Embun Kesiangan



Jadi, kaki-kaki itu mulai cengeng saat diajak memijak, gejolak air mata kerap kali merundung agar dapat perhatian, tapi ditolak.

Mengkudu separuh matang jatuh lagi ke air, mengalir ikut deras riam mendekati hilir, namun lupa mudik. Perginya tidak pernah kembali.

Buku-buku dibuka lagi tanpa dibaca, sampulnya disobek, halaman pertama disobek, halaman terakhir disobek. Pembuka dan penutup dibikin hilang agar tak pernah dimulai, juga tak pernah selesai untuk dihentikan.

Angin semilir mengetuk pintu dari luar, meminta izin untuk masuk menyaksikan pergumulan. Dari sore kemarin, mendung tak beranjak. Namun tetesan hujan pertama baru datang pagi ini. Mewakili embun di atas pucuk padi.

Tubuh lemas itu luka-luka, serantai bekas gigi memutar dari pangkal paha sampai punggung belakang. Di dada, di lengan, di ketiak, di leher, di banyak tempat di badan yang tetap tersenyum. Perih.

Pukul dua dinihari, jangkrik jantan kembali menyalak, keluar masuk lubang menanti jawaban dari deriknya yang panjang. Ia kemana? Dan ribuan pertanyaan melintas seperti parade festival penghujung tahun.

Sudah kertas ketiga, kumpulan kata-kata tetap pada tempatnya, membisu dingin seperti embun beku di kulkas yang tidak pernah terisi, kosong, tetap kosong dan selalu kosong.

Bilangnya, silakan masuk, pagar depan tidak dikunci, di taman ada satu kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat sebentar. Jangan sungkan jika ingin masuk, ketuk saja, rebahan di dalam. Pintu utama juga tidak terkunci rumah ini bisa jadi tempat singgah, tapi jangan ubah tata letak yang ada di dalamnya.

Selamat datang.

Pungut, Roti dan Kopi - Andalas

 



Kali pertama ke sekian, Andalas merupakan tujuan yang belum pernah dijamah. Bukan tentang pesawat, bukan juga tentang berlayarnya kapal menuju barat, kali ini seperti petualangan segar yang baru saja dilakukan.

Terbang dimangsa pandemi membawa kegaduhan sendiri buat saya, orang-orang yang tak lepas dari masker dan handsanitizer saling duduk bersama, bersebelahan. Doanya: pulang pergi selamat. Padahal, ya, gak tau juga. Terlebih korona besarnya tak kasat mata.

Di pesawat, seorang ibu-ibu duduk disebelah saya, terjeda satu kursi, tidak semua kursi boleh diisi. Kepalanya selalu menengok jendela, pandangannya ke arah luar. Mungkin ia sedang menerka hebat, golongan apa yang akan selamat, orang baik macam apa yang akan bertahan dan terus sehat? Kami tidak saling tegur sapa, dihadapan wajahnya sudah terpasang face shield, bermasker dan berkacamata. Di waktu seperti ini, tampilan dengan protokol lengkap sudah menjadi isyarat, hentikan komunikasi, kita bisa sendiri-sendiri.

Biasanya, saya paling suka basa-basi, sekedar tanya, ibu mau ke mana? Atau hal lain yang jadi pangkal pembicaraan. Namun kemarin saya memilih diam, dan berharap ketiduran datang lebih cepat. Karena sadar, tidak pernah menyenangkan. 

Di Medan saya sudah ditunggu oleh Pak Pungut. Rekanan yang akan menghantarkan saya sampai lokasi pembangunan pusat rehab baru di Sumatra  Utara. Pak Pungut memberi saya clue untuk bisa menemukannya. Foto selfie menggunakan  baju polisi, hanya sebatas sandang saja. Secara pekerjaan, ia bukan abdi negara. Pak Pungut adalah aktivis satwa yang sudah cukup lama mendesikasikan hidupnya untuk berjuang dan memperjuangkan kemerdekaan makhluk lain.

Kualanamu menuju Desa Bukitmas, Besitang. Desa ini berbatasan dengan Aceh, sekira 20 menit lagi perjalanan, gerbang serambi mekah sudah kelihatan. Ada beberapa lintasan alternatif, namun Pak Pungut mengajak saya untuk melihat sekitar sebentar, seputar Medan dari sudut pandang perjuangan. Makam pahlawan, istana maimun, dan pecinan.

"Ini pusat ALS, pak." Pak Pungut memberi informasi detail, beliau layik sebagai pemandu tour internasional. Tentang ALS, bus ini sudah menjadi identitas Medan. Dulu, saat ada mobil melaju kencang dan ugal-ugalan, pengendaranya pasti dijuki supir Medan. Semelekat itu dunia jalan dan kearifan Medan.

Rute kami cukup panjang, kami beberapa kali singgah untuk cari peralatan, di Tanjungpura, saya sempat diajak mampir di salah satu toko roti yang konon sudah turun temurun. Bukan cuma jual roti saja, ada kopi, soto, sate, dan beberapa makanan berat lain. Toko Roti Restu, dijajaran kuliner Sumatra Utara, tempat ini sudah melegenda dan menjadi rekomendasi tempat wajib yang dikunjungi di Tanjungpura. Pun nuansa pertokoan di sini nampak lawas, bangunan kuno bekas peninggalan Belanda.

