Filterasi Doa-doa

 


Mencoba menerawang bagaimana skema harapan dibangun dengan konsep ketuhanan. Mencerna doa-doa yang dipanjatkan disetiap hembusan nafas. Merangkai hal-hal baik dari memikirkannya, kemudian memintanya kepada Tuhan agar dikabulkan, terwujud menjadi nyata seperti yang sudah dipikirkan sebelumnya.

Kembali mengingat beberapa kejadian yang lalu. Semacam mencari titik terang tentang hari ini dan kaitannya dengan masa yang sudah terlewat.

Dulu, saya pernah bertanya pada ibu, saya lupa persisnya saat usia berapa. Mungkin belum genap sepuluh, masih terlalu kecil untuk mengtahui banyak persoalan. Saya tidak tumbuh di keluarga dengan latar belakang akademisi. Biasa-biasa saja. Saya tidak tau pasti ibu tamatan apa, tapi saya yakin, dengan penuh kesederhanaan dan segala pengetahuan yang beliau ajarkan, ibu adalah orang yang cerdas.

"Bu, kenapa ya doaku gak dikabulin? Kalo belum, kok lama banget ya."

Ibu yang sedang melakukan atraksi mengendalikan api Quantum memalingkan wajahnya sebentar ke saya. Mukanya sedikit kaget, saya rasa ia kebingungan mencari jawaban, atau malah pusing bagaimana harus menjelaskan sesuatu yang rumit ke anak kecil yang bisa dipastikan tidak dapat mencerna cara kerja 'doa' dengan sempurna. Sebentar waktu kemudian, dengan diiringi senyum, ia memanggil saya, meminta saya mendekat ke area kerjanya.

"Tadi ibu udah doa kalau masakan yang lagi ibu masak, rasanya enak. Coba sekarang dicicip. Menurutmu udah enak belum?" Sambil menyodorkan kuah bening yang sudah ia ambil dengan sendok.

"Gak ada rasanya, tawar." Jawab saya dengan polos.

"Ya pasti gak ada rasanya, belum mateng, belum ibu tambahin garam, belum ada bumbu lain selain bawang dan daun salam. Apa doa ibu gak terkabul?" Ia malah balik bertanya ke saya.

Sekarang, bola bingung yang saya lempar ke ibu, diumpan lagi ke anaknya. Saya yang tidak tau mau jawab apa, langsung melengos, kembali lagi ke tempat semula, mencoba duduk tenang menghadap TV, berharap ada kalimat pamungkas dari ibu.

"Jadi gini.." Tetiba mimik wajahnya jadi serius. "Ya gimana masakan ibu bisa enak kalo gak ditambahin apa-apa. Gak cuma doa aja, harus ada usahanya, ada garemnya, ada ladanya, ada kecapnya." Lanjut ibu. Saya ngangguk, mencoba memahami sambil mengguman dalam hati, doa ini sebetulnya memiliki peranan atau tidak sama sekali. Harusnya usaha saja yang keras, pun berdoa tanpa usaha akan tetap sia-sia.

Berlalunya waktu, bertambahnya usia dan berkembangnya pandangan terhadap berbagai aspek kehidupan, kuah bening yang ibu sodorkan ke saya merupakan analogi paling masuk akal. Sekejap penjelasan paling sederhana yang bisa dicerna.

"Emang kamu doa apa?" Ibu bertanya lagi ke saya, pertanyaan ini lagi-lagi membikin saya kaget. Bimbang, bagaimana menjelaskan imajinasi yang ngawur ini ke pemikiran orang dewasa yang tidak lagi sempat berhayal? Buat saya, ke-rasionalan orang dewasa adalah bencana. Kenapa? Ya, tentu karena sukar menerima takhayul. Tapi tetap saja, mereka meyakini dan menggantungkan harapannya pada doa-doa. 

"Rocky, bu, aku doain punya sayap biar bisa terbang kayak entok."

