Catatan untuk Menghargai Pergi agar Pulang





Pengantar yang Sesungguhnya Tidak Perlu

Seperti terapi, kadang baik, juga kadang tidak baik, tergantung kadar dan kebutuhan. Ikuti saja, toh kekaguman yang aku dan kamu rasakan sekarang sudah jadi bagian dari rencana Tuhan. Sekeras apapun kita memaksa, tanpa izin dari-Nya, semua akan sia-sia. Kiranya begitu kepercayaan yang aku anut. Agar tau batasan dari suatu yang tak terbatas.

Barangkali kamu pernah mendengar ‘tidak ada usaha yang sia-sia, tidak ada yang tidak mungkin’, ya, benar, setiap usaha tidak ada yang sia-sia, dan semua bisa menjadi mungkin karena sebuah kemungkinan yang dimungkinkan. Tapi, sesekali sebagai selingan, aku mengajakmu untuk mempercayai bahwa ada yang tidak mungkin, ada yang sia-sia, ada yang seharusnya tidak perlu. “Sebagai selingan” karena menjadi terlalu yakin pada yang tak meyakinkan juga tidak baik.

Hidup hanya hidup, semua sudah diatur.

Aku banyak bertemu dengan orang yang berambisi dengan dunianya, mereka bilang “hidup sekali dan tidak ingin menjadikannya sia-sia,” jika aku diberi izin untuk menanggapi, memang hidup yang penuh dengan kesia-siaan itu seperti apa? Apakah dengan memilih untuk tidak banyak uang berarti hidup dalam kesia-siaan yang malang, ya?

Paradigma ini juga tumbuh subur di desa-desa, setiap anak harus sekolah agar kelak sukses, memiliki banyak uang, punya kerjaan enak. Jangan jadi seperti bapak, hanya petani dan susah. Akhirnya, tanah sawah dijual. Yang semula subur padi terhampar luas, berganti apartemen dan gedung perkantoran. Konon, negara yang kuat punya ketahanan pangan yang hebat. Nyatanya produksi beras di negeri ini kalah banyak dengan sampah yang bermuara di laut.

Aku juga banyak bertemu yang sebaliknya, mereka yang ‘katanya’ tidak begitu mengejar dunia, mereka yang sepenuhnya percaya bahwa Sang Maha sudah membuatkan alurnya; rejeki, jodoh, dan kematian. Mereka sering bilang, “kita hanya dituntut nafsu, buat apa mengejar yang sebentar jika yang abadi ditinggalkan. Pasrahkan saja, jika tidak hari ini mungkin besok, atau mungkin nanti di sana (Surga).” Sebagian dariku sepaham dengan golongan ini, sebagian diriku yang lain menerka, mencari yang pas menurutku, kemantapan yang mungkin sudah dimiliki orang lain tetapi belum ada di diriku.

Miskin itu gaya hidup, jika nanti jadi kaya, berarti sudah takdirnya, kata Anton Ismael. Dan mungkin saja secara sederhana “semua sudah diatur” diartikan seperti itu. Sebagai manusia yang bernegara, kita juga punya aturan, sebut saja undang-undang, kekal namun dinamis. Bisa saja peraturan Tuhan juga seperti itu, dinamis, tergantung seberapa fleksibel Tuhanmu, dan seberapa dipertimbangkannya dirimu oleh-Nya. Aku hanya ingin menjadi aku untuk orang lain, oleh karenaku, bukan karena orang lain, sebagai pertimbangan-Nya, boleh?

Sampai sini, harusnya aku, kamu, Anda, kita, mereka, seluruh individu yang dilahirkan, atau individu yang tidak mati muda, memilih untuk sepakat pada perbedaan, karena kita memang dilahirkan tidak dengan jiwa yang sama, tidak dengan raga yang sama, tidak dari sumber yang sama, kecuali aku dan kamu adalah saudara seperanakan. Pun, ketika kita diputuskan untuk dilahirkan dari sumber yang sama, kita akan menjadi diri kita masing-masing, juga dengan jalannya sendiri-sendiri.

Pada intinya, terima kasih karena sudah tidak merepotkan dirimu dengan menjadikan perbedaan sebagai bahan perdebatan. Catatan ini akan jadi pengingat jika tiba saatnya aku jadi seorang pelupa yang taat, dan akan menjadi memoar panjang dari kunjungan yang sebentar.

Catatan untuk Menghargai Pergi agar Pulang

Kebersamaan itu indah
Perbedaan itu menguatkan
Tak ada pembeda maka semua sama
Selalu sama maka takan ada variasi
Semua sudah ditentukan
Alur sudah terlihat
Bahwa saling melengkapi adalah kebahagiaan
Saling mengasihi merupakan anugerah 
Rezeki bukan hanya soal materi
Melainkan teman dan keluarga adalah rezeki yang diluar nalar
Bersenda gurau menyanyikan lagu senja
Itu sebagai penutup hari kami

Ungkapan hati dan harapan mahasiswa UNPAD tentang Papua, Hafidz Mukhlisin, saat mengikuti Ekspedisi NKRI dalam buku saku "Mengenal Suku-suku Papua dari Topografi Wilayah".

Kepi, 1 Agustus 2018.

Catatan ini dibuat saat beberapa hal yang aku lalui untuk pertama kali dimulai, juga di tempat yang pertama kali aku kunjungi, di Gedung Putih. Bukan, bukan di Amerika, bukan juga gedung perkantoran yang difungsikan sebagai tempat berkerja presiden beserta jajaran mentrinya dari Paman Sam itu. Gedung Putih di Kepi merupakan satu-satunya penginapan di Mappi yang bisa aku gunakan untuk tidur siang, alasannya karena tidak ada hotel lain, dan alasan yang lain, siang di hotel ini begitu santai, dan kami belum memulai perjalanan.

Banyak alasan kenapa kita memilih pergi dari kenyamanan, salah satunya; nyaman tidak selalu memberikan ketentraman, dan salah duanya, nyaman membuat kita lupa. Maka, harus ada pergi sebentar agar tau rasa pulang.
“Sehingga kemanapun kita pergi, kenyataannya kita selalu pulang. Karena ke penjuru Indonesia manapun kita melangkah, kita selalu pulang kerumah, sebuah rumah yang kaya bernama Indonesia.” -Rebiyyah Salasah
Ternyata, yang aku maksud pergi, sudah salah dari awal. Nyaman, dan selalu merasa pulang pada sebuah rumah yang kaya bernama Indonesia.

Seminggu sudah aku pergi dari Yogya, beberapa hari di Jakarta, merasakan hingar bingar dengan segala kebisingan, di mana terang bukan lagi sebuah kemewahan. Pelatihan singkat dengan wajah-wajah baru menjadikan Jakarta sama saja, tetap menjadi zona merah bagiku. Wilayah yang selalu aku garis bawahi ketika ingin mengunjunginya; kepentingan. Jakarta bukan kota yang ramah untuk berlibur.

Selama dua hari mengikuti pelatihan di Jakarta, yang berhasil aku tangkap adalah: terang, terang, terang dan terang. Papua harus terang, sederhananya begitu. Segelap apa, Papua? Apakah listrik adalah keharusan? Apakah adil harus sama rata? Pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di kepalaku. Jawa sentris menjadikan pemerataan ini sebagai ajang perbandingan.