Untuk citarasa, menurut saya biasa saja. Olesan selai di punggung roti bakar terasa manis gurih, kopi yang disajikan kental. Cukup baik, saya belum menemukan sisi spesial berdasarkan citarasa. Mungkin kelegendaan tempat ini dibangun oleh nuansa magis Belanda dan konsistensi resep yang dilanjutkan turun temurun.

Tidak ada yang lebih nikmat dari masakan ibu, standar enak yang sudah dibangun sejak kecil. Barangkali, suatu hari nanti standar enak tersebut akan bergeser, dari masakan ibu, ke masakan kamu. Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya.

Terima Kasih, Jakarta


Keberpihakan antara pergi dan memilih tetap tinggal, siapa sangka, Jakarta menaruh sisi baiknya di singgasana sederhana ini. Tidak lahir di ibu kota, menjadikan Jakarta asing buat saya. Ya, saya tidak suka Jakarta, kecintaan saya pada kota ini hanya karena beberapa manusia yang ada di dalamnya. Tidak Jakarta secara keseluruhan.

Agenda kerja mengharuskan saya mampir, singgah sebentar untuk menlanjutkan perjalanan. Besok, saya akan berucap sampai jumpa lagi pada Jakarta. Berpisah dari kebisingan dan segala kegaduhan yang ada di sana. Terima kasih, ya.


Teruntuk bantal yang membahagiakan tengkuk, teruntuk selimut yang membantu menghangatkan, kalian luar biasa. Kesenangan tinggal semalam, cerita, dan segala keangkuhan tentang Jakarta sirna, tunai. Semua sudah selesai. Dendam, dengki pada junjungan pusat pemerintahan dan ekonomi negara sudah mereda.


Jika suatu hari ada Jakarta berikutnya, mungkin akan biasa saja. Tanpamu, dan semua kenangan yang ada di antara gelap dari Jakarta yang benderang.


Andalas, selamat datang. 

Kameo di Kisah Lain




Ketika mata terpejam sebentar, beberapa banyangan datang
Salah satunya bertanya
Apakah aku punya peran penting?
Atau hanya muncul sebagai penokohan saja?
Jangan-jangan, kamu memang tidak mencari aku
tapi, aku menemukanmu, dan kamu tidak merasa ditemukan.

Ternyata, kamu bukan siapa-siapa, pun, aku tak pernah jadi apa-apa


~


Beni, Bara Api di Timur Pertiwi


Selamat datang

Buat saya, Papua adalah kasih dan sayang. Tempat di mana saya menemukan makna 'kaya' sesungguhnya. Sebuah pulau paling timur Indonesia yang akan saya kunjungi lagi di kemudian hari.

Juli 2018, kali pertama saya melakukan perjalanan udara paling jauh, perjalanan darat paling panjang, dan perjalanan air paling melelahkan. Paket lengkap untuk merasakan remuk di waktu yang berurutan. Sebelumnya saya pernah bercerita tentang Papua di sini: Di Surga, Gelap Masih Ada. Sedikit tentang Beni ada di tulisan tersebut. Tapi saya berniat untuk menuliskannya lagi, beliau terlalu berkesan untuk tidak diceritakan secara khusus.

Saya belum begitu lama mengenal beliau, pun itu hanya hitungan hari, tapi dengan cara sederhananya, ia mampu  menempatkan diri untuk diingat. Usianya baru masuk kepala tiga, masih terbilang muda untuk rerata orang Indonesia. Kira-kira ia hampir menempuh separuh dari seluruh usianya. Beni masih bujang, sampai cerita ini dituliskan, Beni menjabat sebagai sekertaris distrik Syahcame yang membawahi beberapa kampung: Asset, Osso, Bosma, Ogorito, Homilikia, dan Kobeta.

Beni menyebut dirinya sebagai anak negeri. Sebuah keputusan rumit untuk melebeli diri sendiri dengan sebutan sensitif tersebut. Namun, menyebut diri sebagai anak negeri merupakan bentuk nasionalisme dan kecintaan Beni sebagai warga negara, begitu menurutnya. Hal ini yang sangat amat patut untuk diapresiasi. Meski negeri dambaannya tetap datar di mata banyak orang, ia tetap lantang menyuarakan jika kemajuan bukan milik Jawa saja.

Ketika kami sampai di gerbang pelabuhan Asset, Beni adalah salah satu orang yang pertama kali melambaikan tangan. Ayunan kiri dan kanan seperti memberi isyarat 'selamat datang', senyum lebar nampak diwajahnya. Semua orang turun dari perahu, uluran tangan langsung menyambut penuh hangat. Genggamannya kencang seperti memegang parang. "Mari silakan, selamat datang di kampung Asset."

Dari pelabuhan menuju kantor desa jaraknya cukup jauh, sekira 1 km melewati jalan conblok dengan lebar tak sampai dua meter. Pinggiran jalan sudah bersih, sangat bersih. Barang satu daun pun tidak ada yang berani jatuh. "Kemarin kami kerja bakti, sa minta dorang rapikan semua untuk sambut teman-teman dari Jakarta."