Rocky adalah kambing jantan yang saya pelihara sejak bayi. Induknya mati, tak lama setelah mereka lahir. Saya mulai berdoa Rocky punya sayap ketika usianya masuk dua minggu, saat ia lebih memilih teh manis hangat ketimbang susu bayi. Rocky tak lagi mendapatkan susu dari sesamanya. Waktu itu kemasan susu kambing masih langka, dan tidak ada induk kambing lain di sekitaran tempat saya tinggal. Jadi, tumbuhlah ia bersama Rockly, saudara kambing betina serahim dengan tubuh kuntet dan perkembangan berat badan yang lambat. Sampai usia lebih dari satu bulan, Rocky dan Rockly hanya konsumsi teh manis dan bubur Sun saja.

"Nda, gak semua do'a mesti terkabul. Ada syaratnya, liat-liat juga. Mungkin bisa, mungkin gak sekarang, dan jangan lupa juga usahanya juga." Kali ini mimik muka ibu makin serius. Tatapannya bak hujan mata pisau, menghujam kencang tanpa ampun.

"Tapi, ya, yang masuk akal jugaa! Kalau kambingmu punya sayap, terus terbang, wah, ibu gak kebayang." Sambungnya. Wajah serius tadi pecah, perlahan mencair dihiasi senyumnya yang amat berkilauan. "Do'a disaring, Nda. Dilihat juga usahanya. Ada do'a, ada usaha, ada kemungkinan, ada keberuntungan." Ia masih melanjutkan ucapannya.

Makin saya memaknai yang ibu bilang, mungkin saat ini saya masuk golongan yang beruntung dengan segala keinginan yang terwujud tanpa melibatkan doa. Atau, berbagai keberuntungan saat ini merupakan do'a orang lain, do'a ibu, do'a ayah, tanaman dan do'a-do'a yang lain.

Pun ada benarnya kata ibu, jika semua do'a terkabul, akan jadi apa dunia ini.

Sepasang gelandangan duduk bersandar di pertokoan. Ratapannya menuju bank di sebrang jalan, mereka berdo'a mengharapkan uang seisi bank tersebut menjadi milik mereka, mengisi penuh gerobak yang menjadi tempat tidurnya.

Jika terkabul?

Ya, do'a memang disaring.

Aku, Aliran, Tai dan Kenangan



Sekali waktu, kami pernah berkunjung ke sebuah teluk di ujung Sumatra, pergi menggunakan mobil hijet 1000, masa itu usia hijet 1000 belum terlalu tua. Berlampu bulat dengan posisi mesin tepat di bawah penumpang. Apa lagi yang perlu diragukan dengan kehandalan mobil ini? Sering mogok, iya. Rewel, iya. Nyusahin juga, iya. Satu-satunya keunggulan mobil ini hanya karena bobotnya yang ringan, jadi kami tidak kerepotan meski hanya didorong dua orang.

Usia saya belum genap dua belas tahun, tapi sebuah ransel berisi dua botol air mineral 1,5 liter, senar, kail, bandul dan bekal berisi nasi, sambal, beserta lauk seadanya hinggap di punggung. Perbekalan kami mumpuni, didukung dengan semangat 'di mancing kali ini, ada banyak ikan yang bisa kami tangkap'. Optimis itu merajai pikiran, panas matahari saja tak cukup untuk menggeser tegapnya badan memegang joran, sepenuhnya arah hadap kami menyongsong laut.

Pikir saya waktu itu, "benar kata ayah, orang mancing gak bisa maju". Jelas saja, dua meter melangkah ke depan, nafas kita pasti tersendat karena gulungan ombak. Resiko yang tidak menjanjikan. Kesabaran tak berujung, harapan kami tinggi, kenyataan kami terkatung pada ikan yang entah kapan mau makan.