Seklebat, pernah aku membaca sebuah pengantar dari Butet Manurung dalam buku: Yang Menyublim di Sela Hujan, milik Fawaz, buku yang menceritakan Papua, tentang pendidikan di Asmat. Ia menceritakan tentang bagaimana kerasnya kaki para porter yang ikut bersama kelompoknya saat mendaki Jaya Wijaya tahun 1993. Menggilas duri tanpa alas, menerjang tajam bebatuan dengan bebas. Belasan tahun kemudian, ia mendengar ada proyek “persepatuan” di salah satu desa di Papua. Konon, mereka menuntut donator sepatu karena setelah empat tahun memakai sepatu, dan setelah sepatu mereka tidak lagi bisa digunakan, telapak kaki-kaki mereka menjadi lembut, sehingga menjadi sakit saat digunakan berjalan di tanah Papua tanpa menggunakan sepatu.
“Nah, lebih hebat mana mereka, yang sebelum atau sesudah memakai sepatu? Sekarang, tanpa sepatu dan tanpa kaki yang kuat, bukakah mereka menjadi tergantung? Bukankah mereka menjadi lebih miskin daripada sebelumnya? Ini disebutnya bantuan, tetapi sesungguhnya pemiskinan!”
Pengantar tersebut menjadi renungan untukku, agar tak salah, dan tidak menjadikan mereka yang benar-benar kaya menjadi miskin karena ketergantungan yang sebetulnya tidak mereka inginkan. Mereka harus susah payah cari uang untuk bayar listrik. Padahal, mereka tidak butuh.

Perjalanan dimulai saat matahari sudah tenggelam, selepas senja dengan menyisakan temaram. Jakarta tetap benderang dengan kesibukannya. Pesawat melaju menuju Makasar, terbang dengan melepas panas beserta emisi keudara, khas kemajuan zaman. Di Makasar, pesawat tidak berhenti lama, seperempat jam diam untuk mengisi bahan bakar, setelahnya, burung besi yang aku tumpangi kembali terbang tinggi menuju Jayapura.

Sebelum berangkat, aku sempat mendengarkan lagu dari Edo Kondolongit, Aku Papua. Sepenggal liriknya tertulis dan menjadi kalimat pembuka di buku saku, wajar jika aku penasaran. “Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi …” Benar saja, di iringi ramah hangat matahari, setumpuk tanah berpunggung menyambut dari luar jendela, hijau warna kehidupan, dan jernih danau dari kejauhan, sebuah pagi diketinggian di atas Sentani.

Tiga jam yang panjang dari Makasar, akhirnya pesawat mendarat di Jayapura, turun bersamaan dengan air mata yang ikut jatuh ke pipi. Surga itu masih ada, gumamku dalam hati. Sekarang, diri ini makin terlihat kecil, lalu menjadi paham makna tentang pulang. Ke penjuru yang kita sepakati menjadi rumah, tanah kaya, Indonesia.

Nanti, kita akan bercerita lagi. Dan akan terus berlanjut.
Terima kasih.

Hidup!


Seandainya Aku Bisa Menanam Angin | Fawaz



Sebagai pengantar sebuah resensi yang saya tulis untuk diri saya sendiri.

Saya pernah kecil, dan jelas semua orang tau itu. Karena sebelum sebesar sekarang, pasti ada tahapan tumbuh dan berkembang. Ada waktu ranum, ada waktu kritis, ada waktu layu, dan ada waktu untuk kembali segar. Seperti bunga yang selalu merindukan air langit, menantinya turun dengan tergesa-gesa, berharap, berdoa, dengan banyak pertanyaan.

Hidup setelah hujan.

Menjadi kecil merupakan kerinduan setelah dewasa. Ya, dewasa. Lebih baik jika saya tulis dengan ‘menjadi besar’ karena yang mengaku dirinya dewasa belum tentu dewasa. Pun jadi dewasa bukan perkara mudah, ada pencapaian yang harus digapai, ada norma yang harus ditaati, ada yang boleh dan ada yang tidak.

Anak-anak bebas berlarian tanpa baju, tanpa celana, tanpa sehelai kain pun yang melekat, ada masalah? Tidak! Anak-anak memang begitu, kata orang dewasa. Lalu, setelah ‘dianggap’ dewasa, kamu melakukan yang sama, maka, kamu akan distempeli sebagai orang yang terganggu kewarasannya. Gila.

Satu-satunya yang bisa saya lakukan sekarang untuk tetap menjadi anak-anak adalah berimajinasi; mengandai, membayangkan, berkhayal. Dan buku ini membawa imajinasi saya pada anak-anak lain, pada bocah yang pernah sama usianya dengan saya, sama-sama pernah lahir, pernah bayi, pernah batita, balita, lalu anak-anak.

Semua pantas untuk dirindukan.

***


Sebuah pesan yang ditulis Fawaz untuk saya: bersenang-senang, membaca, membaca, membaca, dan menulis. Agar supaya pesan yang Fawaz tulis tidak sia-sia, saya membaca buku “Seandainya Aku Bisa Menanam Angin” sebanyak tiga kali, lalu menuliskannya secara ngawur, semau saya.

Sedikit penjelasan: dalam keseharian saat saya bertemu Fawaz, saya memanggilnya dengan tambahan ‘mas’ atau ‘pak guru’. Seperti umumnya tradisi untuk memanggil/menyapa individu yang usianya lebih tua. Dan diulasan kali ini, saya sedang meniru Tadius Bisaka, anak-anak dari Asmat, Papua, yang ia juluki sebagai anak ajaib. Alasan lainnya, karena sedang tidak berada di dalam ruang belajar. Namun, jika sedang dalam suasana belajar, “ah, Pak Guru, itu tidak baik itu, tidak boleh itu. Jangan ajar kita orang yang buruk. Kamukan guru, jadi kita orang harus panggil kamu Pak Guru.” Begitu, kata Tadius Bisaka.

Baik, begini ceritanya:

Buku ini saya dapatkan langsung dari penulisnya, Fawaz, saat bedah buku di Omah Pari. Sebuah tempat diskusi untuk membahas apa saja, satwa, tanaman, pertanian, pendidikan, buku, kebencanaan, seks, organisasi, revolusi, teknologi, apapun, semaumu.

Buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin merupakan buku kedua Fawaz yang rilis menjelang pertengahan 2019. Buku ini diterbitkan oleh Buku Mojok, memiliki tebal 196 halaman, dan sudah dua kali cetak. Mungkin sebentar lagi buku ini akan naik cetak untuk kali ketiga.

Di buku ini, Fawaz menceritakan tentang anak-anak yang ia ditemui di banyak tempat, saat menjadi sukarelawan guru di Lembaga Sokola Institute, dan di tempat lain yang ia kunjungi. Diurai dalam empat bagian: Anak-anak Rimba, Anak-anak Asmat, Anak-anak Kaki Gunung Argopuro, dan Anak-anak di Beberapa Lokasi Lainnya.

Semuanya tokoh dalam buku ini adalah anak-anak, kecuali Fawas, teman-teman Fawaz, dan orang tua murid yang Fawaz temui.

Dari judulnya saja, buku ini sudah menggambarkan keriangan tentang imajinasi, ‘menanam angin’. Konon, judul buku ini diambil dari kolom komentar Facebook yang ditulis oleh salah satu murid Sokola Rimba untuk seorang guru perempuan. Fawaz menjelaskannya dalam lembar-lembar awal.
Begitu sudah cukup? Belum? Ya, manusia memang seperti itu, tak lekas merasa cukup. Jadi, mari lanjutkan.

Saya akan menuliskannya dalam empat babak, sesuai pembagian yang ada di buku ini.

Babak pertama: Anak-anak Rimba.

“Katanya orang kota sekolah, lebih pintar dari kami, sekolahnya tinggi-tinggi, kok buang sampah saja masih di sungai.” –Menosur

Seutas kutipan yang saya ambil dari kumpulan cerita Anak-anak Rimba. Kalimat dari Menosur tersebut langsung saya garis bawahi ketika membacanya, seolah, saya langsung mendapatkan gambaran tentang Orang Rimba meski belum pernah berjumpa barang sekali. Sebuah pemikiran kritis yang menggambarkan antara dua keadaan berbeda, kota dan rimba. Spontanitas dari Menosur merupakan wujud dari kebiasaan yang ia lakukan bersama komunitasnya, ajaran untuk menjaga alam sekitar agar terus berkelanjutan.