Selama perjalanan kurang lebih seperempat jam itu, Beni banyak bicara tentang kampungnya, apa yang dia kerjakan, dan harapan-harapan yang ingin ia lakukan. Di Asset, di kampung di mana Beni tinggal sekarang, sudah tidak ada lagi hutan primer.

Sekira awal 2000 pemerintah gencar memperluas lahan perkebunan karet, ini bukan hal baru di Papua. Karet merupakan program tanam peninggalan kolonial di tanah cendrawasih. Selama lima tahun dari 2006 sampai 2010, tercatat luasan perkebunan karet di Papua mencapai 4.752 Ha. Lahan ini tersebar di tiga kabupaten, Boven Digoel, Merauke, dan Mappi.

Wilayah di sekitaran Asset, dan kampung lain yang berada di Kabupaten Mappi rata-rata sudah dijejaki tanaman komoditi ekspor ini. "Beberapa kali ada pengusaha minta jatah tanah untuk dibangun pabrik pengolahan karet di Syachme, tapi belum ada yang serius dan memenuhi kemauan masyarakat. Dorang minta dekat dengan mata air, sa dan warga kampung jelas menolak." Sorot mata Beni memberi isyarat bahwa yang dibicarakannya serius.

Tidak terasa seribu meter sudah dilewati. Kami sudah sampai di kantor desa, pusat dimana administrasi Distrik Syachme berlangsung. Hanya ada beberapa gedung saja, kantor distrik, rumah dinas penjaga, dan rumah guru. Satu bangunan lain yang lebih besar berada sedikit menjauh, tempat rapat dan pertemuan warga. Di depan rumah guru sudah ada beberapa kursi, belum dibuka, masih terlipat dan bersandar di dinding. Di sana sudah ada beberapa orang, para tetua yang ingin tau kabar angin apa yang kami bawa.

"Sa pernah alokasikan dana kampung untuk bikin pengolahan karet, warga dorang yang bangun, swadaya, biar nanti kalo panen toh, dorang pu karet dapat harga tinggi." Beni masih melanjutkan cerita karetnya sampai matahari benar-benar padam. Bangunan yang digunakan untuk mengeringkan karet ini sebenarnya sudah berdiri tegak, Beni bilang sudah beberapa kali difungsikan, namun tidak lagi digunakan karena perusahaan yang biasa membeli hasil panen karet sekarang sudah pergi. Dengan dalih biaya oprasional yang terlalu tinggi, mereka angkat kaki dan tidak lagi mengambil hasil bumi dari kebun orang-orang kampung.

Sekarang, sebagian besar tanaman karet yang berada di Syahcame dibiarkan begitu saja. Tidak lagi jadi tumpuan ekonomi masyarakat sekitar.

Kulkas dan Kalkulasi

Menjelang malam, setelah memperkenalkan kami dengan warga kampung, Beni berinisiatif mencarikan kami lauk. Bilangnya, hal ini semacam tradisi untuk menyambut tamu jauh. ia akan pergi berburu di hutan belakang kampung, mencarikan kami seekor rusa sebagai hidangan pembuka. Saya yang tidak ingin ketinggalan momen langka tersebut lantas meminta izin, "boleh ikut kah tidak?"

Beni melirik saya dengan tatapan tajam, seperti sorot ragu dengan kemampuan saya, matanya bertanya-tanya, apakah dia kuat dengan dingin malam, apakah dia punya nyali cukup melihat pantulan mata merah di permukaan sungai? Di rawa yang syarat dengan buaya, badan saya yang berselimut kulit saja akan jadi makanan empuk untuk empunya sungai.

Saya melapisi diri dengan busana tahan hujan, bersepatu dan membawa beberapa peralatan yang cukup mumpuni untuk pergi ke hutan. Ternyata, apa yang saya kenakan hanya jadi bahan ledekan saja. Mereka, para bapak-bapak yang pergi berburu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek saja. Di pinggangnya melingkar parang, tangannya menggenggam lampu sorot. Sudah itu saja. Jika dibandingkan dengan apa yang melekat ditubuh mereka, safety versi saya terlalu berlebihan.

Kapal menyusuri sungai, melaju perlahan menuju hilir, dua senter kuning menyala menerangi bantaran. "Gimana kita tau kalo di sana nanti ada rusa?" Hal-hal yang tidak saya ketehui terkadang jadi celetukan yang keluar begitu saja. Tidak ada yang menjawab, cara kerjanya adalah hening, senyap tanpa suara. Tak lama kemudian kapal menepi. Beni yang sudah berada di ujung kapal langsung lari tanpa instruksi. ia meluncur tanpa alas kaki, parangnya sudah digenggaman, sejajar dengan pinggang. Beni yang sudah berada di ujung kapal langsung lari tanpa instruksi. ia meluncur tanpa alas kaki, parangnya sudah digenggaman, sejajar dengan pinggang. Selang beberapa menit, rintik yang menemani kami semenjak keluar kampung berubah menjadi deras. Hujan turun tanpa basa basi, sementara Beni masih berada di tempat yang jauh. Senternya terlihat menembak ke langit, ia goyangkan cahanya, sebuah pertanda jika rusa incarannya sudah lari lebih jauh.