Hijet 1000 diisi empat orang, Mayes, Ayah, Om Usup, dan saya. Matahari sudah menunjukan gelagat pamit, sinarnya mulai sayu tenggelam di barat. Di batas ujung mata bisa melihat. Seruan 'ayo pulang' tidak terdengar, tapi kembalinya kami satu persatu ke mobil adalah panggilan senyap. Sebuah pertanda jika hari harus ditutup dengan menyudahi perburuan ikan tanpa hasil. Om Usup, adalah satu-satunya penumpang hijet 1000 yang memilih lokasi memancing paling jauh, butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki untuk sampai ke mobil. Dengan jarak tempuh seperempat jam, tubuh tegap dan tinggi tadi, hanya terlihat sebesar ibu jari. Lumayan jauh.

Di teluk yang kami kunjungi terdapat satu aliran sungai dengan air yang jernih. Saya sempat berendam di sana. Anak kecil mana yang mampu menahan panas seharian tanpa tarikan joran yang dimakan ikan? Bosan adalah naluri alamiah dari seorang bocah.

Sinar matahari mulai berganti lampu senter, jok hijet 1000 sebelah penumpang diangkat, ada radiator yang harus diisi sebelum mesin dipaksa start. Cadangan air kami tidak banyak, dua botol yang menjadi bekal sudah habis sejak siang. Cuma ada satu pilihan, air sungai, atau tidak pulang.

Kadang menjadi anak kecil ada sisi tidak enaknya, seperti senior dan junior, meski ayah dan anak, tugas-tugas seperti mengambil air harus dilakukan. Perintah langsung yang pantang ditolak. Saya tetap berangkat. Sebotol air bukan perkara sulit. Namun air sungai diluar jangkauan cahaya, saya terlalu malas untuk pergi ke sana. Toh, tidak jauh dari tempat mobil terparkir, ada aliran kecil yang bisa saya gunakan.

Saat saya mengambil air, saya menyadari ada yang tidak beres, bau tidak sedap menyerempet hidung, terhisap masuk sampai di pangkal paru-paru. Ini bukan sembarang bau, tapi botol yang saya isi sudah tiga perempat menjelang penuh, dan tetap saya lanjutkan. Botol saya tutup kencang, senter dari arah mobil menuntun jalan saya pulang. Kamu tau apa yang saya lihat? Setapruk kotoran manusia berada dua meter di atas saya. Sejalur dengan aliran di mana saya mengambil air.

"Mayes, tadi waktu aku ngambil air, ternyata diatasnya ada tai. Aku baru tau setelah botol penuh". Saya tau, pengakuan tersebut terlambat karena air sudah dituang setengah, jok sudah ditutup dan mobil sudah hidup. Kami siap berangkat, sisa Om Usup saja, dia masih berjalan, jaraknya sudah tidak jauh lagi.

"Woo, dasar, kebiasaan. Mana tadi airnya?" Mayes sedikit kesal, ini bukan pertama kalinya saya melakukan hal sejenis. Sudah terlalu banyak perkara yang saya buat. Akhirnya, sisa air tadi saya ambil dari bawah jok bagian tengah. Tapi tidak lekas saya berikan. Sementara itu Mayes keluar dari mobil, memanggil Om Usup agar berjalan lebih cepat. Botol tadi saya letakan di dashboard depan, sebetulnya saya agak jijik dengan botol tersebut. Bayangan tai masih mengedar di kepala saya.

Suara Om Usup sudah terdengar, heboh dan renyah. "Kie iwak gedi kie", becandanya. Padahal ia hanya dapat satu ikan, tidak besar, dan bukan ikan dari golongan prioritas. Kami menyebutnya ikan kemarus, ikan yang hidup di antara bebatuan dan arus kencang. Baunya amis kurang sedap, menurut saya rasanya kurang enak. Mungkin kucing doyan ikan juga akan sependapat dengan saya. Pintu dibuka, semua peralatannya diletakan di mobil bagian belakang, kemudian Om Usup langsung masuk dan duduk. 