Apakah yang bersekolah tinggi selalu baik? Apakah orang kota yang “katanya” berpendidikan itu menjamin untuk tidak buang sampah sembarangan? Ahh, seharusnya pernyataan Menosur sudah menjawabnya.

Dalam Anak Rimba, selain Menosur ada dua tokoh lagi yang saya idolakan, Becayo dan Jagat Pico. Saat mereka sedang berada di hutan, saya dibuat cekikikan sewaktu membaca tentang kejahilan mereka, Fawaz tak berdaya di rimba, begitu pula sebaliknya, si murid saat Fawaz kerjai di kota, aksi saling balas antara guru dan muridnya, juga saat mereka mengerjai Bepak Nguncang. Sebuah hubungan anti-baper yang sakral.

Kisah Anak Rimba juga kaya akan nilai-nilai toleransi, dan berbagi. Betapa menyenangkannya jika sekolah seperti itu, seperti yang dirasakan Anak Rimba, murid belajar dari guru dan guru akan terus belajar dari muridnya. Timbal balik yang seimbang.

Babak kedua: Anak-anak Asmat.

Di babak kedua ini, sedikit banyak saya sudah mengenal tokoh-tokonya lewat buku pertama Fawaz (Yang Menyublim di Sela Hujan). Sebut saja Tadius Bisaka, si anak ajaib. Atau anak-anak lain yang tidak kalah menyenangkannya dari Tadius Bisaka. Ada satu bagian yang lagi-lagi membuat saya tertawa saat membaca buku ini, yaitu saat Fawaz mengisahkan Daniel yang dimintai tolong untuk membelikan rokok. Ahh, itu kejadian yang segar menurut saya, di mana Daniel mendasari hal yang ia lakukan dengan prinsip untung rugi.

Dari Asmat, dan kisah bocah yang mengorganisir teman-temannya untuk menjaga orang solat, ini menarik. Anak-anak yang mendasari dirinya dengan menghargai perbedaan, mengenali hal baru dengan rasa keingintahuan, lalu mengkonversikannya menjadi sebuah kepercayaan untuk saling melindungi satu sama lainnya.

Pada bagian lain, masih Anak-anak Asmat, saya merasa ikut kehilangan ketika mengetahui salah satu tokoh dalam buku ini, yang juga ada di buku sebelumnya, sudah dipanggil Tuhan. Seorang gadis pandai yang terbangun bayangannya dalam imajinasi saya, ternyata sudah tidak ada. Duka ini juga ikut saya rasakan, seolah saya mengerti mereka tanpa melihatnya, tanpa pernah bertemu secara langsung, berkat cerita yang Fawaz tulis.

Imajinasi ini makin tergambar nyata di kepala saya saat berhasil mengingat Rudi, Marlina dan teman-teman kecil lain yang selalu meluangkan waktunya untuk mengajak saya bermain, memancing atau sekedar jalan-jalan menyusuri kampung Bade. Sebuah kampung di Kabupaten Mappi, Papua yang saya kunjungi tahun lalu.

Jadi, samar tentang Tadius Bisaka, Titus Taima, Daniel, dan Ema, sedikit mengobati kerinduan saya pada tanah Papua.

Babak ketiga: Anak-anak Kaki Gunung Argopuro

Buku ini syarat akan kritik, menurut saya begitu. Kritik panjang yang disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Sebuah kritik yang kasusnya dirasakan langsung oleh penulis, beserta solusi dan alternatif yang ia lakukan bersama teman-temannya.

“Tugas anak-anak itu belajar, Man, setelah itu main. Bukan ikut orang tua berkerja ke kebun. Begitu Pak RT selalu bilang kalau sedang marah ke kami.” –Ibu Ustman

Kutipan dari percakapan antara Ustman dan kedua orangtuanya. Anak-anak dilarang berkerja, dan membantu orang tua adalah anggapan yang salah karena tidak diperbolehkan, dikira mengeksploitasi anak, mengganggu waktu belajar juga bermain mereka.

Padahal, anak-anak bermain di sela membantu orang tua, saya pribadi keberatan dengan kebijakan “anak dilarang membantu orang tua berkerja” karena, ya, kebetulan saya anak petani, sewaktu saya membantu orang tua, ada transfer ilmu yang mereka berikan, ada informasi, minimal saya bisa tau bagaimana bentuk suket teki, manfaat ilalang, khasiat krokot, dan tumbuhan rumput lain dari berkebun. Sewaktu saya SD, saya dipasrahi sepetak tanah dan dibebaskan menanam apa saja, naluri anak kecil; meniru, mengikuti, mereplikasi apa yang mereka lihat. Sepetak lahan yang saya tanami bawang daun itu menghasilkan PS 2, game console yang terhitung mewah pada masanya. Apakah seperti itu bukan pendidikan? Pun saya tak merasa keberatan, tidak merasa terganggu waktu bermainnya.

Mari kembali lagi, jangan kebablasan seperti peraturan itu.

Babak ketiga menaikan lagi perasaan pembaca, untuk bersama-sama mengkaji sejauh apa kebablasan dalam konteks eksploitasi anak tersebut, dan lagi-lagi disampaikan dengan cerita yang santai dan mudah dipahami.

Babak keempat: Anak-anak di Beberapa Lokasi Lainnya

Fawaz tidak bisa jauh dari anak-anak, begitu kiranya yang bisa saya tangkap. Menjelang akhir dari buku ini, Fawaz makin mempertajam kritiknya dengan menceritakan beberapa pengalaman pribadinya, tentang teman kecilnya, tentang anak-anak petani tembakau di Temanggung, dan anak-anak penyintas di Karawana.

“Penyeragaman sistem dan materi pendidikan yang diberikan, mau tak mau menjadi alat utama yang mengalienasi anak-anak dari komunitas mereka, mencerabut anak-anak dari laku keseharian komunitas. Anak-anak asing, terasing, dan memang diasingkan dari keseharian komunitas mereka dengan dicekoki utopia modernisme dan westernisasi di bangku sekolah. Pada akhirnya, mereka digiring untuk masuk pada arus besar pekerja yang melayani kebutuhan tenaga kerja para pemilik modal, gelombang besar kapitalisme.” –Fawaz

Sebagai penutup, buku ini saya rekomendasikan untuk kamu, untuk dibaca. Barangkali ada kejahilanmu yang sama dengan mereka, anak-anak dari penjuru Indonesia. Mengenali laku mereka dari cerita luas yang dikemas ringan, merenungi sebuah tawa, merasakan kesedihan, merayakan perbedaan, dan menghargai bahwa kebenaran hanyalah hasrat yang ditunggangi oleh keinginan lain, keinginan yang menjadi pembatas, juga membatasi  diri sendiri untuk bisa menerima keberagaman.

Terima kasih.

Hidup!

Kebumen, Soto, Biji dan Bajingan | Mudik Etape 1




Sebuah pranala di Facebook mambawa saya berburu makna tersesat, penasaran yang menggebu mendasarinya, sebetulnya tersesat itu seperti apa? Apakah ‘salah jalan’ sudah masuk kategori tersesat? Apakah untuk tersesat saya harus punya tujuan? Apakah sesat selalu salah? Atau, jangan-jangan, Facebook telah menyesatkan saya yang sedang mencari makna sesat? Sial, di mana ujung kebenaran ini?!