Rusa memiliki penciuman yang tajam, mereka peka dengan bau asing. Rusa tidak bisa didekati dari arah angin bertiup. Misal begini: Jika angin bertiup dari sebelah barat, maka pantang mendekati rusa dari arah yang sama, harus dari arah sebaliknya, arah timur. Angin membawa aroma manusia lebih cepat dari kecepatan berlari manusia itu sendiri. Beni yang beri tahu saya.

Selain cara berburu dan berlari tanpa alas kaki, ada beberapa hal yang membikin saya kagum, yaitu tradisi kakek moyang yang mereka anut masih tetap terjaga sampai hari ini, sampai tulisan ini saya buat. Dalam berburu, mereka memiliki pakem yang harus dijalani, rusa yang diburu sudah cukup dewasa, tidak sedang hamil, atau menyusui. Biasanya yang diincar adalah rusa jantan, mereka biasa sebut dengan istilah cabang. Jika malam ini ada rusa yang didapat, maka satu kampung memiliki lauk yang sama, semua makan daging dari hasil buruan yang ditangkap. "Ambil banyak juga buat apa? kita ini di kampung, tidak ada kulkas." Lagi-lagi Beni meledek saya.

Malam panjang yang bertaburan bintang dan hujan itu menjadi evaluasi panjang buat saya, antara tua dan muda, pada si miskin dan si kaya. Mereka bukan tidak mampu beli sepatu sebagai alas kaki, buat apa? Bahkan ketika telapak kaki menginjak duri, bukan luka yang didapat, malah sang duri yang meminta maaf. Secara fisik, mereka kuat dan terlatih. Apa-apa dibagi, kulkas mereka berada di alam, yang mereka butuhkan sudah tersedia, dan mereka tetap merawatnya. Mereka punya semua, termasuk kasih dan sayang dari doa-doa yang panjang.

Keberlangsungan hidup merupakan kalkulasi, perhitungan dari deret yang tidak kunjung sudah. Hari ini lauk diambil dari sungai, besok kami pergi masuk hutan untuk sarapan. Senyum, salam dan sapa terjadi secara langsung, genggaman hangat penanda eratnya persaudaraan. Tawa sedih di layar, tidak  berarti di sini. Di sini, di pelosok negeri, mereka mengayuh sampai jauh untuk tanya kabar. Mama baik, kah? Bapa dorang tidak pi ke ladang? Baru tinggal semalam, ko su tambah gode, eh?! Tidak dapat dipungkiri, dialek yang harusnya sangat asing buat saya, malah terasa kian dekat.

Ya, semua tentang perhitungan, sebuah kalkulasi hidup tanpa kulkas dan untung rugi.

...

Beni adalah sosok bagi masyarakat kampung, pemangku yang mendengar aspirasi, keluhan, dan kebutuhan warga, seorang yang mendistribusi informasi dengan baik dari hulu ke hilir, atau sebaliknya. Dari obrolan yang saya dapat, selain menyandang sebagai anak negeri, pendahulu Beni juga cukup punya taring, kakeknya sewaktu muda merupakan pemimpin perang, Beni sendiri memiliki darah keturunan Awyu, suku yang mendiami daerah aliran sungai Digul, tempat Beni tinggal sekarang.


Saya selalu percaya bahwa kebaikan tidak diceritakan oleh diri sendiri, namun berdasarkan apa yang ditangkap oleh orang lain, lalu dikisahkan sebagaimana kebaikan itu terjadi. Seperti yang sedang saya lakukan, dan yang pernah saya dengar dari warga kampung tentang Beni.

Dua hari terakhir Asset adalah tempat pulang, rute dari rumah guru menuju dermaga seolah biasa saja. Babi dan anjing yang semula menatap kami dengan pandangan curiga, kini sudah mulai melunak, menunjukan mata sayu pertanda bahwa mereka sudah jinak. Kami masih berencana melanjutkan survey lagi ke beberapa kampung, melakukan tagging dari pangkal dermaga sampai masuk ke rumah paling ujung. Bertemu dengan kepala kampung, pendeta, dan seluruh penghuninya.

Di malam ketiga, semua memori yang saya bawa penuh. Saya meminta izin Beni agar bisa dipinjamkan aset pemerintah berupa seperangkat komputer, banyak foto yang harus dipindah. Ada empat komputer gedung utama tempat administrasi Distrik Syahcame berlangsung, lengkap dengan printer dan printilan penunjang lain. Alat kemajuan zaman ini tidak menyala setiap hari, penggunaan aset pemerintah hanya dilakukan ketika ada surat yang harus dibuat, selebihnya hanya sebatas pengecekan fungsi saja.

Beni meminta saya untuk meninggalkan foto yang saya ambil selama berada di Asset dan kampung-kampung lain. Tentu saja saya tidak keberatan, terlebih Beni punya rencana untuk membikinkan website distriknya. Saya dan Beni sempat membahas ini sepintas. Di Distrik Syahcame, ada beberapa kerajinan yang menurutnya layak untuk disajikan untuk pasar nasional. Ada tradisi yang bisa dijadikan bahan belajar, dan soal bentang alam, ah sudah. Prihal ini tidak lagi perlu diperdebatkan. "Biarpun di Asset belum ada sinyal internet, cari sinyal telpon saja harus berdiri lantang di bawah tiang, paling tidak orang-orang di luar sana tau kalau Syachme punya potensi, Papua punya potensi, bukan Jawa saja."