Tidak ada perbincangan, semua seolah lupa dengan air radiator, jalanan yang rusak membuat pandangan sang supir tidak lepas dari jalan. Mayes memilah lubang demi lubang. Tetiba ayah menyenggol saya saat Om Usup meraih botol yang saya letakan di dashboard. Sebuah pertanda "lihat itu ulahmu". Di bagian tengah, saya dan ayah mencoba menyembunyikan tawa, cekikikan yang nyatanya sulit dibendung. Tidak lama kemudian Mayes sadar dan ikut cekikikan. "Sial, masalah." Pikir saya waktu itu. Saya tidak mencoba menghentikan, ayah juga begitu. Berlangsung seperti tontonan serial komedi, menarik, sebisa mungkin jangan dihentikan. 

Air sudah ditenggak berkali-kali. Mungkin panas matahari membuat Om Usup lupa bertanya, itu air apa. Ia baru angkat bicara setelah botolnya ditutup rapat kembali. "Airnya kok rasanya aneh sih, Nda?"

Tidak ada yang menjawab, tawa malah makin pecah. Saya sudah tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi cacing di dalam perut Om Usup saat mengetahui air yang lewat selang tenggorokan merupakan cairan limbah. Barangkali beberapa cacing di garda terdepan sudah pingsan.

Setengah perjalanan ditempuh, saat kejadian sudah lagi bukan penyesalan, saya menceritakan bagaimana tai tersebut mengkontaminasi air yang sekarang sudah berada di lambung Om Usup. Saya meminta maaf, dengan sisa-sisa tawa yang terlepas. "Emang lu, ya, kurangajar. Air gak bener ditaro sembarangan." Kata Om Usup dengan nada kesal separuh mual.

Dia menggerutu, tapi tidak terdengar jelas. Komponen mobil hijet 1000 sudah banyak yang kendur, suara grudak-gruduk menjadi selingan dari gumaman panjang di jalan berlubang. Setelah jalan gragal habis "... ra mati. Tapi asu, aku ngombe taiku dewe." Bagian terakhir yang terdengar sangat jelas. Epilog dari jengkel yang bukan main. Tawa kami malah menjadi lagi, ternyata kotoran di aliran yang airnya saya ambil dan diminum Om Usup adalah tainya sendiri.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, tapi rasa bersalah itu masih melekat pada diri saya. Harusnya saya bisa lebih. Kenapa cuma airnya?!




Sebidang Harapan Di Halaman Belakang

 


Setengah semester ini, sosial media diramaikan dengan tingkah konyol pemerintah, silakan lihat saja resume-nya di internet. Saya mulai jengah meliat kabar yang isinya amarah. Pun isu tentang korona saja hampir membikin separuh manusia bumi menyerah. Sekarang, lebih dari setengah penduduk indonesia khawatir dengan masa depan hidupnya. Kehancuran lingkungan dan hak-hak pribadi yang kian dirampas. Makan saja sudah susah, ditambah lagi aturan ini itu yang kian mempersempit gerakan. Tidak diberi asupan, nafas masih disengal.

Saya kira, dengan melakukan banyak perenugan, masalah akan terurai satu demi satu. Nyatanya tidak juga, yang ada perenungan tadi malah menambah masalah karena menyediakan ruang untuk imajinasi berlari lari.

Jadi begini, sedari kecil saya tidak suka keramaian, hadir dan ikut berkerumun malah membikin saya seperti dihujam badai pisau tumpul. Wajar saja jika saya kerap menghindari berpergian ke tempat padat. Suasana kampung, atau pinggiran kota dengan teman diskusi yang sesuai, saya rasa jadi formula paling pas. Tidak merasa dikejar dan terburu-buru, punya banyak pilihan, adem, ayem, tentrem.

Pejamkan mata sejenak, ambil nafas dalam-dalam, hembuskan.