Kebumen meninggalkan banyak cerita di kepala saya. sebetulnya bukan tentang Kebumen, tapi perjalanan saya menuju Kebumen dan Kebumen itu sendiri. Di cerita sebelumnya, (Pulang yang Membingungkan), saya sudah cukup tersesat. Barangkali bukan tersesat, lebih tepatnya tak tau arah dan tujuan. Sudah bingung? Belum? Baik, saya lanjutkan.

Saat mudik kemarin, Kebumen menjadi pilihan untuk istirahat sebelum menuju tujuan selanjutnya. Pun rencana untuk mampir-mampir juga dadakan, singgah di tempat yang sekiranya bisa untuk istirahat. Di Kebumen, saya mengunjungi Mas Gentong. Senior di Mapala tempat saya bernaung dan belajar. Dari namanya, mungkin kamu sudah bisa membayangkan perwujudan Mas Gentong seperti apa. Sedikit mirip (gentong) tapi tidak persis, sebuah julukan untuk penggambaran saja, panggilan mesra guna memudahkan ingatan.

Saya bertemu Mas Gentong di pertigaan DEKRANASDA dekat alun-alun Kebumen. Awalnya, saya berencana langsung datang ke warung kopi miliknya, namun malam itu sedang tutup.  Sebagai gantinya, ia mengajak saya berkunjung ke warung kopi milik temannya, tapi kami mampir dulu untuk isi perut. Beberapa kali berhenti di lesehan pinggir jalan, sayangnya tidak cocok, terlalu ramai, tidak kebagian tempat parkir, dan tidak ada pilihan menu yang kami inginkan.

Kebumen lebih ramai dari hari biasanya, begitu menurut Mas Gentong. Musim mudik bersamaan malam minggu. Jadi, wajar jika Kebumen terlihat padat. Setelah bosan berseteru, kami sepakat untuk singgah  di warung soto yang menurut saya sedikit, aneh; pertama, saya jarang menemui warung soto yang masih menyisakan menu-nya sampai tengah malam, utamanya di Yogya, pukul delapan saja sudah susah, antara habis, atau memang tidak buka sampai malam. Kedua, bapak penjaga/pemilik warung soto seperti tidak menerima tamu. Jadi, datangnya saya dan Mas Gentong, ya, cuma dianggurin, tidak ditawari, tidak dipersilakan. Makna “malu bertanya, lapar berkepanjangan,” benar-benar terjadi malam itu. Sedari kami masuk, duduk, dan menunggu cukup lama, tidak ada yang menghampiri kami untuk sekedar bertanya “makan sini, atau bungkus?”

Di warung itu ada dua orang lain, bapak-bapak. Kami berspekulasi mereka juga menunggu, sama seperti saya dan Mas Gentong.

“Pak, kie bakule lunga nangdi?” (Pak, penjualnya ke mana, ya?)
“Kie, neng kene. Kepriwe?” (Saya, mas. Gimana?)
“Sih ana mbok?” (Masih ada, kan?)
“Ya, ana.” (Ya, ada.)
“Yungalah, kie le ngenteni ket mau. Niat dodol ora si, pak?” (Astaga, ditunggu dari tadi. Niat jualan gak, sih, pak?)
“Kae soto. Sit, tak gawekna. Sampean ora takon, tak kira mung numpang njagong.” (Ada soto. Sebentar, saya buatkan. Mas gak tanya, saya kira cuma numpang duduk.)

Saya cekikikan di meja yang tidak begitu jauh jaraknya dengan Mas Gentong, sekira tiga langkah. Obrolan menggunakan logat ngapak antara penjual soto dan Mas Gentong membuat perut saya sakit karena harus menahan tawa. Ke-ngapak-an mereka seperti udara gunung yang sangat segar, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus dihirup dalam-dalam. Sampai habis, sampai kering.

“Ngopo e, Mbah?” Saya langsung bertanya selepas ia kembali duduk. Panggilan ‘mbah’ merupakan bahasa lain dari ‘mas,’ untuk beberapa senior saja, tidak semua.
“Suog, bakule introvert.”
“Hahahahaha.” Kali ini saya tidak bisa menahan tawa, jika tadi berusaha untuk menghirup semua udara lucu, sekarang lepas sudah. Puas. Pun saya tidak mengerti ‘introvert’ yang dimaksud Mas Gentong. Saya artikan secara general saja.

Buat saya, orang-orang Kebumen, Cilacap, Banjarnegara, dan salah dua eks karisedenan Kedu, seperti: Purworejo dan Wonosobo, merupakan golongan manusia yang dilahirkan dengan bakat menghibur dengan level yang baik, sangat baik tepatnya. Mereka selalu ceria, bahkan dalam marahnya, masih bisa membikin gelak tawa. Tidak semua, beberapa yang (cukup) banyak.

Setelah menandaskan soto, lengkap dengan kerupuk, kecap, sambal, dan jeruk nipis. Mas Gentong mengajak saya ke warung kopi milik temannya. Tidak jauh dari tempat kami makan. Warung itu dinamai Coffe Ngapak, sebuah tempat ngopi yang diklaim asik, santai, menyenangkan, teduh dan ramah diskusi. Pemiliknya bernama Akhmad, lulusan salah satu Sekolah Tinggi di Yogya, sekarang sudah menjadi Universitas.

“Mad, adiku.” Mas Gentong memperkenalkan.
“Halo, Mas. Son.” Saya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Halo, Akh," Ia menyambut dan lekas menggenggamnya erat dengan dua tangan, (the hand hug). Jabat tangan yang sering digunakan politisi, jabat tangan yang mengisyaratkan keakraban, kehangatan, kejujuran dan dapat dipercaya. “Akhmad, aja ngasi kurang. Nek ora, ya, Mad. Pokoke sak karepe sampean wae la. Sing penting pantes, penak,” lanjutnya. Saya membalas dengan senyum sumringah. Ia menyilakan kami untuk langsung naik ke lantai dua, ke loteng, tempat santai lain yang masih satu kesatuan dengan ruang di lantai bawah.

Di ruang bawah, nuansa yang ditawarkan semi modern, meja tinggi sepinggang dengan kursi yang saya perkirakan tingginya tiga perempat dari tinggi kursi. Materialnya terbuat dari kayu. Di dinding terdapat beberapa lukisan, hiasan yang terpatri langsung ke tembok dan mural nama warung kopi tersebut dengan dominasi latar berwarna hitam dengan tulisan putih menjadikannya terlihat menonjol.

Di lantai dua, suasananya berbanding terbalik, mundur sekira empat puluh tahun. Terdapat sebuah lemari tua dari kayu jati, ada tv lawas yang saya duga masih hitam putih, kotaknya dari kayu, merek Sharp. Sebagian tinggi dindingnya dilapisi dengan palet kayu, sebagian yang lebih tinggi dibiarkan tanpa plester dan aci, tembok bata merah. Di sudut yang lain, ada mesin jahit yang juga lawas. Di ruangan ini tidak ada kursi, beralas karpet dengan tinggi meja sekitar tiga puluh senti.

Di sana sudah ada beberapa orang, teman-teman Mas Gentong tentunya.

“Eh, apa kabar?”

Pertanyaan yang ternyata bukan untuk saya, seseorang sedang bicara dengan teleponnya.

“Ko pu biji masih mengkilap, kah? Rutin sunduk lakang?” Ia bicara dengan bahasa timur, tapi tidak dengan logatnya. “Sa besok ke sana, tengok ayam,” lanjutnya. Saya tidak paham makna pembicaraan itu, juga tidak terlalu ingin mengetahuinya.

Sampai cerita ini saya tulis, saya tidak berhasil mengingat nama mereka, teman-teman Mas Gentong. Kecuali Akh, lengkapnya Akhmad, pemilik warung. Saya selalu gagal mengingat nama, bukan hanya kali ini, terhitung rutin.