Saya tidak menanggapi Beni untuk urusan kejawaan yang sering dia ucapkan, saya hanya bisa membatin, mungkin ada yang ia simpan tentang Jawa, barangkali gadis Jawa sana pernah meluluhkan kebatuan Beni. "Nanti apa yang bisa tak bantu, nanti aku bantu Bang Ben." Beni mengangguk, senyum sumringah dengan pundak yang bersandar di tembok memandang layar komputer. Sementara lampu di ruangan tersebut tetap berkedip mengikuti alunan disel yang juga terdengar jelas. Ada beberapa hal yang akan kami lakukan lusa, setelah survey selesai. Ambil beberapa gambar dan membicarakan hal-hal yang perlu dikemukakan.

Malam berlalu begitu menyenangkan di Asset, terlebih setelah pukul 22.00, disel sudah berhenti menyala. Semua lampu padam, tersisa kunang-kunang yang merumpun di pohon. Kemerlip kuning menyala serentak, meredup, menyala lagi di pohon yang sama. Bintang berpendar di segala penjuru, segaris galaksi selalu nampak cerah di selatan. Semudah itu mata telanjang menikmati bentang semesta, gelap, tanpa cahaya. Lalu, untuk apa kemajuan bagi orang-orang yang dianggap tertinggal? Apakah tiap dari kita harus seragam dan sama?

Pulang dan Rumah

Mengandai untuk tetap tinggal makin lama makin terbangun dengan baik, Papua jadi tempat paling menyenangkan sekaligus menantang untuk merasakan 'tetap hidup'. Kenapa saya tidak lahir di sini saja? Di tanah milik Beni dan para leluhurnya. Saya selalu berjanji dengan diri sendiri. Besok, lusa, atau jauh hari yang akan datang, saya akan kembali. Jika janji ini belum terwujud, panyebabnya hanya satu, mati muda.

Di antara lapangan kering berdebu, tower sinyal dan pepohonan yang tingginya tidak seberapa. Saya menyaksikan sendiri betapa ampuhnya kaki-kaki berlari, beradu keras dengan batang semak perdu yang dipangkas tak sampai akar. Aksi kejar-kejaran merebut bola untuk dimasukan ke gawang milik lawan. Saya hanya berani mengambil gambar dari kejauhan saja, memotret kesaktian orang-orang kampung Asset, itu sudah lebih dari cukup, tidak perlu ada pembuktian. Sepak bola pemersatu segalanya, begitu slogan mereka.

Dari kejauhan, Pak Obrim, salah satu pendamping kami dari Koramil Bade mendekat menghampiri saya, "Berkemas, kita balik kanan, ini perintah." Anggotanya yang juga berada di lapangan dipanggil, diminta untuk segera bersiap, seketika itu tanah lapang yang tadinya ramai dengan teriakan, jerit dan adu pandang, mendadak berhenti. Semua mata mengarah ke sumber suara, pandangan penuh tanya, ada apa?

Beni segera menghampiri Pak Obrim, memastikan apa yang sedang terjadi, kabarnya semua tim ekspedisi diminta untuk kembali ke poskonya masing-masing untuk sementara waktu. Di tempat lain, di Paniai, KKSB (Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata) melakukan serangan dan merampas beberapa pucuk senjata api milik aparat. Beni bersikeras meyakinkan dan memastikan bahwa kejadian tersebut tidak akan terjadi pada kami, tim survey di Syachme. Sayangnya, perintah komandan tidak bisa dibiarkan, pulang adalah pulang, bukan negosiasi.

Langit sudah sedikit gelap, matahari hampir pamit dari panggungnya. Tidak ada acara perpisahan seperti sambutan sumringah saat kami datang, semua berlalu dengan cepat. Speedboat yang disewa sebagai transportasi utama sudah bersiap ditepian dermaga, mesinnya sudah menyala. Beni mulai murung, raut wajahnya mulai tidak teratur, senyumnya hanya di pangkal saja, kecut. Beni juga ikut menghantarkan kami serombongan menuju ujung kampung, di dermaga, semua orang bersalaman, saling berpeluk, berjaga-jaga andai kata tidak ada lagi kembali ke kampung mereka. Di wajahnya yang terlihat masam itu, Beni adalah satu-satunya orang yang menolak untuk mengulurkan tangan, tidak ada sentuh tangan, tidak ada jabat tangan. Beni punya keyakinan, jika perginya kami, bukan sebuah perpisahan. Jabat tangan hanya dilakukan ketika tidak ada pertemuan lagi dalam waktu dekat.

Sedikit keyakinan yang menugundang banyak kesedihan, Beni melambai saat kami mulai menjauh meninggalkan Kampung Asset. Sebelum kami pergi, Beni sempat bilang "Besok kalian kembali lagi, tugas kalian belum selesai." Meski tidak ada sepatah jawaban sebagai bentuk kepastian, keyakinan terus ditanamkan. Terlebih banyak rencana dan urusan yang harusnya kami tunaikan sebelum ada pamit dan pulang.