Hal yang paling saya idamkan di hari-hari selanjutnya adalah punya tempat untuk istirahat tanpa gangguan bising kendaraan. Bangun pagi dengan pemandangan kabut dan hijau pepohonan, diiringi suara serangga hutan seperti tonggeret, jangkrik, juga kicau burung.

Ada satu pulau kecil di pinggiran Sumatera yang saya incar sebetulnya, harapannya saya mampu membeli lahan di sana, membangun peternakan dan mengolah pertanian. Makan dari hasil kebun sendiri, mengolah apa yang ada dan bisa dimanfaatkan.

Biar di tempat terpencil, bukan berarti menolak kemajuan, saya akan membawa serta teknologi ke pinggir peradaban. Tidak bisa dipungkiri jika akses untuk mengetahui seluruh isi bumi bisa dipegang dalam genggaman, deras dan tidak bisa dibendung.

Harapannya, kelak anak-anakku akan tumbuh dengan kemajuan yang terintegritas dengan alam. Kakinya kuat memijak, menumpu beban dan membantu masyarakat. Wawasannya tak terbatas sekat. Tujuannya sederhana, selain untuk kesenangan diri sendiri, saya juga ingin kelak anak saya punya banyak pilihan. Semisal dia bilang, “Bapak, aku mau belajar di Venus. Boleh?” Dan dengan gampang saya menjawab, “Boleh, urus paspor lintas planetmu, berkemas, lusa bapak antar. Siapkan bingkisan untuk makhluk yang kamu jumpai di sana.”

Tidak berhenti disitu, bayangan saya, kejutan akan selalu datang setiap hari. Bisa jadi durian yang saya tanam di halaman belakang akan terus berbuah sepanjang musim. Tidak perlu repot merencanakan melancong ke Medan, mampir ke Durian Ucok, dan menghabiskan banyak uang untuk sekedar menikmati hasil bumi yang bisa ditanam sendiri.

Sekeliling halaman belakang dipenuhi dengan pohon gamal, selain jadi pagar, pohon ini berfungsi sebagai tabungan pakan buat kambing-kambingku yang akan diumbar. Tidak ada pembatas besi, tidak ada konstruksi beton, pun pagarnya akan dibuaat jarang-jarang. Biar kambing membikin perbandingan antara rumput di halaman tempat tinggalnya, dan rumput milik tetangga. Saya dengan senang hati mendengarkan aspirasi para kambing tentang hak pakan dan kebebasan berlarian. Apabila masih masuk akal buat dituruti, kenapa tidak. Ayam, sapi dan dinosaurus juga boleh melakukan hal yang sama, protes jika ada yang tidak sesuai.

Letak rumahnya persis di pinggir pantai, hanya ada beberapa ruangan tertutup, kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, tempat ibadah, dapur, dan tempat kerja, semua terbuka. Arah hadapnya langsung ke laut. Material bangunannya berasal dari sampah kayu yang berserak di pantai. Ada sungai kecil, gemerciknya jadi lantunan penghantar tidur, juga ada kolam berendam yang dibikin semirip mungkin dengan kondisi mata air terdekat, berbatu dan bertingkat. Letaknya diantara dapur dan tempat kerja.

"Kamu mau makan apa hari ini? Biar aku cari dulu di kebun." Pertanyaan itu akan menjadi kalimat penghantar di obrolan kasur ketika aku dan istriku baru bangun tidur. Bergegas menilik bahan yang masih tertancap ditanah. Menyibak belalang yang lebih dulu datang untuk cari makan. Biar saja sawinya bolong. Tak apa labunya bopeng sebagian. Di sepetak lahan tadi, kita saling berbagi kehidupan.

Panel surya dan pico hydro jadi ujung tombak penerangan, gas di dapur berasal dari tabung metana yang berada di sisi kandang. Apa lagi yang kurang, Yang?

Sial, hari makin sore, agas sudah datang. Sudah waktunya pulang dan mandi, hayalan ini kita lanjut lagi besok, atau di kemudian hari.