“Anu coy, kancaku, deknen ki doyan banget kawin. Makane aku le takon kaya kue.” Ia langsung menjelaskan setelah menaruh teleponnya dengan posisi terbalik, layar menghadap bawah. “Mbien, anyar-anyare rabi, deknen tau diparani tangga-tanggane, dikira lagi perang. Padahal dudu ribut, lagi kawin. Kayane manuk e tonggone yo melu tangi,” lanjutnya. Seisi ruangan tertawa renyah. Kita sepakati saja namanya Mas Biji, agar lebih mudah. Ia memiliki perawakan dengan tinggi yang cukup, rerata orang Indonesia, menggunakan songkok dan berjenggot tebal. Konon, songkok merupakan aksesoris wajib yang selalu ia gunakan. Selain berdagang kopi, ia juga berdagang songkok. Mungkin itu sebabnya ia menjadikan songkok sebagai aksesoris wajib, sebagai identitas yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa; ‘aku bakul songkok!’

Akhmad datang membawa nampan berisi tiga gelas kopi. Kaliangkrik, gayo dan wine Temanggung, pesanan saya dan Mas Gentong. Satu dari tiga gelas yang dibawa merupakan bonus, begitu, bilang Akhmad.

“Bajingan,” Mas Biji terkejut saat melihat telepon miliknya, ia langsung menempelkannya ke telinga, “ko dengar semua, kah?” Sambungan telepon dengan temannya belum terputus, semua yang ia ceritakan tadi tentang perkawinan itu, didengar oleh temannya dengan jelas. Kami semua tertawa tanpa menunggu penjelasan. Ia lantas pergi menjauh, menyingkir ke balkon. Mungkin suara tawa kami mengganggu komunikasinya, atau ada yang ia jelaskan lebih lanjut pada temannya, semacam permintaan maaf, mungkin. Sebatas menduga, tidak lebih.

Malam itu, saya habiskan di Coffe Ngapak, warung ramah diskusi, dan ramah untuk segala hal; sambutan, pertemanan, kopi, literasi, seks, bisnis, dan yang jelas, ada keceriaan. Kecerian tidak boleh pergi dari Kebumen, apapun alasannya. Obrolan malam sekelompok pria bebas. Minimal, bebas dari rasa sedih. Bukankah harusnya memang begitu, ya?

            Bersambung …

Tetangga, Maafkan Masa Kecilku


"Jika menjadi anak-anak menyenangkan, kenapa manusia harus tumbuh dan menjadi dewasa? Aku ingin jadi kecil lagi, boleh?"

Satu-satunya keberuntungan yang paling bisa dirasakan saat menjadi pengangguran seperti sekarang ini adalah berhasil mengingat masa kecil. Sebuah masa di mana teori konspirasi tidak perlu dikaji, dirasa tidak penting untuk diperdebatkan. Sebatas tau jika Newton bukan penemu apel, Tesla pernah kesetrum, atau teori lain berdasarkan buku sejarah yang tebalnya tidak lebih dari 89 halaman. Sebuah anugerah terbaik karena tidak lupa, barangkali memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Akan terus teringat dan terus diceritakan sampai generasi selanjutnya. Anak cucu harus tau jika pendahulunya juga pernah kecil. Pernah menanam biji kacang hijau dan menganggap tumbuhnya kacang tersebut sebagai penemuan yang besar.

Baiknya saya saja tulis kisah ini, jika saya tidak beruntung dan terus hidup sampai tua, sampai pikun. Anak dan cucu saya nanti akan menceritakan kisah ini, mereka akan bertanya kisah kakenya saat kecil. Seperti yang pernah saya lakukan dulu ke nenek, berdasarkan kisah yang pernah ibu ceritakan. Sebagai pengingat atau sebagai cerita penghantar tidur saat malam yang sesungguhnya malam tiba. Mati sebagai pecundang yang berbahagia di atas kasur, bukan di medan perang.

***

Kalau saja waktu itu saya dilahirkan dan tinggal di Gaza, mungkin ibu saya tidak perlu menahan malu karena ulah anaknya. Tapi, apapun itu, tetap saja saya bersyukur karena tidak perlu lari menghindari peluru dan reruntuhan, karena Tuhan menitipkan ruh itu ke rahim seorang perempuan yang kebetulan tinggal di sebuah perumahan. Oleh sebab itu, untuk seluruh kehidupan di Gaza, di Palestina, salam hormat. Sang Maha Tunggal selalu bersama kalian. Semoga kita sama bersyukurnya.

Matahari masih terik, biarpun sudah tidak tepat di atas kepala, paparannya masih terasa menyengat. Siaran tv yang kala itu menjadi satu-satunya hiburan gratis sudah tidak lagi menyenangkan untuk anak-anak, jam tayang kartun sudah habis. Berganti infotaiment, reality show remaja, dan berita. Untuk anak kecil, apa pentingnya perceraian artis? Apa pentingnya putus cinta yang termehek-mehek? Saya rasa, tidak ada relevansinya sama sekali. Lebih baik mblanyang menikmati terik ketimbang harus menikmati acara dalam keterpaksaan.

Sewaktu kecil, saya sangat suka bersilaturahmi, mengunjungi tetangga yang terlihat mengepul dapurnya, atau menuju rumah yang beraroma wangi, terutama wangi kue. Biarpun kulkas di rumah penuh, lemari makan berjejer hidangan, di meja bertaburan toples berisi roti kering. Tetap saja, rumput tetangga terlihat lebih menyegarkan. Karena silaturahmi adalah kunci.

“Bude!” Panggil saya ke Bude Tadi, lengkapnya Bude Sutadi. Sutadi merupakan nama suaminya.

“Iya? Sini, masuk. Kenapa?”

“Nanti, kata ibu, ada arisan di rumah.”

“Haa?” Menunjukan roman terkejut. “Ibu udah masak-masak?” Lanjutnya.

“Iya, udah siap-siap, lagi masak. Aku ngasih tau Wak Nopi dulu ya, Bude.”

Saya langsung pamit, pergi mencari rumah lain, rumah Wak Nopi. Sebetulnya saya sudah tau rumah Wak Nopi, tapi mencari juga boleh toh? Pun dia tidak pernah ada di rumah jika matahari sudah lewat dari puncaknya. Seperti umumnya ibu rumah tangga di komplek, bersosial dengan sesama tetangga untuk membicarakan tetangga lain. Kegiatan yang sudah jadi hal lumrah.

Arisan merupakan agenda rutin, jadwalnya sudah ditetapkan, ketika ada perubahan, biasanya di tanggal yang sudah disepakati itu ada kepentingan lain, kepentingan mendesak bagi sang pemilik hajat. Waktu itu belum ada broadcast. Jadi, menghampiri satu persatu, menyebarkan informasi dari rumah ke rumah adalah cara terakhir selain bikin pengumuman di Masjid.

Sedikit penjelasan: ibu biasa menyuruh saya untuk menghantarkan makanan ke tetangga, menyampaikan pesan, atau undangan lain secara lisan. Secara tidak langsung, kredibilitas saya sudah diakui seantero komplek, independensi masuk dalam kategori baik, dan aktualitas yang jelas. Sampai sini cukup? Baik, saya lanjutkan.

Di komplek perumahan yang saya tinggali, tidak semua pintu terbuka setiap saat. Hanya beberapa saja, beberapa yang lain harus diketuk dulu agar dibukakan pintu. Sisanya, tidak perlu diketuk, penghuninya belum pulang. Mereka adalah golongan warga dengan tipikal pekerja, jika ingin memberi mereka kabar atau undangan, tulis saja di kertas, lalu selipkan lewat bawah pintunya.