...

Beberapa hari sudah dilewati, akhirnya kabar yang ditunggu datang juga, ekspedisi dihentikan, konflik belum usai. Harapan saya untuk kembali ke Asset makin menjauh, tim ditarik untuk dikumpulkan lagi di Merauke, lalu diterbangkan ke Jayapura sebelum kembali ke Jakarta dan pulang ke rumah masing-masing. Selama di Bade, saya berusaha untuk menghubungi Beni, saya menelusur dan mendapat nomor Beni dari Kepala Distrik. Alasannya sederhana, apa yang sudah jadi rencana harusnya segera dimulai agar selesai.

Seminggu lebih saya mengirim pesan singkat tanpa tau pesan yang saya kirim sampai atau hanya berada di pelataran tower sinyal kampung saja.

Mungkin besok, atau lusa, saya akan mencoba menghubungi Beni lagi. Tukar kabar agar tidak ada ingatan yang berhianat.

Ternyata pulang itu berat, terlebih pulang dari tempat yang sebentar saja sudah terasa seperti rumah. Rumahku adalah rumahmu, tempat di mana nyaman dan hangat kasih sayang beradu padu, berbenah dan cita-cita menjadi syarat dasar agar tetap bahagia.

Sampai jumpa dipemakluman berikutnya, dipertemuan panjang di mana pulangku adalah rumahmu, janngan berhenti bersuara, kemajuan bukan Jawa saja.
Terima kasih orang baik. Hidup!

Yogyakarta, 03-08-2020
SON



Aku dan Tunas Sawi di Halaman Rumah


"Semua yang aku lihat, tumbuh. Terkadang bergerak meski tak kasat mata. Sesekali mereka menghilang. Pergi ke antah yang tidak tau di mana tempatnya."

Aku memiliki sebuah keyakinan jika semua yang ada di bumi atau di semesta lain, sebetulnya saling terhubung, memiliki ikatan untuk membuat sebuah pesan menjadi kesepakatan. Memberi informasi dari banyak bahasa tanpa perlu ada lisan yang dijabarkan. Gerak tubuh yang mengisyaratkan sesuatu, tanda-tanda yang disepakati; ya atau tidak, 0 atau 1, baik atau lebih baik, sebuah gerakan untuk menggambarkan kepanikan, ketakutan, bahagia, sedih, lucu, bahkan marah. Biner panjang yang merangkai sebuah senyum dan membaginya menjadi banyak bagian. Senyum senang, senyum ramah, senyum perkenalan, senyum pamit, senyum kesal, dan senyum lain. Simbol-simbol ini sudah kita pahami, dan menjadi kesepakan naluriah dari-diri-sendiri, pada diri-sendiri-yang-lain.

Aku membagi diriku menjadi tiga individu; diriku sebagai alat, diriku sebagai nafsu, dan diriku sebagai nurani. Kami rutin melakukan rapat evaluasi mingguan, untuk memperbaiki minggu selanjutnya dari waktu kemarin, juga menakar seluruh hal yang sudah kami lakukan, mengklasifikasikannya menjadi suatu yang perlu diulang, atau tidak sama sekali. Aku menyebutnya ‘evolusi rasa’, media berbenah dari partikel paling kecil dari diri sendiri. Pada intinya, mereka adalah aku ketika dianggap sebagai sebuah kesatuan.
Semua individu ingin didengar, punya tempat bercerita untuk bertukar pikiran, atau sekedar memberi kisah tanpa butuh tanggapan. Aku, tubuhku, dan otoritas pikiranku.

Selayaknya batang sawi yang tetap tumbuh dalam gelap, mengawali kehidupan dari biji, kecambah, lantas merekah. Sawi berproses tanpa kenal tetangganya, juga tanpa tau siapa sawi sebenarnya. Di ruang sempit yang kerap luput dari tanya dan jawab, apakah sawi meraba detik-detik yang akan datang? Apakah sawi juga merapal doa pada penciptanya? Ah, mungkin saja iya, atau malah tidak sama sekali. Karena sudah secara otomatis kehidupan sawi terjauh dari dosa dan segala apa-apanya. Barangkali sawi tidak sempat memikirkan afeksi dari sesamanya, seperti yang perlu diulang: sawi berproses tanpa kenal tetangganya. Relasi dan aktulisasi diri bagi sawi adalah omong kosong yang tidak perlu dipertanggungjawabkan pada siapapun. Antara tanah, cacing, air, dan makhluk dekomposer. Hierarki kebutuhan sawi tidak serumit aku ketika menjadi satu kesatuan.

Tiap-tiap partikel yang tidak pernah berhenti selalu saja menjunjung tinggi nama cahaya, sebagai ilahi, atau sumber penghidupan pada terang, pada yang menembus jendela menuju sasana, berpendar menerangi seisi waktu yang tidak menentu. Aku, sawi, dan bentuk-bentuk lain dari keniscayaan.

Nukleus minta pulang.


