampung memiliki lauk yang sama, semua makan daging dari hasil buruan yang ditangkap. "Ambil banyak juga buat apa? kita ini di kampung, tidak ada kulkas." Lagi-lagi Beni meledek saya.

Malam panjang yang bertaburan bintang dan hujan itu menjadi evaluasi panjang buat saya, antara tua dan muda, pada si miskin dan si kaya. Mereka bukan tidak mampu beli sepatu sebagai alas kaki, buat apa? Bahkan ketika telapak kaki menginjak duri, bukan luka yang didapat, malah sang duri yang meminta maaf. Secara fisik, mereka kuat dan terlatih. Apa-apa dibagi, kulkas mereka berada di alam, yang mereka butuhkan sudah tersedia, dan mereka tetap merawatnya. Mereka punya semua, termasuk kasih dan sayang dari doa-doa yang panjang.

Keberlangsungan hidup merupakan kalkulasi, perhitungan dari deret yang tidak kunjung sudah. Hari ini lauk diambil dari sungai, besok kami pergi masuk hutan untuk sarapan. Senyum, salam dan sapa terjadi secara langsung, genggaman hangat penanda eratnya persaudaraan. Tawa sedih di layar, tidak  berarti di sini. Di sini, di pelosok negeri, mereka mengayuh sampai jauh untuk tanya kabar. Mama baik, kah? Bapa dorang tidak pi ke ladang? Baru tinggal semalam, ko su tambah gode, eh?! Tidak dapat dipungkiri, dialek yang harusnya sangat asing buat saya, malah terasa kian dekat.

Ya, semua tentang perhitungan, sebuah kalkulasi hidup tanpa kulkas dan untung rugi.

...

Beni adalah sosok bagi masyarakat kampung, pemangku yang mendengar aspirasi, keluhan, dan kebutuhan warga, seorang yang mendistribusi informasi dengan baik dari hulu ke hilir, atau sebaliknya. Dari obrolan yang saya dapat, selain menyandang sebagai anak negeri, pendahulu Beni juga cukup punya taring, kakeknya sewaktu muda merupakan pemimpin perang, Beni sendiri memiliki darah keturunan Awyu, suku yang mendiami daerah aliran sungai Digul, tempat Beni tinggal sekarang.


Saya selalu percaya bahwa kebaikan tidak diceritakan oleh diri sendiri, namun berdasarkan apa yang ditangkap oleh orang lain, lalu dikisahkan sebagaimana kebaikan itu terjadi. Seperti yang sedang saya lakukan, dan yang pernah saya dengar dari warga kampung tentang Beni.

Dua hari terakhir Asset adalah tempat pulang, rute dari rumah guru menuju dermaga seolah biasa saja. Babi dan anjing yang semula menatap kami dengan pandangan curiga, kini sudah mulai melunak, menunjukan mata sayu pertanda bahwa mereka sudah jinak. Kami masih berencana melanjutkan survey lagi ke beberapa kampung, melakukan tagging dari pangkal dermaga sampai masuk ke rumah paling ujung. Bertemu dengan kepala kampung, pendeta, dan seluruh penghuninya.

Di malam ketiga, semua memori yang saya bawa penuh. Saya meminta izin Beni agar bisa dipinjamkan aset pemerintah berupa seperangkat komputer, banyak foto yang harus dipindah. Ada empat komputer gedung utama tempat administrasi Distrik Syahcame berlangsung, lengkap dengan printer dan printilan penunjang lain. Alat kemajuan zaman ini tidak menyala setiap hari, penggunaan aset pemerintah hanya dilakukan ketika ada surat yang harus dibuat, selebihnya hanya sebatas pengecekan fungsi saja.

Beni meminta saya untuk meninggalkan foto yang saya ambil selama berada di Asset dan kampung-kampung lain. Tentu saja saya tidak keberatan, terlebih Beni punya rencana untuk membikinkan website distriknya. Saya dan Beni sempat membahas ini sepintas. Di Distrik Syahcame, ada beberapa kerajinan yang menurutnya layak untuk disajikan untuk pasar nasional. Ada tradisi yang bisa dijadikan bahan belajar, dan soal bentang alam, ah sudah. Prihal ini tidak lagi perlu diperdebatkan. "Biarpun di Asset belum ada sinyal internet, cari sinyal telpon saja harus berdiri lantang di bawah tiang, paling tidak orang-orang di luar sana tau kalau Syachme punya potensi, Papua punya potensi, bukan Jawa saja."

Saya tidak menanggapi Beni untuk urusan kejawaan yang sering dia ucapkan, saya hanya bisa membatin, mungkin ada yang ia simpan tentang Jawa, barangkali gadis Jawa sana pernah meluluhkan kebatuan Beni. "Nanti apa yang bisa tak bantu, nanti aku bantu Bang Ben." Beni mengangguk, senyum sumringah dengan pundak yang bersandar di tembok memandang layar komputer. Sementara lampu di ruangan tersebut tetap berkedip mengikuti alunan disel yang juga terdengar jelas. Ada beberapa hal yang akan kami lakukan lusa, setelah survey selesai. Ambil beberapa gambar dan membicarakan hal-hal yang perlu dikemukakan.