Pencarian rumah Wak Nopi tidak saya lanjutkan, percuma. Saya langsung menuju pohon cokelat, sebuah pohon yang sudah mulai malas berbuah, besar dan rindang, lengkap dengan sarana dan prasarana penunjang rekreasi bibir, tempat di mana ia biasa menghabiskan siang sambil menunggu suaminya pulang.

Di tempat itu, Wak Nopi tidak sendiri, ada beberapa perempuan lain: Bu Munaw, Mbah Sakilah, Uni Dian, Mama Reni, dan dua orang baru, saya belum sempat kenal sampai mereka pindah lagi. Mereka juga melakukan ritual yang sama, “bersosial!”

“Wak, kata ibu, nanti sore arisan di rumah.”

“Aih, yang bener?!”

“Ibu lagi masak-masak.”

Sebelum saya pergi, ibu memang sedang memask, tapi tidak tau untuk apa, untuk arisan atau bukan, yang terpenting adalah ‘ibu sedang memasak,’ itu saja.

Tanpa menunggu pertanyaan atau jawaban yang akan dikeluarkan Wak Nopi, saya langsung pergi. Kali ini menuju lapangan, barangkali ada orang, jika tidak ada, saya akan pergi ke rumah salah satu teman, meminjam kaset video game lalu pulang, atau main di rumahnya sampai sore.

Benar saja, di lapangan tidak ada orang. Peserta pertandingan yang biasanya hadir masih tidur siang. Biasanya begitu. Saya masih merasakan betapa menyebalkannya tidur siang, sama seperti anak komplek yang lain. Beruntungnya, saya lebih suka kabur daripada tidur. Dan penyesalan itu baru terasa sekarang.

Sore terasa begitu cepat. Mortal Combat di console Sega belum tamat, tapi senja hampir habis. Matahari yang berada di ujung barat merupakan tanda alam yang harus dipatuhi. Ayah selalu berpesan, jangan pulang lebih sore dari ayam. Artinya: sebelum adzan selesai, saya harus sudah di rumah.

Perjalanan pulang yang hanya beberapa ratus meter itu terasa sepi. Biasanya ada sekumpulan ibu-ibu yang menyapa saya, terkadang menawari kudapan, minuman atau buah. Perumahan di tempat saya tinggal merupakan wujud kerukunan yang terstruktur.

Saat melewati rumah Mama Ratu, saya dipanggil. Gerakannya sedikit terburu-buru, pakaiannya sudah rapi, komplit dengan tas jinjing yang ada di tangan kanannya.

“Nda, bareng.” Pintanya.

“Mau ke mana, Mama Ratu?”

“Ke rumahmu. Arisan.”

Seketika, seperti ada petir yang menyambar kepala saya. “Sial, arisan!” Saya hanya mampu bergumam dalam hati. Apakah Bude Sutadi dan Wak Nopi melanjutkan kabar siang tadi? Apakah benar ada arisan di rumah? Apakah ibu betul memasak dengan porsi yang cukup? Ah, biar.

Langkah kaki diperlambat. Menunda sedikit waktu untuk melihat kekacauan. Saat memasuki gerbang rumah, ibu-ibu yang sudah berkumpul langsung memandangi saya dan Mama Ratu. Mama Ratu sedikit kebingungan. Informasi, dia butuh informasi. Saya berusaha tetap tenang, sementara ..

“Udah selesai acaranya, Bu Dzul?” Tanya Mama Ratu.

“Coba tanya ke Wak Nopi aja, Mama Ratu.” Jawab Bu Dzul yang sudah lebih dulu tau.

“Nanda mana Nanda?” Wak Nopi langsung menghampiri saya yang baru masuk beberapa langkah dari gerbang. Mama Ratu tidak mendapatkan langsung jawaban atas pertanyaannya. Di belakang Wak Nopi ada ibu, ibuku. Dia satu-satunya perempuan yang tidak bersolek sore itu. Dari kejauhan, ayah menyimak, pandangannya tidak lepas barang sedetik. Mimik mukanya seperti menahan tawa.

“Elu ya, ngibulin orang sekomplek!” Nadanya melengking, matanya melotot seperti ingin keluar,  “kurang ajar, ngerjain orangtua,” lanjutnya.

“Ini yang ngasih tau ibu-ibu ini Wak Nopi?”

“Iya, gua tadi keliling siang-siang, lu bilang ada arisan.”

“Berarti, bukan aku dong yang ngibulin orang sekomplek, aku cuma bilang sama Wak Nopi dan Bude Tadi, kok.” Saya mencoba meyakinkan ibu-ibu yang lain. Satu persatu dari mereka yang datang mulai mendekati saya dan Wak Nopi.

“Arisan, ya?” Kali ini ibu saya angkat bicara, dua tangannya sudah di pinggang. Ia masih dengan dasternya seperti tadi siang saat memasak. Belum mandi.

“Gak arisan ya, bu?” Saya balik bertanya, “aku kira tadi ibu masak buat arisan.” Sekali lagi, saya mencoba meyakinkan ibu-ibu yang kian ramai.

Tak butuh waktu lama, Bu Mur, Bu Kus, Mama Putri, dan Uni Dian yang tadinya sedang lihat-lihat koleksi bunga kesayangan ibu, teralih perhatiannya. Mereka tergugah untuk merapat, saya sudah dikelilingi ibu-ibu, seperti sedang berada dalam persidangan. Ada penuntut, ada saksi, ada tersangka, tapi tidak ada satupun yang membela. Hanya saya yang membela diri saya sendiri. Ibu-ibu yang gemas mulai mencubiti saya. Sementara itu, ibu saya yang tanpa dandan itu langsung meminta maaf, berharap ibu-ibu yang sudah repot membuat alis, bergincu, serta berwangi-wangian tidak kapok dan tidak menyesal karena sudah rela bersolek bukan untuk suaminya. Ibu juga menahan diri untuk tidak ikut gemas. Ayah yang sedari tadi sudah menahan diri, makin tidak kuat untuk tidak cekikikan.

Sebentar kemudian, kakak perempuanku keluar membawa nampan berisi air sirup dengan irisan buah. Di belakangnya lagi ada Bude Tadi, membawa tiga piring yang diatasnya sudah berisi kue. Sirup, buah dan kue yang mereka bawa adalah penghuni kulkas, siang tadi saya masih melihatnya. Bukan makanan baru jadi yang sengaja dibuat untuk acara sore itu. “Benar, tidak ada arisan.” Pikirku.

“Makanya, Wak Nopi, di konfirmasi dulu, jangan langsung sebar berita. Namanya juga anak kecil.” Ucap Bude Tadi. Ia bak malaikat yang sedang mengulurkan tangannya, membantuku keluar dari cerukan yang dipenuhi ular dengan jenis bisa tinggi.

“Bude kenapa datang juga?” Wak Nopi masih ketus, mencoba membentengi diri atas berita yang sudah terlanjur ia bagikan.

“Saya juga kena kibul!”

Yang tegang pecah, yang terperangah jadi lebur, membaur dalam tawa di perkumpulan dadakan itu. Semua ibu-ibu yang datang sudah tidak mementingkan ego dan kesalnya. Berganti dengan sebuah sukur karena silaturahmi adalah kunci. Ya, harusnya mereka bersyukur karena ada pertemuan untuk membicarakan apa saja, ada bahan gunjingan lain untuk dibicarakan besok atau lusa.

Bukankah Tuhan menganjurkan umatnya untuk senantiasa bersyukur?
Tetangga, maafkan masa kecilku

Terima kasih sudah membaca.
Sukur!

Obrolan Sukab | Seno Gumira Ajidarma


"Tidak punya rumah bukan berarti Sukab menyewa apartement, tinggal di hotel seperti Iwan Simatupang, masih mengontrak rumah atau indekos sebagaimana layaknya orang yang belum punya rumah. Bukan. Sukab tidak punya apa pun kecuali dirinya sendiri."