Catatan untuk Menghargai Pergi agar Pulang





Pengantar yang Sesungguhnya Tidak Perlu

Seperti terapi, kadang baik, juga kadang tidak baik, tergantung kadar dan kebutuhan. Ikuti saja, toh kekaguman yang aku dan kamu rasakan sekarang sudah jadi bagian dari rencana Tuhan. Sekeras apapun kita memaksa, tanpa izin dari-Nya, semua akan sia-sia. Kiranya begitu kepercayaan yang aku anut. Agar tau batasan dari suatu yang tak terbatas.

Barangkali kamu pernah mendengar ‘tidak ada usaha yang sia-sia, tidak ada yang tidak mungkin’, ya, benar, setiap usaha tidak ada yang sia-sia, dan semua bisa menjadi mungkin karena sebuah kemungkinan yang dimungkinkan. Tapi, sesekali sebagai selingan, aku mengajakmu untuk mempercayai bahwa ada yang tidak mungkin, ada yang sia-sia, ada yang seharusnya tidak perlu. “Sebagai selingan” karena menjadi terlalu yakin pada yang tak meyakinkan juga tidak baik.

Hidup hanya hidup, semua sudah diatur.

Aku banyak bertemu dengan orang yang berambisi dengan dunianya, mereka bilang “hidup sekali dan tidak ingin menjadikannya sia-sia,” jika aku diberi izin untuk menanggapi, memang hidup yang penuh dengan kesia-siaan itu seperti apa? Apakah dengan memilih untuk tidak banyak uang berarti hidup dalam kesia-siaan yang malang, ya?

Paradigma ini juga tumbuh subur di desa-desa, setiap anak harus sekolah agar kelak sukses, memiliki banyak uang, punya kerjaan enak. Jangan jadi seperti bapak, hanya petani dan susah. Akhirnya, tanah sawah dijual. Yang semula subur padi terhampar luas, berganti apartemen dan gedung perkantoran. Konon, negara yang kuat punya ketahanan pangan yang hebat. Nyatanya produksi beras di negeri ini kalah banyak dengan sampah yang bermuara di laut.

Aku juga banyak bertemu yang sebaliknya, mereka yang ‘katanya’ tidak begitu mengejar dunia, mereka yang sepenuhnya percaya bahwa Sang Maha sudah membuatkan alurnya; rejeki, jodoh, dan kematian. Mereka sering bilang, “kita hanya dituntut nafsu, buat apa mengejar yang sebentar jika yang abadi ditinggalkan. Pasrahkan saja, jika tidak hari ini mungkin besok, atau mungkin nanti di sana (Surga).” Sebagian dariku sepaham dengan golongan ini, sebagian diriku yang lain menerka, mencari yang pas menurutku, kemantapan yang mungkin sudah dimiliki orang lain tetapi belum ada di diriku.

Miskin itu gaya hidup, jika nanti jadi kaya, berarti sudah takdirnya, kata Anton Ismael. Dan mungkin saja secara sederhana “semua sudah diatur” diartikan seperti itu. Sebagai manusia yang bernegara, kita juga punya aturan, sebut saja undang-undang, kekal namun dinamis. Bisa saja peraturan Tuhan juga seperti itu, dinamis, tergantung seberapa fleksibel Tuhanmu, dan seberapa dipertimbangkannya dirimu oleh-Nya. Aku hanya ingin menjadi aku untuk orang lain, oleh karenaku, bukan karena orang lain, sebagai pertimbangan-Nya, boleh?

Sampai sini, harusnya aku, kamu, Anda, kita, mereka, seluruh individu yang dilahirkan, atau individu yang tidak mati muda, memilih untuk sepakat pada perbedaan, karena kita memang dilahirkan tidak dengan jiwa yang sama, tidak dengan raga yang sama, tidak dari sumber yang sama, kecuali aku dan kamu adalah saudara seperanakan. Pun, ketika kita diputuskan untuk dilahirkan dari sumber yang sama, kita akan menjadi diri kita masing-masing, juga dengan jalannya sendiri-sendiri.

Pada intinya, terima kasih karena sudah tidak merepotkan dirimu dengan menjadikan perbedaan sebagai bahan perdebatan. Catatan ini akan jadi pengingat jika tiba saatnya aku jadi seorang pelupa yang taat, dan akan menjadi memoar panjang dari kunjungan yang sebentar.

Catatan untuk Menghargai Pergi agar Pulang

Kebersamaan itu indah
Perbedaan itu menguatkan
Tak ada pembeda maka semua sama
Selalu sama maka takan ada variasi
Semua sudah ditentukan
Alur sudah terlihat
Bahwa saling melengkapi adalah kebahagiaan
Saling mengasihi merupakan anugerah 
Rezeki bukan hanya soal materi
Melainkan teman dan keluarga adalah rezeki yang diluar nalar
Bersenda gurau menyanyikan lagu senja
Itu sebagai penutup hari kami

Ungkapan hati dan harapan mahasiswa UNPAD tentang Papua, Hafidz Mukhlisin, saat mengikuti Ekspedisi NKRI dalam buku saku "Mengenal Suku-suku Papua dari Topografi Wilayah".

Kepi, 1 Agustus 2018.