Embun Kesiangan



Jadi, kaki-kaki itu mulai cengeng saat diajak memijak, gejolak air mata kerap kali merundung agar dapat perhatian, tapi ditolak.

Mengkudu separuh matang jatuh lagi ke air, mengalir ikut deras riam mendekati hilir, namun lupa mudik. Perginya tidak pernah kembali.

Buku-buku dibuka lagi tanpa dibaca, sampulnya disobek, halaman pertama disobek, halaman terakhir disobek. Pembuka dan penutup dibikin hilang agar tak pernah dimulai, juga tak pernah selesai untuk dihentikan.

Angin semilir mengetuk pintu dari luar, meminta izin untuk masuk menyaksikan pergumulan. Dari sore kemarin, mendung tak beranjak. Namun tetesan hujan pertama baru datang pagi ini. Mewakili embun di atas pucuk padi.

Tubuh lemas itu luka-luka, serantai bekas gigi memutar dari pangkal paha sampai punggung belakang. Di dada, di lengan, di ketiak, di leher, di banyak tempat di badan yang tetap tersenyum. Perih.

Pukul dua dinihari, jangkrik jantan kembali menyalak, keluar masuk lubang menanti jawaban dari deriknya yang panjang. Ia kemana? Dan ribuan pertanyaan melintas seperti parade festival penghujung tahun.

Sudah kertas ketiga, kumpulan kata-kata tetap pada tempatnya, membisu dingin seperti embun beku di kulkas yang tidak pernah terisi, kosong, tetap kosong dan selalu kosong.

Bilangnya, silakan masuk, pagar depan tidak dikunci, di taman ada satu kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat sebentar. Jangan sungkan jika ingin masuk, ketuk saja, rebahan di dalam. Pintu utama juga tidak terkunci rumah ini bisa jadi tempat singgah, tapi jangan ubah tata letak yang ada di dalamnya.

Selamat datang.

Pungut, Roti dan Kopi - Andalas

 



Kali pertama ke sekian, Andalas merupakan tujuan yang belum pernah dijamah. Bukan tentang pesawat, bukan juga tentang berlayarnya kapal menuju barat, kali ini seperti petualangan segar yang baru saja dilakukan.

Terbang dimangsa pandemi membawa kegaduhan sendiri buat saya, orang-orang yang tak lepas dari masker dan handsanitizer saling duduk bersama, bersebelahan. Doanya: pulang pergi selamat. Padahal, ya, gak tau juga. Terlebih korona besarnya tak kasat mata.

Di pesawat, seorang ibu-ibu duduk disebelah saya, terjeda satu kursi, tidak semua kursi boleh diisi. Kepalanya selalu menengok jendela, pandangannya ke arah luar. Mungkin ia sedang menerka hebat, golongan apa yang akan selamat, orang baik macam apa yang akan bertahan dan terus sehat? Kami tidak saling tegur sapa, dihadapan wajahnya sudah terpasang face shield, bermasker dan berkacamata. Di waktu seperti ini, tampilan dengan protokol lengkap sudah menjadi isyarat, hentikan komunikasi, kita bisa sendiri-sendiri.

Biasanya, saya paling suka basa-basi, sekedar tanya, ibu mau ke mana? Atau hal lain yang jadi pangkal pembicaraan. Namun kemarin saya memilih diam, dan berharap ketiduran datang lebih cepat. Karena sadar, tidak pernah menyenangkan. 

Di Medan saya sudah ditunggu oleh Pak Pungut. Rekanan yang akan menghantarkan saya sampai lokasi pembangunan pusat rehab baru di Sumatra  Utara. Pak Pungut memberi saya clue untuk bisa menemukannya. Foto selfie menggunakan  baju polisi, hanya sebatas sandang saja. Secara pekerjaan, ia bukan abdi negara. Pak Pungut adalah aktivis satwa yang sudah cukup lama mendesikasikan hidupnya untuk berjuang dan memperjuangkan kemerdekaan makhluk lain.