Obrolan Sukab, sebuah buku pemberian dari salah seorang guru kepada saya. Konon, alasan beliau memberikan buku ini karena tingkah tokohnya mirip dengan saya. Apakah ini benar? Benar atau tidak, kebenaran hanyalah milik mereka yang merasa benar dan sanggup membenarkan kebenarannya. Pun saya bingung harus bersikap bagaimana, bangga atau menerka. Kenapa saya? Kenapa Sukab?

Ah, silakan baca Sukab dan Jakarta melalui link yang sudah saya tautkan. Agar tidak ada sedikit pun salah paham diantara kita. Sukab dan saya tidak saling kenal, dan kami belum pernah bertemu sebelumnya.


Siapa Sukab?

Sukab adalah seorang perantau yang tersesat dalam kehebohan Jakarta, orang kecil yang tidak memiliki rumah dalam artian sebenarnya. Berkerja bermodal cangkul dan pengki, menjajakan tenaga untuk pekerjaan berat dengan bayaran yang cukup untuk makan hari ini. Untuk besok, ia akan pikir lagi besok, dengan harapan ada truk yang mengangkutnya, membawanya untuk memindahkan muatan dari atas truk ke tempat yang diinginkan atau sebaliknya, atas kehendak mandor. Dalam kapasitasnya yang kecil di Jakarta yang begitu besar, tidak membuat Sukab memiliki pemikiran yang sempit. Sukab menjadi karakter dengan pengetahuan yang mengagumkan.

Dalam buku ini, Sukab tidak sendiri. Ia beserta konco-konconya, Mang Ayat, pemilik warung pinggir jalan yang merangkap sebagai juru masak untuk sekumpulan manusia non-masak; adalah Bahlul tukang obat, Dul Kompreng kernet mikrolet, Jali tukang ojek, Hasan buruh bangunan, Mamik penjaja kopi saset dan istrinya, Rohayah, tukang sapu gedung tinggi yang berkerudung. Juga ada seorang yang menjadi karakter penengah jika obrolan antara Sukab dan konconya mulai memanas, Abang Dosen. Nama aslinya Vincent, diceritakan, nama tersebut terlalu sulit untuk lidah orang pinggiran.

Buku Obralan Sukab dikemas dengan nuansa pinggiran yang berbobot. Sukab dan konco-konconya sesama kuli dan buruh kelas bawah biasa mengobrol topik-topik kelas atas tentang korupsi, tahun baru, politik, nasionalisme, teroris, kampung halaman, intoleransi, HAM dan obrolan lain yang membuat saya harus membacanya lebih dari satu kali untuk mengerti.

Buat saya pribadi, memahami isi dari obrolan di warung pinggir jalan itu sedikit sulit, menjadi sulit karena dikemas dengan sudut pandang lain. Bukan sulit sebagai harfiahnya. Bagaimana bisa topik setinggi itu bisa dikemas dalam tulisan ringan bertajuk obrolan? Sebagai manusia yang juga non-masak, nir-ilmu dan bangga dengan kepolosannya, saya kagum. Kagum pada Penulis. Bukankah seharusnya begitu? Hehehe.

"... dan kibul itu bernama ideologi."

Sebuah akhir kalimat pada obrolan: Sukab dan Cuci Otak. Ya, cukup untuk membolak-balikan otak agar terus berkerja memikirkan sebuah kesimpulan, membangun konstruksi berpikir yang baru dan segar, utamanya untuk diri saya sendiri. Menjelang akhir obrolan adalah bagian yang paling saya suka. Karena selalu ada yang diselipkan, entah sebagai pernyataan atau pertanyaan.

Satu lagi, kutipan yang agak panjang ini saya tulis ulang dari obrolan ter-favorit saya dalam buku ini, berjudul: Sukab dan Apakah Itu Normal.

...

"Ngomong-ngomong, Bang Otot, apakah normal itu?"

Bang Otot sang pereman kampung terperangah.

"Normal ya normal! Kayak gitu aja elu tanyain!"

Wajah Sukab yang dingin tidak berubah.

"Ini penting. Bang Otot sebetulnya tahu atau tidak apakah sebenarnya yang disebut normal itu?"

Mengikuti adatnya, tangan Bang Otot udah gatel pengin mengembat Sukab, karena nada bicara sukab samar-samar seperti merendahkan. Namun terlalu banyak orang di warung itu yang belum diketahuinya, apakah akan menjadi takut atau malah mengeroyoknya.

"Apakah Bang Otot tahu bahwa normal itu adalah anggapan yang merupakan produksi kuasa wancana dominan?"

Bang Otot hanya bisa memelintir kumis dengan mata menahan marah.

"Apakah Bang Otot tahu bahwa proses dari bentuk normalisasi adalah bagian dari karakter disipliner lembaga-lembaga modern, prektek dan wacana tempat tubuh-tubuh jinak menjadi sasaran, dimanfaatkan, diubah, dan diperbaiki?"

Sukab rupa-rupanya memang tidak menunggu jawaban.

"Apakah Bang Otot paham bahwa normalisasi merujuk proses tempat subjek individual dapat diedarkan di sekitar sesuatu sistem dengan kategori-kategori bertingkat, terukur, dan berselang-seling yang menjadi aturan-aturan sosial budaya yang dianggap normal?"

Sukab meneruskan sambil menyambar pisang goreng.

"Apakah Bang Otot setidak-tidaknya pernah mendengar, yang disebut disiplin melibatkan organisasi atas subjek dalam ruang melalui praktek, latihan, dan standarisasi yang terpilah-pilah dalam penataan untuk memproduksi subjek dengan kategorisasi dan penamaan dalam tata hirarkis melalui rasionalitas dari efesiensi, produktivitas, dan normalisasi, sehingga dalam kuasa melakukan kategorisasi itulah yang berbeda dan lain terjuluki sebagai tidak normal, meski dalam dirinya sendiri mereka itu normal, sangat amat normal, bagaikan tiada lagi yang lebih normal, begooo?"

Bang Otot menelan ludah. Mulut maupun otaknya sendiri sudah terkunci, meski mata semua orang yang memandangnya seperti ingin tahu betul dirinya bisa menjawab apa. Bang Otot adalah golongan manusia yang berbicara tanpa pernah mempelajari apa yang dibicarakannya itu. Ia hanya bisa menggebrak meja lantas pergi.

Abang Dosen di sudut berkerut kening, baginya mudah saja melacak pemikiran Michel Foucault, tapi ia tidak bisa menduga bagaimana Sukab mengetahuinya.

"Dari warnet," ujar Jali tukang ojek, yang seperti biasa membaca pikiran Abang Dosen, "upah hariannya sebagai tukang batu habis untuk klak-klik-klak-klik."

***

Sukab dan konco-konconya merupakan karakter yang dibangun oleh Seno Gumira Ajidarma. Obrolan Sukab merupakan kumpulan tulisan yang pernah muncul dalam rubrik "Udar Rasa" di Harian Kompas, sejak awal 2016 sampai awal 2018. Lalu, Obrolan Sukab muncul sebagai rubrik mandiri di Panajournal.com sejak 1 April 2018.

Silakan beli, pinjam, atau baca seklebat milik teman. Buku ini merupakan kumpulan kisah dan obrolan menarik, pesan dari pinggiran untuk sesuatu yang besar.

Selain kutipan yang saya ambil langsung dari buku "Obrolan Sukab," selebihnya hanyalah opini saya pribadi. Saya yakin ada banyak kesalahan, maka dari itu, saya haturkan terima kasih karena sudah membaca, berikut dengan permohonan maaf karena artikel ini tidak ditulis dengan baik.

"Ngomong-ngomong, apakah normal itu?"