Malam berlalu begitu menyenangkan di Asset, terlebih setelah pukul 22.00, disel sudah berhenti menyala. Semua lampu padam, tersisa kunang-kunang yang merumpun di pohon. Kemerlip kuning menyala serentak, meredup, menyala lagi di pohon yang sama. Bintang berpendar di segala penjuru, segaris galaksi selalu nampak cerah di selatan. Semudah itu mata telanjang menikmati bentang semesta, gelap, tanpa cahaya. Lalu, untuk apa kemajuan bagi orang-orang yang dianggap tertinggal? Apakah tiap dari kita harus seragam dan sama?

Pulang dan Rumah

Mengandai untuk tetap tinggal makin lama makin terbangun dengan baik, Papua jadi tempat paling menyenangkan sekaligus menantang untuk merasakan 'tetap hidup'. Kenapa saya tidak lahir di sini saja? Di tanah milik Beni dan para leluhurnya. Saya selalu berjanji dengan diri sendiri. Besok, lusa, atau jauh hari yang akan datang, saya akan kembali. Jika janji ini belum terwujud, panyebabnya hanya satu, mati muda.

Di antara lapangan kering berdebu, tower sinyal dan pepohonan yang tingginya tidak seberapa. Saya menyaksikan sendiri betapa ampuhnya kaki-kaki berlari, beradu keras dengan batang semak perdu yang dipangkas tak sampai akar. Aksi kejar-kejaran merebut bola untuk dimasukan ke gawang milik lawan. Saya hanya berani mengambil gambar dari kejauhan saja, memotret kesaktian orang-orang kampung Asset, itu sudah lebih dari cukup, tidak perlu ada pembuktian. Sepak bola pemersatu segalanya, begitu slogan mereka.

Dari kejauhan, Pak Obrim, salah satu pendamping kami dari Koramil Bade mendekat menghampiri saya, "Berkemas, kita balik kanan, ini perintah." Anggotanya yang juga berada di lapangan dipanggil, diminta untuk segera bersiap, seketika itu tanah lapang yang tadinya ramai dengan teriakan, jerit dan adu pandang, mendadak berhenti. Semua mata mengarah ke sumber suara, pandangan penuh tanya, ada apa?

Beni segera menghampiri Pak Obrim, memastikan apa yang sedang terjadi, kabarnya semua tim ekspedisi diminta untuk kembali ke poskonya masing-masing untuk sementara waktu. Di tempat lain, di Paniai, KKSB (Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata) melakukan serangan dan merampas beberapa pucuk senjata api milik aparat. Beni bersikeras meyakinkan dan memastikan bahwa kejadian tersebut tidak akan terjadi pada kami, tim survey di Syachme. Sayangnya, perintah komandan tidak bisa dibiarkan, pulang adalah pulang, bukan negosiasi.

Langit sudah sedikit gelap, matahari hampir pamit dari panggungnya. Tidak ada acara perpisahan seperti sambutan sumringah saat kami datang, semua berlalu dengan cepat. Speedboat yang disewa sebagai transportasi utama sudah bersiap ditepian dermaga, mesinnya sudah menyala. Beni mulai murung, raut wajahnya mulai tidak teratur, senyumnya hanya di pangkal saja, kecut. Beni juga ikut menghantarkan kami serombongan menuju ujung kampung, di dermaga, semua orang bersalaman, saling berpeluk, berjaga-jaga andai kata tidak ada lagi kembali ke kampung mereka. Di wajahnya yang terlihat masam itu, Beni adalah satu-satunya orang yang menolak untuk mengulurkan tangan, tidak ada sentuh tangan, tidak ada jabat tangan. Beni punya keyakinan, jika perginya kami, bukan sebuah perpisahan. Jabat tangan hanya dilakukan ketika tidak ada pertemuan lagi dalam waktu dekat.

Sedikit keyakinan yang menugundang banyak kesedihan, Beni melambai saat kami mulai menjauh meninggalkan Kampung Asset. Sebelum kami pergi, Beni sempat bilang "Besok kalian kembali lagi, tugas kalian belum selesai." Meski tidak ada sepatah jawaban sebagai bentuk kepastian, keyakinan terus ditanamkan. Terlebih banyak rencana dan urusan yang harusnya kami tunaikan sebelum ada pamit dan pulang.

...

Beberapa hari sudah dilewati, akhirnya kabar yang ditunggu datang juga, ekspedisi dihentikan, konflik belum usai. Harapan saya untuk kembali ke Asset makin menjauh, tim ditarik untuk dikumpulkan lagi di Merauke, lalu diterbangkan ke Jayapura sebelum kembali ke Jakarta dan pulang ke rumah masing-masing. Selama di Bade, saya berusaha untuk menghubungi Beni, saya menelusur dan mendapat nomor Beni dari Kepala Distrik. Alasannya sederhana, apa yang sudah jadi rencana harusnya segera dimulai agar selesai.

Seminggu lebih saya mengirim pesan singkat tanpa tau pesan yang saya kirim sampai atau hanya berada di pelataran tower sinyal kampung saja.

Mungkin besok, atau lusa, saya akan mencoba menghubungi Beni lagi. Tukar kabar agar tidak ada ingatan yang berhianat.

Ternyata pulang itu berat, terlebih pulang dari tempat yang sebentar saja sudah terasa seperti rumah. Rumahku adalah rumahmu, tempat di mana nyaman dan hangat kasih sayang beradu padu, berbenah dan cita-cita menjadi syarat dasar agar tetap bahagia.

Sampai jumpa dipemakluman berikutnya, dipertemuan panjang di mana pulangku adalah rumahmu, janngan berhenti bersuara, kemajuan bukan Jawa saja.
Terima kasih orang baik. Hidup!

Yogyakarta, 03-08-2020
SON