Catatan ini dibuat saat beberapa hal yang aku lalui untuk pertama kali dimulai, juga di tempat yang pertama kali aku kunjungi, di Gedung Putih. Bukan, bukan di Amerika, bukan juga gedung perkantoran yang difungsikan sebagai tempat berkerja presiden beserta jajaran mentrinya dari Paman Sam itu. Gedung Putih di Kepi merupakan satu-satunya penginapan di Mappi yang bisa aku gunakan untuk tidur siang, alasannya karena tidak ada hotel lain, dan alasan yang lain, siang di hotel ini begitu santai, dan kami belum memulai perjalanan.

Banyak alasan kenapa kita memilih pergi dari kenyamanan, salah satunya; nyaman tidak selalu memberikan ketentraman, dan salah duanya, nyaman membuat kita lupa. Maka, harus ada pergi sebentar agar tau rasa pulang.
“Sehingga kemanapun kita pergi, kenyataannya kita selalu pulang. Karena ke penjuru Indonesia manapun kita melangkah, kita selalu pulang kerumah, sebuah rumah yang kaya bernama Indonesia.” -Rebiyyah Salasah
Ternyata, yang aku maksud pergi, sudah salah dari awal. Nyaman, dan selalu merasa pulang pada sebuah rumah yang kaya bernama Indonesia.

Seminggu sudah aku pergi dari Yogya, beberapa hari di Jakarta, merasakan hingar bingar dengan segala kebisingan, di mana terang bukan lagi sebuah kemewahan. Pelatihan singkat dengan wajah-wajah baru menjadikan Jakarta sama saja, tetap menjadi zona merah bagiku. Wilayah yang selalu aku garis bawahi ketika ingin mengunjunginya; kepentingan. Jakarta bukan kota yang ramah untuk berlibur.

Selama dua hari mengikuti pelatihan di Jakarta, yang berhasil aku tangkap adalah: terang, terang, terang dan terang. Papua harus terang, sederhananya begitu. Segelap apa, Papua? Apakah listrik adalah keharusan? Apakah adil harus sama rata? Pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di kepalaku. Jawa sentris menjadikan pemerataan ini sebagai ajang perbandingan.

Seklebat, pernah aku membaca sebuah pengantar dari Butet Manurung dalam buku: Yang Menyublim di Sela Hujan, milik Fawaz, buku yang menceritakan Papua, tentang pendidikan di Asmat. Ia menceritakan tentang bagaimana kerasnya kaki para porter yang ikut bersama kelompoknya saat mendaki Jaya Wijaya tahun 1993. Menggilas duri tanpa alas, menerjang tajam bebatuan dengan bebas. Belasan tahun kemudian, ia mendengar ada proyek “persepatuan” di salah satu desa di Papua. Konon, mereka menuntut donator sepatu karena setelah empat tahun memakai sepatu, dan setelah sepatu mereka tidak lagi bisa digunakan, telapak kaki-kaki mereka menjadi lembut, sehingga menjadi sakit saat digunakan berjalan di tanah Papua tanpa menggunakan sepatu.
“Nah, lebih hebat mana mereka, yang sebelum atau sesudah memakai sepatu? Sekarang, tanpa sepatu dan tanpa kaki yang kuat, bukakah mereka menjadi tergantung? Bukankah mereka menjadi lebih miskin daripada sebelumnya? Ini disebutnya bantuan, tetapi sesungguhnya pemiskinan!”
Pengantar tersebut menjadi renungan untukku, agar tak salah, dan tidak menjadikan mereka yang benar-benar kaya menjadi miskin karena ketergantungan yang sebetulnya tidak mereka inginkan. Mereka harus susah payah cari uang untuk bayar listrik. Padahal, mereka tidak butuh.

Perjalanan dimulai saat matahari sudah tenggelam, selepas senja dengan menyisakan temaram. Jakarta tetap benderang dengan kesibukannya. Pesawat melaju menuju Makasar, terbang dengan melepas panas beserta emisi keudara, khas kemajuan zaman. Di Makasar, pesawat tidak berhenti lama, seperempat jam diam untuk mengisi bahan bakar, setelahnya, burung besi yang aku tumpangi kembali terbang tinggi menuju Jayapura.

Sebelum berangkat, aku sempat mendengarkan lagu dari Edo Kondolongit, Aku Papua. Sepenggal liriknya tertulis dan menjadi kalimat pembuka di buku saku, wajar jika aku penasaran. “Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi …” Benar saja, di iringi ramah hangat matahari, setumpuk tanah berpunggung menyambut dari luar jendela, hijau warna kehidupan, dan jernih danau dari kejauhan, sebuah pagi diketinggian di atas Sentani.

Tiga jam yang panjang dari Makasar, akhirnya pesawat mendarat di Jayapura, turun bersamaan dengan air mata yang ikut jatuh ke pipi. Surga itu masih ada, gumamku dalam hati. Sekarang, diri ini makin terlihat kecil, lalu menjadi paham makna tentang pulang. Ke penjuru yang kita sepakati menjadi rumah, tanah kaya, Indonesia.

Nanti, kita akan bercerita lagi. Dan akan terus berlanjut.
Terima kasih.

Hidup!