~hahahaha

Pulang yang Membingungkan | Mudik Mode On




Lebaran sudah lewat, tapi maaf-maafan masih berjalan. Begitu juga cerita-cerita tentang kampung halaman, masih terngiang. Bahkan, beberapa orang masih bangga membahas tentang tetangga di tanah kelahirannya. Mengkisahkan segala sesuatu yang baru di desanya, toples lebaran, kejeblugan petasan, atau persepupuan yang terkadang jadi pembahasan panjang di meja makan.
Sayang rasanya jika lebaran tahun ini hanya dilewatkan. Bukan berarti dibiarkan, dilupakan begitu saja Tapi, tidak terdokumentsikan dalam bentuk apapun. Tidak tervisualkan, tidak diaudiokan, juga tidak tertulis. Oleh sebab itu, tulisan ini saya dedikasikan untuk saya sendiri, dua dekade yang akan datang. Sembari menikmati kopi tubruk yang diseduh dengan cara konvensional dipagi hari, membaca berita di koran digital, di depan rumah yang menghadap jalan utama, melihat orang hilir mudik terburu-buru karena takut telat sampai di kantornya. Usia kepala empat yang menyenangkan. Semoga.
Musim mudik tahun ini, saya memilih pulang tanpa menitipkan tubuh pada rangkaian gerbong panjang, pada bis yang bergoyang, atau pada burung besar yang tidak pernah mengepakkan sayap. Saya memilih jalur mandiri, jalur yang mengkombinasikan raga dan pikiran untuk tetap fokus ke jalan. Agar otak memberi perintah pada kaki dan tangan, supaya tidak tarik gas dan injak rem dalam waktu berbarengan. Agar ada bokong yang panas, ada hati yang menggerutu karena jalan yang berlubang. Agar ada emosi yang timbul saat angkot menurunkan penumpang sembarangan. Lalu istighfar, karena terlalu banyak konsimsi agar-agar tidaklah baik.
Saya menggunakan sepeda motor untuk pulang ke Lampung dari Jogja. Sebetulnya saya sedikit skeptis bisa sampai di rumah atau tidak. Tubuh saya bisa sampai, mungkin tidak dengan motornya. Entah dijual di jalan, mogok karena rantai yang tak mau lagi bergandengan, ban pecah, busi mati, mesin lepas, atau tragedi lain yang bisa saja terjadi meski saya tidak mau. Maklum motor tua. Usianya sudah masuk kepala tiga, bukan lagi umur prima untuk diajak jalan-jalan jauh. Sekalinya batuk, mretel. Untuk mengantisipasi hal-hal buruk terjadi, sebelum berangkat, ada satu ritual sakral yang saya lakukan. Saya usap speedometernya, lalu saya bisikan dengan lirih tepat di spion kanan. Jangan kecewain adek ya, mbah.
Memulai perjalanan saat matahari sedang merah-merahnya. Seperempat jam sebelum magrib berkumandang. Sengaja saya melakukan perjalanan saat petang,karena saat tiba buka puasa jalanan lebih lenggang. Jadi, menuju etape pertama, saya bisa siksa motor Win keluaran tahun 89' dengan liar. Gas sekencang-kencangnya. Andai kata njeblug, Jogja belum begitu jauh. Saya bisa mengklaim garansi yang mereka berikan saat servis terakhir sebelum pulang.
Etape pertama saya memilih Kebumen, 125 km dari Jogja. Umumnya bisa ditempuh dalam tiga jam jika jalan normal. Sayangnya tidak. Jalannya memang normal, tidak macet. Motor juga tidak merengek sama sekali. Masalahnya ada pada saya. Setelah melewati Wates, harusnya saya tetap lurus ke barat, arah Alun-alun Kutoarjo. Berhubung ingatan saya tidak sebaik lumba-lumba, saya memasrahkan diri pada petunjuk jalan yang disediakan pemerintah. Di situ tertulis, Kebumen, dengan panah arah kiri. Orang bilang, kiri adalah simbol perlawanan, dengan dasar itu, intuisi mengajak saya untuk berbelok ke arah sana, melewari jalur truk yang waktu itu tidak ada, diliburkan karena jalurnya digunakan untuk lebaran.
Saya sudah belasan kali melewati rute ini, Jogja – Bandung, Jogja – Jakarta, Jogja – Tasik, terhitung sering karena saya lebih suka lewat selatan ketimbang jalur utara. Sedikit memutar lebih baik dari pada tidak pergi sama sekali. Dan tetap saja merasa awam, jauh dari kata hafal. Dari persimpangan lampu merah, saya melanjutkan perjalanan ke selatan dengan tenang, dengan penuh percaya diri, sebelum pukul sepuluh, saya sudah tiba di Kebumen, pikir saya saat itu.  Di persimpangan selanjutnya, saya dihadapkan dengan petunjuk arah lain, lurus Kebumen, kanan Kota. Dengan sedikit kebimbangan, saya pilih arah kota, menuju pusat Purworejo. Jika tadi kiri lebih baik, apa salahnya mencoba kanan. Intuisi sialan itu datang lagi.
Arah kota, ya, arah kota. Saya mencoba meyakinkan diri berulang-ulang. Sepenuhnya saya menggunakan feeling. Tanpa maps, tanpa petunjuk arah yang menyebutkan Kebumen menuju arah mana. Sementara hati kekeh akan sampai Kebumen, ternyata saya malah balik arah Jogja. Kelokan-kelokan tipis membuat saya disorientasi. Dan kebodohan belum berenti sampai di sini.
Kondisi lampu motor saya tidak mati, tapi kurang pantas jika dibilang hidup. Hanya sedikit lebih terang dari sentir angkringan. Aspal berlubang, aspal bagus, tidak ada bedanya. Sama hitam dari sorot lampu kuning dengan nyalanya yang tidak seberapa.
Perasaan ragu makin membuncah, keyakinan hilang, tidak semuanya, hanya sebagian. Sebagiannya lagi dilindungi perasaan gengsi untuk menepi. Roda terus berputar, jalan makin malam makin ramai. Ada sebuah tempat terang di ujung pandang nun jauh disana. Sebelum hancur, keyakinan datang lagi. Kali ini hadir dalam format utuh. Alun-alun Kutoarjo sudah sesak di pikiran saya. Semakin dekat, bukan bahagia yang saya dapat. Yogyakarta International Airport, tulisannya belum berubah, masih sama seperti saat saya lewat sebelumnya. Yang berubah hanya arah saya melihatnya, pertama dari lajur kiri, kedua dari lajur kanan, dan saya harus membuatnya kembali ke kiri untuk menjadikannya kali ketiga. Ternyata lampu benderang dari kejauhan yang saya lihat bukan alun-alun.
Sampai saat ini, saya masih bingung kenapa bisa sebegitu lalainya. Jarak yang saya tempuh juga cukup panjang, jauh. Harusnya saya tau jika salah arah. Pun saat berangkat, saya melewati jalan itu, paling tidak ada tanda kecil yang bisa saya ingat, barang gedung atau pohon. Namun tidak satupun waktu itu. Saya terus melaju, ikut jalan. Atau hal ini ada sangkut pautnya dengan ghaib? Menjelang lebaran, setan emang masih keliaran, ya?
Kebumen menyambut saya lima belas menit sebelum tengah malam, tepat enam jam dari jam awal kepergian. Mungkin lima jam saya berkendara, sisanya saya habiskan di depan tulisan Yogyakarta International Airport pada pertemuan ketiga. Melakukan renungan sambil menertawai diri sendiri, menikmati kebodohan, sekaligus membenarkan arah hadap. “Jika ingin kebarat, bandara sebelah kiri. Jika sudah kiri, terus saja. Boleh sesekali kanan, asal tetap ingat tujuan. Tidak lupa!” Gumam saya dalam hati.

Bersambung ...