Kualanamu menuju Desa Bukitmas, Besitang. Desa ini berbatasan dengan Aceh, sekira 20 menit lagi perjalanan, gerbang serambi mekah sudah kelihatan. Ada beberapa lintasan alternatif, namun Pak Pungut mengajak saya untuk melihat sekitar sebentar, seputar Medan dari sudut pandang perjuangan. Makam pahlawan, istana maimun, dan pecinan.

"Ini pusat ALS, pak." Pak Pungut memberi informasi detail, beliau layik sebagai pemandu tour internasional. Tentang ALS, bus ini sudah menjadi identitas Medan. Dulu, saat ada mobil melaju kencang dan ugal-ugalan, pengendaranya pasti dijuki supir Medan. Semelekat itu dunia jalan dan kearifan Medan.

Rute kami cukup panjang, kami beberapa kali singgah untuk cari peralatan, di Tanjungpura, saya sempat diajak mampir di salah satu toko roti yang konon sudah turun temurun. Bukan cuma jual roti saja, ada kopi, soto, sate, dan beberapa makanan berat lain. Toko Roti Restu, dijajaran kuliner Sumatra Utara, tempat ini sudah melegenda dan menjadi rekomendasi tempat wajib yang dikunjungi di Tanjungpura. Pun nuansa pertokoan di sini nampak lawas, bangunan kuno bekas peninggalan Belanda.

Untuk citarasa, menurut saya biasa saja. Olesan selai di punggung roti bakar terasa manis gurih, kopi yang disajikan kental. Cukup baik, saya belum menemukan sisi spesial berdasarkan citarasa. Mungkin kelegendaan tempat ini dibangun oleh nuansa magis Belanda dan konsistensi resep yang dilanjutkan turun temurun.

Tidak ada yang lebih nikmat dari masakan ibu, standar enak yang sudah dibangun sejak kecil. Barangkali, suatu hari nanti standar enak tersebut akan bergeser, dari masakan ibu, ke masakan kamu. Seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya.

Terima Kasih, Jakarta


Keberpihakan antara pergi dan memilih tetap tinggal, siapa sangka, Jakarta menaruh sisi baiknya di singgasana sederhana ini. Tidak lahir di ibu kota, menjadikan Jakarta asing buat saya. Ya, saya tidak suka Jakarta, kecintaan saya pada kota ini hanya karena beberapa manusia yang ada di dalamnya. Tidak Jakarta secara keseluruhan.

Agenda kerja mengharuskan saya mampir, singgah sebentar untuk menlanjutkan perjalanan. Besok, saya akan berucap sampai jumpa lagi pada Jakarta. Berpisah dari kebisingan dan segala kegaduhan yang ada di sana. Terima kasih, ya.


Teruntuk bantal yang membahagiakan tengkuk, teruntuk selimut yang membantu menghangatkan, kalian luar biasa. Kesenangan tinggal semalam, cerita, dan segala keangkuhan tentang Jakarta sirna, tunai. Semua sudah selesai. Dendam, dengki pada junjungan pusat pemerintahan dan ekonomi negara sudah mereda.


Jika suatu hari ada Jakarta berikutnya, mungkin akan biasa saja. Tanpamu, dan semua kenangan yang ada di antara gelap dari Jakarta yang benderang.


Andalas, selamat datang. 

Kameo di Kisah Lain




Ketika mata terpejam sebentar, beberapa banyangan datang
Salah satunya bertanya
Apakah aku punya peran penting?
Atau hanya muncul sebagai penokohan saja?
Jangan-jangan, kamu memang tidak mencari aku
tapi, aku menemukanmu, dan kamu tidak merasa ditemukan.

Ternyata, kamu bukan siapa-siapa, pun, aku tak pernah jadi apa-apa


~